Pakar Otomotif: Tidak Ada Mobil Diproduksi Konsumsi Premium

Comments 21 Views Views


Pakar Otomotif: Tidak Ada Mobil Diproduksi Konsumsi Premium

SIPerubahan - Pakar otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB) Tri Yuswidjajanto Zaenuria menjelaskan, sejak 2003 ketika Indonesia menerapkan standar emisi Euro 2, tidak ada mobil yang diproduksi untuk mengonsumsi BBM Ron 88.

Penerapan standar emisi Euro 2 di Indonesia yang mengacu terhadap Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No 141/2003 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor bertujuan mengendalikan pencemaran udara.

“Sejak 2003 ketika kita [Indonesia] menerapkan Euro 2 sudah nggak ada kendaraan yang cocok dengan Premium, sama sekali nggak ada yang cocok. Lihat aja spesifikasi bahan bakar Euro 2 nggak ada Ron 88, minimum Ron 91,” ujarnya belum lama ini.

Tri mengungkapkan, jika mobil keluaran produksi 2003 menggunakan Premium, maka kerja mesin tidak akan optimum sehingga merusak mesin. Selain itu, penggunaan Premium sudah melanggar ketentuan Euro 2.

“Waktu kasus tahun 2010 banyak mobil rusak karena saluran BBM berkerak, tidak ada pengguna Pertamax yang kena, hanya yang pakai Premium. Kemudian ribut, yang disalahin malah Pertamina,” katanya lagi.

Selain itu, penggunaan premium menimbulkan kerugian lingkungan yang sangat besar. Kualitas udara yang buruk menimbulkan beban kesehatan bagi masyarakat yang besar. Polusi mampu memicu penyakit kanker, paru-paru dan lainnya.

Masih dari penuturan Tri, penegakkan penggunaan BBM sesuai dengan spesifikasi mobil juga memerlukan bantuan pihak kepolisian. Alasannya, banyak pemilik kendaraan yang menurunkan spesifikasi mobilnya.

“Banyak yang men-downgrade mesinnya, misalnya konverternya dicabut, mobil pakai Premium. Mestinya di jalan ditilang yang seperti ini. Kemudian, setiap tahun ketika akan membayar pajak harus uji emisi, jika tidak lolos tidak bisa bayar pajak, seperti di luar negeri,” tuturnya.

Menurut Tri, bila pemerintah mau meningkatkan kesadaran lingkungan pada masyarakat, dibutuhkan penegakan hukum yang tegas. Dengan demikian, secara perlahan masyarakat akan menyadari pentingnya menjaga lingkungan.

Dalam kesempatan terpisah, Ketua klub mobil JazzFitChapter Medan Nafiz mengungkapkan penggunaan premium memang hanya  cocok untuk mobil yang diproduksi sebelum tahun 2000-an. Adapun mobil keluaran usai dianjurkan untuk setidaknya menggunakan pertalite.

"Jadi kalau menurut saya, mobil yang sudah menggunakan injeksi lebih baik pertalite ke atas," tuturnya.

Walaupun tidak ada kerugian jangka pendek yang ditimbulkan akibat penggunaan premium, berbeda halnya untuk penggunaan jangka panjang. Konsumsi premium oleh mobil bermesin injeksi akan berdampak terhadap penurunan tenaga mobil dalam jangka panjang.

Pasalnya, premium lebih cepat meninggalkan kerak hitam pada ruang mesin mobil. Hal inilah yang kemudian membuat turunnya performa atau tenaga. Sementara penggunaan pertamax, di sisi lain hanya meninggalkan warnanya yang biru.

Selain itu, kendati harga pertalite dan pertamax lebih tinggi dibanding premiym, hal ini diimbangi dengan jarak jelajah yang juga lebih jauh.

Nafiz memberikan contoh, per 10 liter premium bisa menjelajah hingga 100 kilometer (km) maka diprediksi dengan volume yang sama pertalite dan pertamax masing-masing bisa menempuh 110 km serta 120 kilometer.

Post a Comments
blog comments powered by Disqus