Asian Games 2018, Peluang Global Bagi UMKM Lokal Raih Keuntungan Besar

Comments 32 Views Views


Asian Games 2018, Peluang Global Bagi UMKM Lokal Raih Keuntungan Besar

SIPerubahan - Kedatangan belasan ribu tamu ke Indonesia dalam Asian Games 2018 menjadi peluang tersendiri bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) nasional. Harapannya, tentu saja produk yang dijual bisa laris manis diserbu turis mancanegara. Tak hanya UMKM yang bergerak di sektor kuliner, tapi juga suvenir, aksesoris, dan pakaian.

Presiden Joko Widodo juga telah mengamanatkan Indonesia Asian Games 2018 Organizing Committee (Inasgoc) untuk mengakomodir UMKM. Secara keseluruhan, Inasgoc menyebutkan terdapat lebih dari 400 UMKM yang bermitra dengan mereka. Dari jumlah tersebut, 17 perusahaan mempunyai lisensi untuk membuat produk khusus khas Asian Games 2018 dan 15 di antaranya perusahaan dalam negeri.

Beberapa UMKM itu seperti Cahaya Natural Botanical yaitu produsen produk perawatan tubuh, Karya Du’Anyam yang memproduksi aksesoris dan keperluan rumah dari anyaman Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Brodo Ganesha Indonesia yang memproduksi sepatu.

Ada pula Caseoutfit yang memproduksi casing ponsel dan pop socket serta Famili Eden Figurine yang membuat figurine tiga dimensi (3D). Pendiri dan CEO Cahaya Natural Botanical Amadeus Pribowo mengungkapkan Asian Games 2018 menjadi momen untuk memperkenalkan produk-produk mereka ke masyarakat lokal dan internasional.

“Berbekal produk yang berkualitas dengan harga terjangkau, kami yakin bisa bersaing baik di pasar lokal maupun internasional,” tuturnya.

Ada beberapa tahapan yang harus dilewati oleh UMKM. Secara umum, panitia menilai keunikan produk, kualitas, desain, dan penyediaan secara kuantitas, serta kemampuan distribusi. Tentunya hal-hal tersebut sangat penting karena ini merupakan ajang skala internasional.

“Ada aturan seperti penempatan logo dan maskot. Mereka harus mengikuti ketentuan yang berlaku. Mereka yang berlisensi berhak menyematkan logo Asian Games atau maskot di produk,” ungkap Direktur Merchandise Inasgoc Mochtar Sarman.

Sementara itu, Managing Director Famili Eden Indonesia Anastasia Alice Dharmawan mengatakan perusahaannya akan menyuguhkan 3D figurine tiga maskot Asian Games 2018 yakni Kaka, Bhin Bhin, dan Atung. Ketiga maskot itu akan berpose dengan berbagai gaya yang disesuaikan dengan cabang olahraga yang dipertandingkan.

“Kami menggunakan material yang biasa disebut sandstone yang lebih kuat dari material gurine lain seperti plastik. Dengan teknologi yang kami miliki, hampir semua benda bisa dibuat dalam bentuk gurine, termasuk manusia dengan presisi yang sangat detail,” urainya melanjutkan.

Di Palembang, anggota Komunitas Wirausaha Muda Kampung (Kowum) Kain Tenun Tuan Kentang Athoilah mengungkapkan terjadi peningkatan pesanan kain selama 3-4 bulan terakhir.

Pengrajin di sentra kain tenun Tuan Kentang mayoritas menjual kain setengah jadi atau bukan produk fesyen. Banjir pesanan datang dari produsen produk berbahan kain khas Palembang tersebut. “Kebanyakan butik-butik yang ramai pesan untuk stok persiapan Asian Games,” jelasnya.

Saking banyaknya order, kain yang belum selesai dikerjakan pun sudah ditunggu pemesan. Ketua Umum Inasgoc Erick Thohir mengungkapkan, pihaknya selalu mengingatkan UMKM mitra untuk membuat produk jangka panjang. Para pelaku bisnis diimbau untuk tidak memproduksi barang-barang yang terkait dengan Asian Games 2018, karena terlalu banyak.

“Jadi, setiap presentasi kami ingatkan supaya mereka juga ikut menjual produk-produk unggulan mereka. Kalau mau yang ada logo Asian Games-nya jangan banyak-banyak karena takutnya tidak habis terjual, kan kasihan,” paparnya menginformasikan.

Rencananya, Inasgoc akan mengusung konsep festival dalam memfasilitasi UMKM yang berjualan di sekitar venue dan wisma atlet. Dengan demikian, pengunjung bisa berbelanja sambil menikmati hiburan sehingga suasananya pun lebih nyaman.

Capai Potensi Rp237 Miliar

Ekonom Institute for Development Economic and Finance (Indef) Bhima Yudhistira memproyeksi nilai pembelanjaan para atlet, ofisial, serta tamu-tamu lainnya yang datang dapat mencapai Rp237 miliar.

Angka itu dihitung dari perkiraan datangnya 33.000 orang (atlet, ofisial, tamu-tamu lain) dan pengeluaran mereka selama di Tanah Air. Jika tiap orang menghabiskan 500 dolar AS (atau sekitar Rp6 juta), maka totalnya menjadi 16,5 juta dolar AS (atau setara dengan Rp237 miliar).

“Kalau kita kalkulasi, semisal 10 persen saja dari Rp237 miliar itu dikeluarkan untuk berbelanja kepada UMKM, artinya ada potensi sekitar Rp23 miliar yang akan mengalir kepada UMKM di Jakarta dan di Palembang,” jelasnya.

Asumsi itu bisa tercapai jika kondisi keamanan Indonesia stabil, sehingga para atlet dan tamu lainnya banyak menghabiskan waktu berjalan-jalan ke luar hotel ataupun berlibur ke daerah lain di Indonesia. Belum lagi oleh-oleh yang mungkin dibawa pulang para tamu untuk keluarga atau teman-temannya di negara asal.

Jika melihat harga merchandise yang tersedia di laman resmi Inasgoc, harganya berkisar Rp30.000-Rp1,3 juta. Mulai dari gantungan kunci, kemeja, bantal, tas, hingga botol air minum dan figurine. Adapun Kementerian Koperasi dan UKM mengaku memfasilitasi 20 Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (KUMKM) dalam bentuk stand di Sumatera Selatan Expo 2018, yang digelar pada 16-25 Agustus 2018.

Produk yang dijajakan di antaranya songket, kerajinan tangan, souvenir, aksesoris, dan kopi. Nilai transaksinya diharapkan menyentuh Rp500 juta. Lembaga Layanan Pemasaran (LLP) KUKM, pengelola Smesco Indonesia, juga terdaftar sebagai salah satu destinasi wisata belanja bersama mal Grand Indonesia, Senayan City, dan Plaza Senayan untuk kunjungan terjadwal atau city tour bagi 19.000 anggota kontingen Asian Games 2018.

Dari sisi Pemerintah Daerah (Pemda), Dinas Koperasi dan UKM DKI Jakarta memfasilitasi 120 booth di area GBK untuk dimanfaatkan UKM mitra binaan Smesco Indonesia selama Asian Games 2018 berlangsung.

Belum Seluruh UMKM

Tapi, kondisi itu tampaknya tidak dirasakan oleh semua UMKM di kota penyelenggara. Gabungan Pengusaha Handycraft, Makanan, dan Minuman (Gapehamm) Sumatra Selatan (Sumsel) menyebut tidak ada satu pun dari 250 anggota mereka yang kebagian pesanan souvenir Asian Games 2018.

Ketua Gapehamm Sumsel Komariah menerangkan pihaknya sudah berkoordinasi dengan pemerintah daerah terkait keterlibatan UMKM untuk pesta olahraga terbesar di Asia itu. “Tidak ada tawaran dari Inasgoc. Kami, pelaku UMKM di Palembang, seolah jadi penonton saja padahal Palembang tuan rumah, kesannya yang dapat (pesanan souvenir) hanya (pelaku bisnis) besar saja,” ungkapnya.

Menurut Komariah, Pemda setempat pun mengaku tak bisa berbuat banyak karena Inasgoc lah yang mengatur. “Kami ini hanya menunggu, seharusnya pemerintah yang bergerak mencari peluang tersebut. Ini kalau kami pasang logo Asian Games tanpa izin, nanti kena sanksi,” katanya lagi.

Memang, Pemda Sumsel berupaya memberi ruang untuk pelaku UMKM menjual produk dengan menggelar sejumlah pameran saat Asian Games di beberapa titik. Seperti di Dekranasda Jakabaring, Taman Bawah Jembatan Ampera, bahkan di mal. Walaupun terdapat fasilitas sewa stand gratis saat pameran bagi UMKM, namun kondisinya disebut sama seperti pameran biasa dan tidak ada jaminan apakah para peserta Asian Games pasti membeli produk mereka.

Sementara itu, jika ingin berjualan di JSC, pelaku usaha harus membayar sewa. Senada, Asosiasi UKM-IKM Nusantara Palembang menyebutkan Inasgoc hanya memberikan penawaran sewa stand di beberapa venue yang ada di JSC. Harga stand bervariasi dan tidak ada perjanjian pemesanan dari Inasgoc. Untuk kerajinan tangan ongkos sewanya Rp5 juta, sedangkan kuliner Rp30 juta.

Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) pun berharap pemerintah mengevaluasi kembali harga stand untuk UMKM karena dinilai cukup tinggi. "Ternyata sambutannya tidak seperti yang diberitakan gembar gembor UMKM, karena harga stand pameran sangat mahal, dengan ukuran 3x3 meter harganya Rp1 juta per hari," ujar Ketua Akumindo M. Ikhsan Ingratubun mengeluhkan.

Akumindo mencontohkan harga stand tenda kerucut di Palembang untuk 10 hari dengan lokasi di luar ruangan yaitu Rp10 juta. "Untuk lokasi petak-petak dan di dalam ruang ber-AC selama 15 hari, harganya Rp15 juta. Secara umum ternyata harga sewa stand bukanlah harga UMKM tapi harga pengusaha besar," ucapnya. (Sumber: Harian Bisnis Indonesia).

Post a Comments
blog comments powered by Disqus