Ulama Milenial Super Profesor Ustad Adi Hidayat Bikin Kagum Indonesia

Comments 119 Views Views


Ulama Milenial Super Profesor Ustad Adi Hidayat Bikin Kagum Indonesia

SIPerubahan - Masya Allah, yang telah menciptakan seorang hamba begitu istimewa-Nya bernama Ustad Adi Hidayat dengan kesempurnaan ilmu, kecerdasan, hafalan, kelancaran bicara, ingatan, dan penguasaan Alquran dan Hadistnya.

Orang Sunda-Pandeglang ini merupakan alumni Pesantren Darul Arqam Garut, UIN Jakarta, UIN Bandung dan beberapa negara Timur Tengah merupakan ustad super cerdas dan berotak profesor. Ilmu Islamnya sangat mendalam dan pemahamannya sistematis.

Semoga Allah SWT selalu menyehatkannya dan memanjangkan usianya untuk kemaslahatan umat Islam. Silahkan ikuti, simak dan buktikan sendiri. Beruntung umat Islam Indonesia memiliki ulama muda sehebat ini sebagai anugerah dari Allah SWT.

Kepalanya yaitu ensiklopedia Alquran dan Hadits dengan sistem pengetahuan dan pemahamannya. Hafalan Alquran serta Haditsnya jenius, dimana semua hafal di luar kepala berupa nama surat, nomor ayat, posisi ayat dalam lembaran Alquran, Hadits, sumber kitab Haditsnya, nomor Haditsnya yang ketika disebutkan semua pembicaraannya sangat lancar tak ada yang tersendat dan tak ada jeda berpikir. Masya Allah, otaknya entah berapa terra byte ya.

Bagaimana mungkin ulama muda sangat hebat ini tidak disukai umat yang mencari pemahaman dan pencerahan tentang Islam? Mudah-mudahan Ustad Adi tidak membaca kekaguman ini agar membuatnya tetap rendah hati.

Sejak Kecil Sudah Cetak Prestasi

Menelisik ke belakang, Ustad Adi memulai pendidikan formal di TK Pertiwi Pandeglang tahun 1989 dan lulus dengan predikat siswa terbaik. Kemudian melanjutkan pendidikan dasar di SDN Karaton 3 Pandeglang hingga kelas III dan beralih ke SDN III Pandeglang di jenjang kelas IV hingga VI.

Di dua sekolah dasar ini beliau juga mendapat predikat siswa terbaik, hingga dimasukkan dalam kelas unggulan yang menghimpun seluruh siswa terbaik tingkat dasar di Kabupaten Pandeglang.

Dalam program ini, Ustad Adi juga menjadi siswa teladan dengan peringkat pertama. Dalam proses pendidikan dasar ini, Adi Hidayat kecil juga disekolahkan kedua orang tuanya ke Madarasah Salafiyyah Sanusiyyah Pandeglang.

Pagi sekolah umum, siang hingga sore sekolah agama. Di madrasah ini, Ustad Adi juga menjadi siswa berprestasi dan didaulat sebagai penceramah cilik dalam setiap sesi wisuda santri.

Tahun 1997, Ustad Adi melanjutkan pendidikan Tsanawiyyah hingga Aliyah (setingkat SMP-SMA) di Ponpes Darul Arqam Muhammadiyyah Garut. Ponpes yang memadukan pendidikan Agama dan umum secara proporsional dan telah mencetak banyak alumni yang berkiprah di tingkat nasional dan internasional.

Di Ponpes inilah Ustad Adi memperoleh bekal dasar utama dalam berbagai disiplin pengetahuan, baik umum maupun agama. Guru utama Ustad Adi, Buya KH. Miskun as-Syatibi ialah orang yang paling berpengaruh dalam menghadirkan kecintaan beliau terhadap Alquran dan pendalaman pengetahuan.

Selama masa pendidikan ini beliau telah meraih banyak penghargaan baik di tingkat Pondok, Kabupaten Garut, bahkan Propinsi Jawa Barat, khususnya dalam hal syarh Alquran. Di tingkat II Aliyah bahkan pernah menjadi utusan termuda dalam program Daurah Tadribiyyah dari Univ. Islam Madinah di Ponpes Taruna Alquran Yogjakarta. Ustad Adi juga seringkali dilibatkan oleh pamannya KH. Rafiuddin Akhyar, pendiri Dewan Dakwah Islam Indonesia di Banten untuk terlibat dalam misi dakwah di wilayah Banten.

Uastad Adi lulus dengan predikat santri teladan dalam dua bidang sekaligus (agama dan umum) serta didaulat menyampaikan makalah ilmiah “konsep ESQ dalam al-Qur’an” di hadapan tokoh pendidikan M. Yunan Yusuf. Tahun 2003, Ustad Adi mendapat undangan PMDK dari Fakultas Dirasat Islamiyyah (FDI) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang bekerjasama dengan Univ. al-Azhar Kairo, hingga diterima dan mendapat gelar mahasiswa terbaik dalam program ospek.

Tahun 2005, Ustad Adi mendapat undangan khusus untuk melanjutkan studi di Kuliyya Dakwah Islamiyyah Libya yang kemudian diterima, meskipun mesti meninggalkan program FDI dengan raihan IPK 3,98.

Dari Libya pula, empat negara lain di Timur Tengah tempat bersemayamnya ilmu agama Islam pun ditekuninya. Antara lain di Mesir, Arab Saudi, dan Tunisia --bahkan di negara terakhir sampai dievakuasi karena muncul kerusuhan politik domestik, Februari 2011 lalu.

Di Arab Saudi, selain menjadi petugas haji tahun 2010 lalu, Ustad Adi pun menimba ilmu secara informal di banyak tempat. Yang berkesan tentu saja di Mesir, karena Adi bahkan peroleh kitab Tafsir Al-Quran (bidang pelajaran favoritnya) dari ulama besar Al-Azhar, Seikh Thanthawi Jauhari.

Semua pengalaman berharga ini kemudian digenapkan setelah tak lama pulang ke Indonesia, tahun 2012 meneruskan Magister Bahasa Arab ke UIN Sunan Gunung Djati, Bandung di kampus pasca-nya yang kala itu berlokasi di Ujung Berung, Kota Bandung.

"Semuanya saya lakukan semata untuk mencari ridho Allah SWT. Saya ingin diri saya diridhoi, umat diridhoi, bahkan negara pun kalau diridhoi, sudah pasti tercapai baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur (negara yang baik dengan Rabb yang Pengampun, red)," katanya.

Eksis di Sosmed

Prinsip ini yang membuat seorang Ustad Adi tak pernah sekalipun sengaja mendesain dari awal agar eksis pada warganet, khususnya di media sosial. Sekalipun kini videonya di YouTube berkisar 3.000 buah, tak ada yang khusus dibuatnya sejak pertama mengisi kajian-kajian sekembalinya ke Indonesia.

Menurut Ustad Adi, jangankan main YouTube, menggunakan akun personalnya sebatas di Facebook/FB pun relatif jarang. Malah dia terkaget-kaget karena pas berselancar di FB dan Instagram belakangan, banyak yang gunakan namanya lengkap dengan gelar dan aneka sematan.

Kalaupun menjadi sangat eksis, itu awalnya karena ada jemaah yang merekam dan merasa kajiannya sangat bagus. Lalu minta izin untuk diunggah, dan banyak yang suka walapun kemudian jadi tak terkontrol.

Ceramahnya dibenturkan, dibingkai tak pas, bahkan jadi sumber konflik dengan sesama asatidz, yang sayangnya tak ada saluran komunikasi di antara mereka, sehingga mengesankan Islam yang retak.

Maka, Adi pun menggagas Akhyar.tv sejak November 2016 lalu. Tujuannya agar menjadi saluran resmi, sekaligus mengejar visi menjadi media penyiaran Islami, bahkan kalau bisa mengalahkan YouTube kelak.

"Agar luruskan (materi dakwah) lebih utuh, sekaligus memberi keteladan ke televisi lain, bahwa bisa kita bikin televisi dengan tujuan dakwah. Biayanya tak begitu mahal, tapi kru kita dekat dengan Allah SWT karena mereka menjaga salatnya dan menjaga diri dari maksiat," sambungnya.

Akhyar.tv pula yang kemudian memberi banyak kemudahan baginya. Mulai dari bisa meliput di Roudhoh, tempat super maqbul di Mesjid Nabawi, Madinah dan Masjidil Haram, Mekkah, serta streaming dari Jabal Tsur. Namun demikian, seluruh peralatan yaitu barang wakaf yang bisa umat gunakan kelak.

Bagi Ustad Adi, niat harus tetap terjaga. Godaan popularitas hingga materi sudah pasti terus mengintainya. Alkisah, ada sebuah pengundang dengan banyak jamaah yang tetiba batalkan jadwal karena tempat sudah terlanjur digunakan.

Setelah itu, lanjut Adi, masuk telepon mengundang ceramah dan sampaikan bahwa kajian paling dihadiri 5-10 orang. Maka disepakati, namun tak lama kemudian pengundang banyak jemaah menelepon lagi dan minta hadir karena sebelumnya hanya misskomunikasi.

"Saya mohon maaf karena sudah janji dengan kajian jamaah sedikit. Saya tak terpengaruh sedikit banyak, tugas saya hanya mengajar saja. Godaan popularitas itu tinggi, tapi karena sudah lebih dulu hafal panduannya di Quran sedari awal, maka kita hadapi dengan tenang dan tempatkan itu sebagai fitrah," ujar Ustad Adi.

Prinsip itu pula yang membuatnya mengosongkan jadwal ceramah di luar rumah tiap Senin sampai Rabu. Tak silau popularitas, Ustad Adi pada hari tersebut memokuskan waktu bagi istri dan kedua anak balitanya. Di sela-sela itu, intens mengisi program di Sekolah Kader Ulama dari lembaga yang diipimpinnya, Quantum Akhyar Institute, di Bekasi.

Karenanya, di sisi lain, ketika ada yang menilai pengajiannya tidak pas, Ustad Adi menganggap itu sebuah fitrah. Malah kalau tak beriak, mungkin ada yang tak benar dengan cara dakwahnya. "Nabi Muhammad saja di-tahdzir (disebut munkar di depan umum,red), masa saya enggak," selorohnya menutup pembicaraan.

Lahirnya Penghafal Alquran Milenial

Terpisah, belum lama ini Ustadz Adi Hidayat mengemukakan peranan krusial Alquran dalam kehidupan seorang muslim khususnya generasi milenial.

“Alquran adalah pedoman kehidupan bagi setiap muslim. Jika Alquran sudah hadir dalam jiwanya, maka akan menjadi pedoman bagi dirinya, cek surah Al Baqarah:185, paling kiri pertengahan.”

Ustad Adi memaparkan, bahwa tujuan Allah SWT menurunkan Alquran pertama kali bukan sebatas bacaan atau kajian, tapi petunjuk kehidupan yang menjangkau seluruh umat manusia tanpa kecuali.

“Artinya, kalau Anda mau mengambil petunjuk Quran, jangankan yang beriman, yang tak beriman pun dapat mengambil manfaat dari itu. Apalagi yang beriman,” tuturnya.

Karenanya, tuturnya, para sahabat menerapkan ayat-ayat Al Quran dalam keseharian mereka. Tengok saja kesuksesan Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Affan, Umar bin Khattab, dan lainnya. Yang mana ketika akan memulai aktivitas keseharian, selalu diawali dengan ayat Alquran. Ia pun mengutip salah satu penelitian Barat, bahwa orang yang sering berinteraksi dengan Alquran terutama para penghafal, kecerdasannya meningkat minimal tiga kali lipat.

“Maka imbas menjadi penerap Alquran ini luar biasa. Jadi saya ingin mengajak kepada kita semua, mari kita sama-sama terlibat dalam proyek yang sangat besar ini, kita sama-sama dukung,” jelas pakar Ilmu Alquran dan Hadits tersebut melalui pesan tertulisnya kepada wartawan.

Ustad Adi mengharapkan Alquran tidak hanya sekadar menjadi hapalan saja, melainkan dzikrun, yakni hapalan yang mengingatkan penghapalnya kepada Allah SWT serta membimbing untuk senantiasa mengingat Allah SWT.

“Jika hapalannya benar, maka ayat-ayat tersebut akan membimbing anggota tubuhnya untuk terus menjaga dari perbuatan yang tidak disukai Allah SWT. Karena itu, jangan sampai hanya mencetak penghafal Alquran saja, melainkan penghafal yang bisa mengamalkan hapalannya dan memberikan kontribusi bagi lingkungan,” pungkasnya. (Dbs)

Post a Comments
blog comments powered by Disqus