Merosot Tajamnya Mata Uang Turki Berdampak dengan Ekonomi Indonesia?

Comments 86 Views Views


Merosot Tajamnya Mata Uang Turki Berdampak dengan Ekonomi Indonesia?

SIPerubahan - Menteri Keuangan Sri Mulyani menilai, dampak dari kekhawatiran krisis ekonomi Turki yang menyebabkan penurunan mata uang lira masih sebatas persepsi. Kementerian Keuangan akan terus berkoordinasi dengan Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan untuk menjaga stabilitas nilai rupiah.

"Kami harus waspada, terutama kalau pengaruhnya terhadap sentimen," demikian kata Sri Mulyani, di Tangerang, Senin (13/08/2018).

Mantan direktur pelaksana Bank Dunia tersebut menjelaskan, Kemenkeu akan memantau perkembangan ekonomi di Turki secara hati-hati. Menurut ia, situasi di Turki tidak hanya menyangkut masalah finansial, namun juga keamanan dan politik tingkat global.

"Sebagai negara G-20, tentu ini akan memberikan pengaruh terhadap ekonomi global. Walaupun ukurannya masih di bawah 1 triliun dolar AS, namun Turki posisi strategisnya besar," jelas Sri Mulyani.

Mata uang lira jatuh lebih dari 40 persen tahun ini menyusul kekhawatiran peningkatan kontrol ekonomi oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan serta memburuknya hubungan dengan Amerika Serikat.

Sementara itu nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin pagi bergerak melemah 157 poin menjadi Rp14.643 dibanding sebelumnya Rp14.486 per dolar AS.

Turki Terancam Krisis Keuangan

Terpisah, Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih memaparkan, Turki terancam krisis keuangan. "Nilai tukar lira Turki mencatatkan depresiasi tajam. Efek Turki ini dikawatirkan membuat mata uang dolar AS menguat dan sebaliknya merging markets lain termasuk rupiah akan melemah," urainya melanjutkan.

Sementara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyebutkan, jatuhnya mata uang Turki (lira) dipicu oleh perselisihan sengit dengan Amerika Serikat (AS). Ia mengatakan, itu merupakan skenario politik AS karena nilai tukar lira jatuh usai AS mengeluarkan sanksi politik.

"Tujuan operasi itu adalah untuk membuat Turki menyerah di semua bidang, dari keuangan hingga politik," kata Erdogan kepada para anggota partai yang berkuasa di kota Laut Hitam, Trabzon, Senin (13/08/2018) waktu setempat.

Masih dari penuturan Erdogan, Turki saat ini sudah saatnya mencari pasar dan mitra baru. "Kami sekali lagi menghadapi plot politik, di bawah tangan. Dengan izin Tuhan kami akan mengatasi ini," ujarnya.

Kilas Balik Melemahnya Ekonomi Turki

Penurunan mata uang Lira dan kemungkinan negara itu membutuhkan bailout telah mendorong eksodus investor di Turki. Lira memang telah jatuh ke rekor terendah baru sebesar 7,24 terhadap dolar AS selama perdagangan Asia Pasifik, Senin (13/08/2018) pagi.

Pelemahan Lira juga mengalami efek yang luar biasa keluar. Harga saham bank-bank Eropa, yang telah menjadi pemberi pinjaman besar untuk Turki turun tajam pada Jumat (10/08/2018), karena investor khawatir dengan adanya gelombang kebangkrutan pada perusahaan di Turki

Mereka khawatir bahwa hal itu akan menyebabkan perbankan di Turki gagal membayar utang. Mata uang Tiongkok, Brasil, dan Meksiko juga melemah. Sementara di Amerika Serikat, indeks pasar saham utama turun lebih dari satu persen sebelum sedikit pulih.

Sebelumnya Tim Lee, analis ekonomi dari GT Management Inggris, telah memprediksikan hingga satu dekade mendatang perusahaan Turki dan pengembang real estate yang menikmati utang luar negeri yang murah akan berakhir buruk, tidak hanya untuk Turki tetapi untuk dunia.

Menjelang akhir tahun 2011, Tim Lee memperkirakan, Turki akan membutuhkan bailout 100 miliar dolar AS. Alasannya, menurut ia, pada saat itu, bank-bank sentral di seluruh dunia memompa utang ke dalam ekonomi mereka, dan berjuang untuk memulihkan diri dari krisis keuangan 2007-2012.

Lee melihat, bank-bank Turki meminjam dalam dolar untuk memberikan pinjaman lain kepada perusahaan Turki yang sedang berkembang. Dia juga melihat bahwa, secara keseluruhan, ekonomi Turki semakin bergantung pada pembiayaan dari investor asing.

Salah satu efek samping suntikan pinjaman dengan triliunan uang dolar AS yang mengalir di bank-bank sentral, membuat  pemerintah dan perusahaan di negara-negara berkembang seperti Turki untuk meminjam uang dalam dolar --dibandingkan dengan mata uang mereka sendiri-- untuk membiayai investasi mereka atau rencana pertumbuhan lainnya.

Berdasarkan Institute of International Finance, kelompok perbankan telah mencatatkan utang dalam mata uang asing sebanyak 5,5 triliun dolar AS. Ini merupakan hutang terbanyak dan masuk dalam rekor negara Turki. Ini membuktikan bahwa Turki bergantung pada utang mata uang asing lebih dari negara berkembang lainnya.

Utang perusahaan, keuangan dan utang lainnya dalam mata uang asing, sebagian besar dalam dolar yang mewakili sekitar 70 persen dari ekonomi Turki.  Namun menurut I.I.F. Perusahaan-perusahaan Turki dan pengembang real estat menggunakan pinjaman dolar untuk membayar pabrik-pabrik baru, pusat perbelanjaan dan gedung pencakar langit yang sekarang berada  Istanbul.

Ancamannya adalah ketika Lira kehilangan nilainya, akan menjadi lebih mahal bagi perusahaan Turki untuk membayar kembali pinjaman dalam denominasi dolar. Faktanya semakin banyak perusahaan di Turki sudah mengatakan mereka tidak dapat membayar kembali pinjaman ini. "Perusahaan di sana mengabaikan semua risiko dan terus meminjam dalam dolar AS," pungkas Mr. Lee. (Sumber: Kantor Berita Antara, AFP, New York Times).

Post a Comments
blog comments powered by Disqus