Menelisik Lebih Jauh Proyek Meikarta, Mangkrak atau Tertunda?

Comments 843 Views Views


Menelisik Lebih Jauh Proyek Meikarta, Mangkrak atau Tertunda?

SIPerubahan - Lippo Group sedang menggarap pembangunan proyek Meikarta, sebuah kota baru di kawasan Cikarang, Jawa Barat, yang disebut oleh banyak orang menjadi proyek terbesar  perusahaan milik James Riady tersebut. Boleh dikatakan, Meikarta sejak pertengahan tahun 2017 lalu gaungnya sudah mulai terdengar dan menjadi pusat perhatian masyarakat luas. Iklan pun tersebar di mana-mana.

Namun, baru-baru ini proyek itu terganjal akibat beberapa masalah. Mulai dari isu sengketa lahan, tudingan adanya penjualan unit palsu, sampai tidak dibayarnya pekerja proyek Meikarta, dan lain-lain.

Menelisik ke belakang, beberapa proyek properti yang diinisiasi oleh Lippo Group, saat ini mulai mendapatkan cibiran masyarakat, bahkan dari media salah satunya Kompas yang cenderung netral. Salah satunya yakni Meikarta. CEO Lippo Group James Riady menerangkan, bahwa Cikarang berada di jantung pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Alasannya, di koridor Jakarta-Botabek-Bandung inilah 60 persen perekonomian Nasional berpusat. Tentu saja siapa yang ingin proyeknya dikatakan proyek sampingan. Semua proyek yang dirancang, tentu akan menjadi sebuah proyek yang dianggap terbaik.

“Ribuan perusahaan perusahaan raksasa nasional dan multi-nasional berbasis di koridor ini dengan ratusan ribu staf dan karyawan serta jutaan pekerja. Di sinilah pusatnya,” ujar James saat perkenalan publik proyek Meikarta di Jakarta, beberapa waktu yang lalu.

Bukan sekali ini saja kalimat-kalimat motivasi dari James Riady ini didengungkan. Sebelumnya, raksasa bisnis Lippo Group ini melansir proyek skala mencengangkan, yang hingga sekarang belum rampung. Lihat saja Millenium Village (MV) di Lippo Village Karawaci dengan taksiran proyek Rp 200 triliun.

Kembali lagi ke Proyek Meikarta, pada awal Lippor Group memasarkan Meikarta prosesnya memang sangat geemrlap. Kota baru Meikarta akan dibangun megah di kawasan Cikarang dengan nilai investasi mencapai Rp278 triliun. Angka yang sangat besar, kalau tidak bisa dikatakan penggelembungan (bubble) proyek yang sangat massif.

Teori bubble economy coba diterapkan dalam proyek ini. Dikatakan bubble, karena memang kemampuan riil Lippo Group tidak sebesar itu. Artinya, untuk merealisasikan proyek itu, Lippo Group akan mengundang partner sebanyak-banyaknya. Bisa juga bubble adalah sebuah harapan kapitalisasi pasar Meikarta jika semua investor masuk mencapai Rp278 triliun.

Target Lippo, anggaran Rp278 triliun itu bisa menggandeng kerjasama dari Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Taiwan dan banyak lagi. Ditambah pendanaan dari setiap pembeli yang mempercayakan kepada Lippo.

CEO Lippo Group James Riady menyatakan pembangunan kota Meikarta ini melibatkan banyak mitra bisnis. Langkah ini sebagai strategi pendanaan Lippo dalam merealisasikan pembangunan yang direncanakan. Menurut ia, 35 persen porsi pendanaan berasal dari kas Lippo. Sedangkan sisanya dari kerja sama dengan mitra bisnis baik dalam maupun luar negeri.

Ada 120 perusahaan yang bermitra dengan Lippo, 30-40 kontraktor, 20-30 partner dari luar negeri seperti Mitsubishi, Toyota. Mitsubishi berminat bangun 1.000 unit, tapi desainnya khusus lebih ke Jepang. Toyota juga, ingin desain khusus.

Untuk merealisasikan kota baru Meikarta, dibutuhkan lahan 2.200 hektar. Yang mana di dalamnya akan dibangun 250.000 unit apartemen, fasilitas umum, hunian komersial, rumah sakit, sekolah, mall, hingga fasilitas pendukung lainnya.

Karena itu, diperlukan marketing yang besar-besaran, konon Lippo sudah mengeluarkan biaya iklan, promosi dan advetorial sedikitnya Rp1,5 triliun. Namun yang direkomendasikan Pemprov Jawa Barat untuk dapat dikeluarkan izinnya hanya 84,6 hektar saja. Itupun lahan yang memang sejak lama dikuasai PT Lippo Cikarang Tbk. Praktis tidak ada tambahan izin baru, karena menurut  Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar, lahan seluas yang diharapkan Lippo memang tidak pernah ada.

Penjelasan Proyek Meikarta Dikabarkan Berhenti

Walaupun pengerjaan proyek terhenti, namun pihak marketing masih bekerja seperti biasa untuk menawarkan unit-unit yang masih tersedia, kepada para pelanggan yang datang.

Dari investasi media, ketika ditanya terkait pengerjaan proyek yang terhenti, pihak marketing Meikarta beralasan pemberhentian proyek karena akan menyambut Ramadan, sambil menunggu hasil audit dari pihak internal Lippo Group sendiri yang sudah berjalan kurang lebih satu bulan.

"Kalau pembangunan ini kan lagi ada audit mas dan mendekati puasa banyak karyawan (pekerja bangunan) yang lagi pada pulang (kampung)," ujar ‘P’ kepada wartawan, di kantor pemasaran Meikarta, Cikarang, Jawa Barat, Selasa (08/05/2018) lalu.

‘P’ menerangkan bahwa proyek yang masih berlanjut pengerjaannya saat ini yaitu proyek Orange Country, yang memang sudah terlihat aspek infrastruktur, karena sudah membentuk bangunan menjulang tinggi, ketimbang bangunan Meikarta lainnya yang masih dalam pembentukan pondasi. "Tapi yang masih diteruskan pengerjaannya itu yang CBD nya sih," terang ‘P’.

Orange Country merupakan kawasan Central Business District (CBD) yang akan menunjang mobilitas pemilik hunian di Meikarta, yang direncanakan sebagai pusat bisnis yang terdiri dari perkantoran dan pusat perbankan. Letak Orange Country sendiri persis berada di bagian depan pintu masuk, dekat dengan pintu gerbang Tol Cibatu.

‘P’ juga menceritakan proyek Meikarta mandek sejak kurang lebih satu bulan yang lalu. "Sudah satu bulanan lah terhenti," terang dia.

Saham Lippo Berguguran

Sepanjang kurun waktu  2017, saham emiten ritel Lippo Group, PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) merosot 63,35 persen. Saham PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) terpangkas 26,94 persen.

Tak hanya ritel, saham properti Grup Lippo pun menyusut. Saham PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) terkoreksi 34,42 persen dan saham PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK) merosot 31,68 persen.

Analis Mirae Asset Sekuritas Taye Shie menerangkan, bahwa penurunan ini sebagian besar disebabkan faktor sektoral yang juga terkoreksi tajam. Perlambatan konsumsi dan aliran uang ke perbankan secara kolektif menjadikan sektor properti dan ritel berada di fase ‘underperform’.

Analis Binaartha Parama Sekuritas Muhammad Nafan Aji tak menampik ada beberapa hal yang menekan prospek Lippo Grpup. Seperti, penurunan peringkat utang Lippo Karawaci.

Bahkan, Fitch Ratings pernah menurunkan peringkat surat utang Lippo Karawaci menjadi B+ dari sebelumnya BB-. Ini menggambarkan penurunan arus kas yang signifikan dari penjualan properti, seiring keputusan Lippo Group mendivestasikan porsi saham di proyek Meikarta melalui Lippo Cikarang.

Fitch menyebut, pada 31 Januari lalu, PT Mahkota Sentosa Utama, anak usaha Lippo Cikarang yang membawahi Meikarta, telah menerima uang muka penjualan saham senilai Rp2,5 triliun dari investor eksternal. Ini menjadi bagian dari total penjualan proyek Rp4 triliun.

Jika penjualan sudah selesai, porsi saham Lippo di proyek ini akan turun jadi 27 persen dari 54 persen, demikian Hasira De Silva dan Robin Sutanto, analis Fitch Ratings dalam keterangannya beberapa waktu yang lalu.

Mungkin akan lain ceritanya jika sejak awal Lippo Group menempuh modus administrasi yang lazim. Mengurus IMB, Amdal, rekomendasi sesuai dengan kapasitasnya. Pertanyaannya apakah ini pertanda berakhirnya mega proyek Meikarta? Atau mega proyek Meikarta berjalan apa adanya? Atau justru sengaja mundur selangkah karena maraknya tahun politik 2018 dan 2019,  untuk kemudian maju lagi seribu langkah begitu ada formasi politik baru? (Dari Berbagai Sumber/ DBS).

Post a Comments
blog comments powered by Disqus