Program Kewirausahaan dan Digitalisasi untuk Kesejahteraan Petani

Comments 13 Views Views


Program Kewirausahaan dan Digitalisasi untuk Kesejahteraan Petani

SIPerubahan - Kementerian BUMN bersama sejumlah perusahaan milik pemerintah membentuk program Kewirausahaan Pertanian dan Digitalisasi Pertanian untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

Program yang sudah diluncurkan oleh Presiden Joko Widodo pada 7 Juni 2018 lalu ini diimplementasikan di sembilan kabupaten di Jawa Barat. Di antaranya Indramayu, Karawang, Purwakarta, Majalengka, Sumedang, Cianjur, Garut, Ciamis, dan Tasikmalaya.

Deputi Bidang Usaha Industri Agro dan Farmasi Kementerian BUMN Wahyu Kuncoro menyebutkan, program kewirausahaan serta digitalisasi pertanian ini diharapkan dapat meningkatkan posisi tawar bagi para petani, dari hanya sebagai penggarap lahan yang tidak memiliki akses pasar dan kendali pada harga produksi, menjadi pemilik bersama atas entitas bisnis dengan model bisnis yang memberikan keuntungan maksimal bagi para petani.

"Sejauh ini, tahap-tahap awal yang menjadi kunci program Kewirausahaan Pertanian telah diwujudkan dalam bentuk piloting berupa entitas-entitas bisnis PT Mitra BUMDES Bersama (MBB) berbasis kerjasama komunitas di sebelas kecamatan dalam sembilan kabupaten,” demikian tutur Wahyu Kuncoro, Senin (09/07/2018).

Adapun peresmian program tersebut dilaksanakan di Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Tercatat, lebih dari 7.000 petani di Sliyeg telah dilibatkan dalam program ini.

Untuk memungkinkan penyerapan beras petani dengan harga yang baik, MBB Sliyeg telah membangun Sentra Pengolahan Beras Terpadu (SPBT) Sliyeg di desa Majasari yang dilengkapi dengan mesin pengering berkapasitas 30 ton per siklus, mesin penggiling berkapasitas tiga ton gabah per jam dan mesin pengemasan berkapasitas 4 ton beras per jam.

Salah satu arahan presiden kala meresmikan program tersebut yaitu kewirausahaan pertanian harus mempunyai skala yang besar untuk memastikan efektivitas dan nilai tambah bagi petani sehingga petani dapat merasakan manfaat nyata dari program tersebut. Presiden pun akan terus memantau program ini selama enam bulan. Apabila berhasil, program ini akan diangkat menjadi program nasional.

Program Kewirausahaan dan Digitalisasi Pertanian ini didukung oleh sinergi sejumlah BUMN. Misalnya, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, PT Pupuk Indonesia (Persero), Bank BTN, Bank BNI, Bank BRI, Bank Mandiri, Perum Bulog, RNI, Askrindo, Jasindo, Pertani, Sang Hyang Seri, Pegadaian, Permodalan Nasional Madani (PNM), Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) dan Mitra BUMDes Bersama (MBB).

Proses edukasi dan sosialisasi sistem digital pertanian akan terus dilakukan hingga September 2018. Kemudian, pada Oktober dan November diharapkan proses pengalihan pola petani menjual gabah menjadi petani menjual beras sudah bisa terjadi pada panen raya di Sliyeg.

Post a Comments
blog comments powered by Disqus