Bung Karno Merajut Relasi Nasionalis-NU

Comments 88 Views Views


Bung Karno Merajut Relasi Nasionalis-NU

SIPerubahan - Kenduri Haul Proklamator sekaligus Presiden RI 1 Bung Karno ke-48 disambut antusias oleh warga Kota Blitar. Nampaknya, momen Kenduri ini berlangsung penuh haru bagi Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarno Putri sampai tak kuasa membendung air matanya.

Megawati mengungkapkan rasa syukurnya lantaran Haul Bung Karno masih bisa dihelat pada tahun ini. Ia pun mengaku terharu karena ternyata sudah ditinggal sang ayah selama 48 tahun lamanya.

"Saya merasa terharu pada hari ini. Saya ingat usia ayah saya meninggal yaitu 117 tahun. Ayah saya lahir di bulan Juni, melakukan pidato Pancasila di bulan Juni dan meninggal di bulan Juni. Ini bulan yang spesial bagi ayah saya," tutur Mega melanjutkan.

Kemudian Megawati pun tak kuasa membendung rasa haru hingga meneteskan air matanya saat bicara mengenai semangat rakyat saat menyambut pemakaman dan perayaan Haul Bung Karno di Blitar. Alasannya ketika Soekarno dimakamkan di Blitar rakyat dilarang keras untuk datang menyambutnya.

"Itu pada zaman Orde Baru pemerintahan yang keras oleh Presiden Soeharto. Tapi rakyat tidak bisa dibendung, rakyat terdiri dari Soekarnois dan nahdliyin tetap merayakan haul hingga sekarang ini," jelasnya mengungkapkan.

Selain itu, Megawati juga mengungkapkan kalau pemakaman Soekarno di Blitar hingga menimbulkan polemik. Alasannya keputusan Presiden Soeharto untuk pemakaman di Blitar merupakan keputusan sepihak.

"Ini dulunya makam pahlawan yang kecil dan sederhana. Keluarga tidak setuju. Pemerintahan masih begitu keras akhirnya seluruh keluarga merelakan Bung Karno dimakamkan di sini. Penduduk sini dulu rumahnya banyak dari gedeg atau bambu," pungkasnya.

Dalam Haul Bung Karno ke-48 ini hadir pula sejumlah pengurus PDIP dan cucu Bung Karno yang saat ini menjadi calon wakil gubernur Jawa Timur nomer urut dua Puti Guntur Soekarno. Terlihat juga Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Ketum PBNU) Said Aqil Siroj dan sejumlah Menteri kabinet kerja seperti Mendagri Tjahjo Kumolo, Menteri Pekerjaan Umum Basuki Hadimulyono, Kepala BIN Budi Gunawan, Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar, dan lain-lain.

Persaudaraan Soekarnois dan Nahdliyin

Tradisi Haul Bung Karno juga menjadi momentum mengenang eratnya relasi Soekarnois dan nahdliyin atau Nahdlatul Ulama (NU). Relasi itu sudah terjalin sejak masa perjuangan kemerdekaan.

KH Said Aqil Siroj dalam pidatonya menjelaskan kedekatan NU dengan Bung Karno serta Soekarnois. Lalu kedekatan itu harus dijaga guna mengatasi masalah bangsa yang kompleks.

“Mengatasi masalah-masalah bangsa, tidak hanya bergantung pada satu kelompok saja, keduanya harus bersatu, nasionalis dan santri harus bergandengan,” ujarnya.

Said kembali menuturkan sepatutnya Haul Bung Karno seharusnya dimanfaatkan, khususnya generasi penerus terkhusus milenial dalam mengingat hasil perjuangannya sekaligus merawatnya.

“Kemerdekaan secara geografi, politik, ekonomi dan terutama budaya harus dirawat serta dijaga,” pungkasnya.

Menelisik ke belakang, tanda persahabatan penting antara Bung Karno dengan NU yaitu pemberian gelar Waliyyul Amri Ad-Dharuri bi As-Syaukah (pemimpin pemerintahan di masa darurat) oleh NU kepada Bung Karno pada Muktamar di Surabaya pada 1954.

“(Bung Karno) pemimpin yang sah menurut syariat Islam. Karena itu pemberontakan yang menentang Soekarno, seperti DI/TII atau manapun, dianggap bughot oleh NU, karena melawan pemerintahan yang sah,” jelasnya.

Persahabatan para pendiri NU dan Bung Karno, lanjut Kiai Said, berlanjut pada KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), anak dari KH Wahid Hasyim, dan Megawati Soekarnoputri, putri sulung sang proklamator.

“Persahabatan antara Almarhum Gus Dur dengan Ibu Megawati luar biasa kalau kita ceritakan, enggak selesai dua jam,” seloroh Kiai Said disambut tawa para hadirin.

Post a Comments
blog comments powered by Disqus