Pernyataan Mantan Anak Buah: Nazarudin Rekayasa Kasus Anas Urbaningrum

Comments 30 Views Views


Pernyataan Mantan Anak Buah: Nazarudin Rekayasa Kasus Anas Urbaningrum

SIPerubahan - Eks anak buah mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin yang ditunjuk sebagai Direktur PT Mahkota Negara, Marisi Matondang mengaku bila semua kesaksiannya yang memberatkan mantan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum sebagai rekasaya belaka.

Hal tersebut terungkap dalam surat kesaksiannya yang dibacakan oleh Tim Kuasa Hukum Anas Urbaningrum, dalam sidang Peninjauan Kembali kasus korupsi proyek Wisma Atlet Hambalang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jumat (08/06/2018).

"Izinkan kami membacakan testimoni Marisi Matondang karena sesuai komitmen kami di persidangan sebelumnya untuk dibacakan," pinta salah satu kuasa hukum Anas kepada majelis hakim.

Berikut isi pengakuan Marisi Matondang yang ditulis tangan dan ditanda tangani di atas materai:

Kami yang bertandatangan di bawah ini Marisi Matondang.

Awal bergabung dengan perusahaan Nazarudin, saya awalnya ngelamar di PT Anugerah di Pekanbaru sebagai office boy. Setelah saya beberapa bulan bekerja, saya baru tahu kalau yang punya perusahaan itu bernama Nazarudin.

Pada tahun 2002 saya ke Jakarta atas perintah Muhamad Nazaruddin untuk menjadi asistennya di dalam pengurusan caleg DPR RI dari Fraksi PPP. Dalam pencalegan tersebut kalah dan tidak masuk ke dalam DPR RI. Maka Nazarudin mulai membuka perusahaan kontraktor di Jalan Mardani Raya bersama dengan bapak Daili Efendi bertempat di Jalan  Mardani Raya.

Setelah beberapa bulan, kami pindah ke apartemen Rasuna Said  tower 17. Setelah beberapa bulan di sana, kami mulai mendapatkan pekerjaan. Pada tahun 2007 Nazarudin mulai berkembang dan menyewa apartemen Rasuna Said di tower 7 dan awal membuka  kantor yang ada stafnya yaitu saya, Amin Handoko dan Unang Sudrajat.

Pada tahun 2008 kantor sudah mendapatkan banyak proyek dan karyawan bertambah banyak. Jabatan yang disandang di perusahaan Nazarudin tahun 2007 menjadi Direktur PT Gunakarya Nusantara. Tahun 2008 diangkat menjadi salah satu Direktur di PT Mahkota Negara. Di tahun 2008 saya juga sebagai Direktur di PT Berkah Alam Berlimpah.

Tahun 2013 diperintah M Nazarudin berpura-pura menjadi pemilik perusahaan yang bergerak di bidang pabrik pengolahan sawit PT Inti Karya Plasma. Perusahaan tersebut adalah milik Nazarudin.

Itu tanggungjawab saya hanya mendandatangani dan cek jika perusahaan tersebut menjadi pemenang di pemerintahan dan saya melakukan ini atas perintah Nazarudin.

Tahun 2015 saya telah berhenti dari perusahaan tersebut karena saya ditetapkan jadi tersangka di KPK.

Kronologi dan fakta:

1.Mengenai mobil Harrier, saya mendapatkan arahan dari Nazarudin di dalam BAP mengenai penyerahan dan kronologi Harrier di LP Cipinang sebelum saya di periksa di gedung KPK.

Saat berjalan pemeriksaan di gedung KPK mengenai mobil Harrier oleh penyidik KPK yang bernama Rifai, tiba-tiba M Nazarudin masuk di dalam ruangan pemeriksaan menerangkan kronologis Harrier. Sehingga kata-kata yang tercatat di dalam BAP saya adalah kata kata Mutiara Nazarudin, bukan kata saya.

Bahwa dalam pemeriksaan saya oleh penyidik KPK saya menjawab semua pertanyaan penyidik sesuai arahan M Nazarudin. Kronologis pemberian Harrier yang menyebutkan itu berasal dari uang proyek Hambalang demgan uang cash Rp 700 juta dari Adhi Karya yang saya serahkan ke Yulianis sebagai DP Harrier. Semua cerita ini hanyalah kebohongan belaka.

2. Sewaktu-waktu saya dan Ihsanudin dan Hidayat pernah diperiksa oleh penyidik KPK di Mako Brimob Medan untuk kasus tersangka Anas Urbaningrum, penyidik yang memeriksa kami  saat itu bapak Rifai. Saat saya tanya ke M Nazarudin mengapa kami diperiksa di Medan. M Nazarudin saat itu berpesan bila ditanya wartawan kami harus menjawab bahwa kami mendapatkan intimidasi dari Anas Urbaningrum.

3. Dalam perjanjian antara M Nazarudin dengan Anas Urbaningrum dari saya dan tandatangan Pak Anas adalah palsu karena saya yang membuat perjanjian itu dibantu staf saya merekayasa dengan tujuan agar KPK percaya dan bapak Anas mendapatkan hukuman. Saya melakukan itu semua atas perintah M Nazarudin

4. Saya selalu mengikuti rapat-rapat yamh diadakan M Nazarudin sebelum Nazarudin masuk penjara (gedung Tebet dan Mampang) maupun setelah Nazarudin keluar penjara (LP Cipinang, Sukamiskin, Mako Brimob). Tidak pernah kami ada rapat dengan Pak Anas. Karena pimpinan kami adalah Nazarudin bukan Anas.

M Nazarudin memaksa karyawan Nazarudin membuat keterangan palsu dalam setiap kasus. Kami semua mengikuti kemauan Nazarudin karena kami mendapat intimidasi dari kakak Nazarudin Anggota DPR dari Demokrat, Rita Zahara, Anggota DPR dari Gerindra, dan adik Nazarudin Mujahidin Nur Hazim. Ancaman pemukulan, pembunuhan sampai ancaman penjara sudah sering kami terima.

Perbuatan yang dilakukan:

1. Semua perbuatan yang saya lakukan karena intimidasi dari M Nazarudin BAP yang sudah dibuat penuh rekayasa dan fitnah.

2. Belakang setelah saya berubah sikap karena saya sadar dan merasa berdosa kepada Pak Anas sehingga saya harus menyatakan fakta yang sebenarnya berdasarkan kejujuran dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kesimpulan:

Dari uraian di atas dapat disimpulkan;

Bahwa saya telah melakukan kesalahan di dalam BAP Anas Urbaningrum di KPK

2. Bahwa saya melakukan itu atas perintah M Nazarudin untuk melakukan tugas semua pekerjaan dan tuntutan loyalitas saya kepada Nazarudin.

3. Bahwa semua yang saya terangkan di testimoni ini benar

Jakarta

15 Februari 2018

Marisi Matondang

Sidang PK ini ditunda hingga Jumat (29/06/ 2018) mendatang. Tim kuasa hukum Anas pun meminta kepada majelis hakim memberikan kesempatan untuk kembali menghadirkan Marisi Matondang.

Setelah mendengarkan testimoni Marisi, Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK mempermasalahkan ketidakhadiran Marisi karena tak bisa mengkonfirmasi pengakuan itu secara langsung.

 

Post a Comments
blog comments powered by Disqus