Kisah Pengusaha Ali Banat Sumbangkan Seluruh Hartanya untuk Kaum Miskin

Comments 34 Views Views


Kisah Pengusaha Ali Banat Sumbangkan Seluruh Hartanya untuk Kaum Miskin

SIPerubahan - Pembicara di satu pengajian di Kota London Inggris pada awal Juni 2018 lalu menyebut nama Ali Banat yang ia katakan harus menjadi sumber inspirasi sekaligus pengingat bagi kaum muslim.

Ali Banat, nama yang ia sebut, adalah pengusaha sukses asal Sydney, Australia, yang menyumbangkan seluruh harta yang dimiliki untuk kaum miskin di Afrika. Langkah itu dilakukan Banat sebelum meninggal dunia pada 29 Mei 2018, tiga tahun setelah didiagnosis mengidap kanker stadium empat.

Di masa hidupnya, sebelum total menggeluti kegiatan sosial, Banat dikenal sebagai pebisnis yang berhasil, yang memungkinkannya untuk menjalani gaya hidup (lifestyle) yang mewah. Ia merupakan kolektor mobil, jam tangan, sepatu, topi, dan kacamata mahal.

Ia punya mobil sport seharga 600.000 dolar AS (atau sekitar Rp8,3 miliar) dan gelang 60.000 dolar AS ( atau sekitar  Rp833 juta). Keputusan drastis untuk menyerahkan kekayaan kepada kaum dhuafa diambil Banat setelah dokter mengatakan ia terkena kanker dan hanya punya waktu tujuh bulan untuk bertahan hidup.

Banat menyebut kanker yang menggerogoti seluruh tubuhnya sebagai hadiah dari Allah SWT. "Ini hadiah karena Allah SWT memberi kesempatan bagi saya untuk berubah...," ia tak kuasa menahan air mata saat menyampaikan jawaban ini melalui video yang diunggah ke YouTube.

Banat melanjutkan, bahwa kanker yang diderita membukakan matanya atas banyak hal di dunia ini.

Menuju Benua Hitam

Ia menyadari besarnya karunia ia terima, seperti menghirup udara secara gratis, sesuatu yang tak terlintas di benaknya selama ini.

"Begitu tahu saya terkena kanker, saya melepas koleksi mobil, jam tangan, bahkan pakaian. Saya bawa semua pakaian saya dan saya serahkan ke orang-orang yang memerlukan ketika saya bepergian ke luar negeri," tutur Banat.

"Saya ingin meninggalkan dunia tanpa satu pun harta benda," katanya lagi.

Ia mengatakan tak lagi punya keinginan untuk mengejar kenikmatan dunia. "Ketika seseorang mengatakan kepada kamu bahwa kamu sakit dan hanya punya waktu beberapa bulan untuk bertahan, mengejar kesenangan dunia akan menjadi prioritas yang paling akhir," jelas Banat.

Kemudian Banat kembali mengungkapkan harta dunia tak akan bermanfaat secara pribadi bagi seseorang yang divonis mati dalam beberapa bulan. "Bagi saya lebih utama membuat seorang anak di Afrika tersenyum bahagia ketimbang memiliki mobil mewah seharga miliaran," katanya.

Pasca melakoni perjalanan ke Afrika, Banat mendirikan yayasan sosial dengan tujuan mendirikan masjid, madrasah dan membantu para janda di benua tersebut.

Keputusan mendirikan yayasan juga dipicu ketika ia mengantarkan temannya yang meninggal dunia karena kanker. Ketika di pemakaman ia sadar betul bahwa setelah seseorang meninggal dunia, tak ada yang mendampingi di alam kubur. "Bahkan uang yang Anda punya, itu tidak akan Anda bawa," kata Banat.

Ia mengatakan satu-satunya yang akan dibawa adalah amal kebaikan selama di dunia.

Ingin Bertemu Tuhan

Dalam interview dengan kanal YouTube One Path, Banat menerangkan, bahwa  ia sudah ingin bertemu dengan Allah SWT. Pengalaman spiritual ini berawal ketika ia meminum obat untuk meringankan sakit dan ternyata sedikit melebihi dosis. Ia mengaku berada di alam lain dan melihat pemandangan yang sangat indah.

Dalam kondisi kritis tersebut ia dikelilingi seluruh anggota keluarga dan mereka mengatakan bahwa tiba-tiba saja ia mengeluarkan kalimat, "Allah, ambil aku sekarang."

Banat bisa melewati masa kritis ini namun ia mengaku kecewa. "Saya bangun keesokan harinya dan menyadari ternyata Allah SWT tak mengambil saya. Saya menjadi sedih."

Lembaga sosial yang ia dirikan sekarang menggalang dana melalui internet dan hingga hari Kamis (07/06/2018) telah terkumpul dana lebih dari 1,6 juta dolar AS atau (sekitar Rp22 miliar).

Dana yang dikumpulkan antara lain akan dipakai untuk membangun fasilitas pendidikan dan membantu warga miskin di sejumlah negara di Afrika, termasuk Togo, Burkina Faso, dan Ghana. (Sumber: BBC).

Post a Comments
blog comments powered by Disqus