Momen Tepat Ganti Waralaba AS dengan Kuliner Khas Indonesia di Rest Area

Comments 48 Views Views


Momen Tepat Ganti Waralaba AS dengan Kuliner Khas Indonesia di Rest Area

SIPerubahan - Presiden Joko Widodo meresmikan jalan Tol Solo-Ngawi segmen Kartasura-Sragen sepanjang 35,2 Kilometer (Km). Diharapkan, pengoperasian jalan tol ini akan menjadi konektivitas baru yang berdampak positif bagi ekonomi daerah dan nasional. Di kesempatan yang sama, Jokowi mengimbau agar di setiap rest area menyajikan warung makan atau cemilan khas kuliner Tanah Air.

"Saya minta di setiap rest area, jualannya bukan McD [McDonald], bukan Kentucky, bukan Starbucks (ketiganya waralaba asal AS). Harus semuanya diganti sate, soto, kambing guling, gudeg," demikian kata Presiden Joko Widodo seusai meresmikan jalan tol Sragen—Kartasura di Solo, Minggu (15/07/2018).

Tiga bulan sejak terbitnya aturan yang mewajibkan badan usaha jalan tol untuk mengalokasikan besaran tempat istirahat (rest area) sebesar 20%—30% dari total kawasan kepada unit usaha mikro, kecil, dan koperasi, Kepala Negara mengajak pelaku usaha kecil untuk mulai ‘menyerbu’ kesempatan tersebut.

Presiden berharap agar titik-titik yang terdapat kegiatan ekonomi tidak hanya diisi oleh produk merek-merek asing. Salah satu yang jadi contohnya yaitu kegiatan perdagangan di tempat istirahat sehingga yang namanya batik dan telur asin bisa dijual di sana.

“Makanannya yang tadi. Kalau minum ya, jangan Starbucks, tapi wedang ronde, saya kira bisa dijual di rest area. Ini harus kita mulai, jangan sampe ada suara-suara 'Pak, jualan telur asin omzetnya anjlok'," tutur Jokowi di Gerbang Tol Ngemplak, Solo, Jawa Tengah.

Jokowi memastikan, Kementerian BUMN dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat akan bekerja sama dengan pemerintah kabupaten dan kota untuk menyisir potensi produk lokal yang pada akhirnya diharapkan dapat menggerakkan ekonomi wilayah sekitar tempat peristirahatan di jalur jalan tol.

Kebijakan yang mengakomodasi suara usaha kecil tersebut telah ditandatangani oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono melalui Peraturan Nomor 10/PRT/M/2018 tentang Tempat Istirahat dan Pelayanan pada Jalan Tol sejak April lalu.

Dasar kebijakan tersebut bermula dari banyaknya keluhan usaha mikro yang merasa terpinggirkan karena masifnya pembangunan jalan tol di Indonesia sehingga membuat pendapatan yang diperoleh dari bisnis di sekitar jalan tol sebelumnya hilang.

Dengan adanya kebijakan itu, badan usaha jalan tol (BUJT) mengalokasikan sedikitnya 30 persen total luas lahan area komersial tempat istirahat untuk bisnis mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan koperasi pada jalan tol yang masih dalam tahap perencanaan dan konstruksi.

Sementara itu, untuk jalan tol yang sudah beroperasi, BUJT diminta supaya mengalokasikan sedikitnya 20 persen dari total luas lahan area komersial secara bertahap untuk UMKM dan koperasi.

Selain itu, jelas disebutkan dalam beleid bahwa pengusahaan tempat istirahat dan pelayanan (TIP) harus memberi kemudahan usaha dan keringanan bagi UMKM dan koperasi dalam bentuk bagi hasil.

Dengan catatan, UMKM dan koperasi yang ingin berpartisipasi tersebut wajib memiliki izih usaha mikro kecil (IUMK) dari pemerintah daerah. Pemberian kemudahan usaha juga dilakukan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

Di tempat yang sama, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono menyatakan harapannya agar wali kota, bupati, dan gubernur dapat membantu alokasi pemanfaatan wilayah jalan tol kepada UMKM.

“Nanti akan kami dorong juga untuk mengerjakan lahan-lahan rest area bersama dengan BUJT sesuai dengan arahan Presiden untuk dapat memanfaatkan kawasan ini,” ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) mengharapkan agar pemerintah tetap memberi perhatian penuh terhadap implementasi aturan ini. Terutama, perihal harga sewa yang ditawarkan agar sesuai dengan kantong UMKM.

Selain itu, potensi UMKM dicurangi oleh permainan perusahaan besar yang me-booking sewa kios dan kemudian disewakan kembali kepada UMKM dengan harga selangit harus dihilangkan. (Sumber: Antara/ Foto: Kompas).

Post a Comments
blog comments powered by Disqus