Airlangga Ajak Diaspora di Korea Implementasikan Revolusi Industri 4.0

Comments 130 Views Views


Airlangga Ajak Diaspora di Korea Implementasikan Revolusi Industri 4.0

SIPerubahan - Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian mengajak diaspora yang tergabung dalam Persatuan Pelajar Indonesia di Korea (Perpika) untuk ikut berkontribusi membangun perekonomian nasional, termasuk upaya pengembangan sektor industri manufaktur.

"Mereka memiliki peran strategis karena mengenyam pendidikan dan pengalaman bidang ilmu pengetahuan dan teknologi selama di Negeri Ginseng tersebut," demikian kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, dalam siaran persnya di Jakarta, belum lama ini.

Karena itu, diperlukan sinergi dan kolaborasi yang kuat. Terlebih lagi untuk mewujudkan visi dasar pembangunan industri nasional. Tujuannya untuk memperdalam struktur, meningkatkan daya saing di kancah global, dan berbasis terhadap inovasi.

Airlangga menyampaikan hal itu saat menjadi pembicara dalam Seminar Ikatan Alumni Perpika di Seoul, Sabtu petang (08/09/2018) waktu setempat.

Di hadapan lebih dari 50 peserta, Airlangga menyampaikan bahwa Presiden Joko Widodo sudah meluncurkan peta jalan Making Indonesia 4.0. Strategi ini menjadi agenda nasional sebagai sebuah kesiapan dalam mengimplementasikan revolusi industri generasi keempat.

Menurutnya, pembentukan strategi itu bertujuan untuk mendukung kinerja industri nasional di era digital, sehingga dapat memacu pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Aspirasi besar dari Making Indonesia 4.0 adalah menjadikan Indonesia dalam jajaran 10 negara dengan perekonomian terkuat di dunia pada tahun 2030 mendatang.

Peluang kerja sama antara pemerintah dengan diaspora, seperti dalam rangka pemenuhan kebutuhan sumber daya di bidang perindustrian nasional melalui kegiatan riset dan pemanfaatan teknologi terkini.

Selanjutnya Airlangga menjelaskan, salah satu langkah strategis dalam menerapkan roadmap Making Indonesia 4.0, yakni pembangunan infrastruktur digital serta ekosistem inovasi.

Hal itu diamini oleh Peter, diaspora yang turut hadir, menuturkan bahwa dunia memandang Asia akan menjadi pemimpin dalam penerapan teknologi digital. Ikonnya yang sudah muncul antara lain Jepang, Tiongkok, dan Korea. Namun, patut optimis bahwa Indonesia bisa mengarah ke Industri 4.0.

Maka yang terpenting, human investment. Pemerintah perlu lebih banyak mentransformasi desain kurikulum untuk pengembangan sumber daya manusia (SDM) sesuai kebutuhan dunia indutri saat ini. "Karena Korea sekarang berkembang karena culture of technology yang sudah begitu bagus," paparnya lagi.

Airlangga memaparkan, Indonesia sedang aktif mengambil peluang dalam perkembangan ekonomi digital atau industri 4.0. Terbukti dari tujuh unicorn di ASEAN, empat diantaranya perusahaan Indonesia.

"Kita punya market yang sangat besar, ini menjadi kuncinya. Dalam waktu lima tahun terakhir, perusahaan fintech global banyak masuk di Indonesia," katanya lagi.

Berkenaan upaya peningkatan kompetensi SDM, Airlangga menambahkan, Pemerintah Indonesia tengah gencar menjalankan program pendidikan dan pelatihan vokasi.

Antara lain, di Kementerian Perindustrian sudah melakukan perbaikan kurikulum kejuruan lebih dari 40 program studi, yang menerapkan 70 persen praktek dan 30 persen teori di dalam proses pembelajarannya.

"Jadi, diharapkan langkah ini memacu pendidikan teknologi dan permesinan bisa menjadi mainstream kembali," katanya lagi.

Peserta lainnya, Erik dari Politeknik Elektronika Negeri Surabaya yang sedang mengikuti kursus di Korea, mengharapkan pemerintah untuk dapat mendorong sinergi antara pihak akademisi dengan pelaku industri di Indonesia dalam merealisasikan industri 4.0.

"Karena industri di Indonesia hanya produksi, sedangkan risetnya di negara masing-masing," ujarnya menambahkan.

Airlangga melanjutkan, beberapa perusahaan global sudah membangun pusat penelitian dan pengembangan (RnD) di Indonesia. "Contohnya, Apple di Tangerang, kemudian Daihatsu di Karawang yang punya RnD center dan fasilitasnya lebih bagus daripada di Jepang, bahkan produknya juga dijual ke Jepang,” tuturnya.

Hal ini tidak terlepas dari peran pemerintah yang fokus pada pengembangan SDM dalam membangun ekosistem inovasi dan menciptakan iklim investasi yang kondusif.

Sementara itu, Adi yang sedang belajar di Seoul National University, meminta kepada pemerintah agar dapat menghilangkan birokrasi yang sulit untuk mempemudah investor berbisnis di Indonesia. Apalagi pemerintah tengah aktif menarik investasi guna memperbaiki struktural ekonomi nasional.

"Untuk investasi, saat ini sudah ada Online Single Submission (OSS). Jadi lebih mudah dan cepat. Bahkan, bagi mereka yang mau investasi di kawasan industri yang telah tersedia, pemerintah jamin tiga jam perizinannya selesai," tutup Airlangga. (dbs).

Post a Comments
blog comments powered by Disqus