Catat! Ini Aturan Baru Pelaksanaan Haji 2018

Comments 196 Views Views


Catat! Ini Aturan Baru Pelaksanaan Haji 2018

SIPerubahan - Ada sejumlah pembaruan peraturan dari Kementerian Agama dalam meningkatkan mutu pelayanan terhadap jemaah Haji di tahun 2018. Setidaknya ada lima hal baru.

Pertama, calon jemaah Haji di Indonesia saat ini tak lagi harus mengantri selama berjam-jam untuk mengurus administrasi imigrasi setibanya di bandara Jeddah maupun bandara Madinah. Proses pengambilan data 10 sidik jari dan biometrik dapat dilakukan di Asrama Haji.

"Jadi sidik jari 10 jari, biometrik dan hal-hal lain yang berkaitan dengan dokumentasi pengurusan dokumen perjalanan sudah bisa dilakukan di Asrama Haji di Tanah Air, sehingga ketika mereka di Saudi Arabia, mereka tinggal mengecap paspor mereka dan finger print satu sidik jari saja. Sehingga lebih efisien," terang Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dalam keterangannya ketika membuka ‘Pelatihan Petugas Haji 2018’ di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta Timur, Senin (28/05/2018).

Kedua, Kemenag menambah porsi makan bagi jemaah selama di Makkah. Jatah makan jemaah selama berada di Makkah ditambah 15 kali, jadi total 40 kali makan. Pada tahun 2017, jatah makan jemaah adalah sebanyak 25 kali. Sedangkan pada tahun 2016, jumlahnya 24 kali makan.

Ketiga, menempatkan seluruh jemaah yang berada di Madinah di zona terdekat dengan Masjib Nabawi yakni area Markaziyah. Area Markaziya berada di radius 650 meter dari Masjib Nabawi.

Di musim-musim Haji sebelumnya masih ada jemaah Haji yang ditempatkan di luar Markaziyah. Selain jaraknya yang jauh, jemaah juga harus menyeberang jalan besar, King Faisal Road untuk bisa ke Masjib Nabawi.

Berhasil 'dikuncinya' seluruh hotel di Markaziyah untuk para calon jemaah ini tak lepas dari strategi Kemenag yang bisa melakukan sewa full satu musim di sejumlah hotel tersebut.

Keempat, membentuk tim Petugas Preventif pada jemaah Haji (P3JH). Tim yang terdiri dari tenaga medis TNI-Polri ini dikhususkan untuk aktivitas mobile saat puncak calon Haji.

Kelima, menempatkan konsultan ibadah di setiap sektor. Direktur Bina Pelayanan Haji Khoirizi menambahkan konsultan ibadah yang ada di sektor ini nantinya bisa menjadi tempat konsultasi atau berkoordinasi dengan petugas pembimbing ibadah yang menyertai jemaah.

Post a Comments
blog comments powered by Disqus