Ambil Hikmah Kehidupan dari Prestasi Atlet Lalu Muhammad Zohri

Comments 170 Views Views


Ambil Hikmah Kehidupan dari Prestasi Atlet Lalu Muhammad Zohri

SIPerubahan - Mudah memuji, juga gampang mencaci sambil tuding sana-sini. Misalnya dalam kasus Lalu Muhammad Zohri, misalnya. Tentu saja masyarakat tersentak, terpukau serta menyanjungnya. Setelah itu, untuk menunjukkan diri paling peduli, paling punya empati, kita pun merutuki ketiadaan bendera Merah Putih. Sejumlah pihak diprasangkai seolah tak peduli. Seolah hanya media yang menyaksikan cuplikan video berdurasi beberapa menit itu yang paling peduli, paling nasionalis. Tak mau tahu kondisi yang terjadi sebenarnya.

Hal paling konyol, ketika Zohri terlihat sudah mendapatkan Merah Putih, beberapa media menyebutnya bahwa itu sebetulnya bendera Polandia, meski negara itu tak ikut jadi peserta lomba. Pemberitaan media kemudian berpindah, menyoroti kondisi rumah Zohri yang sangat sederhana. Emosi masyarakat pun pasti meledak.

“Gila ya, pemerintah sama sekali gak peduli sama Zohri,” begitu kritikan media merutuk. Media lupa bahwa seringkali seseorang memberikan yang terbaik, membuat prestasi, karena termovitasi oleh serba kekurangan, oleh keprihatinan hidupnya. Semuanya itu melecutnya untuk berlatih keras, berbuat yang terbaik! Ibarat seorang filantropi sejati, media pun mengusulkan agar menteri X memberi ‘anu’, menteri Y menghadiahi itu, dan seterusnya. Seolah media yang paling paham apa yang harus diperbuat. Seolah media yang paling tahu apa kebutuhan utama Zohri.

Hingga kita pun tersadar ada Bob Hasan. Sejak era 1980-an namanya identik dengan dunia atletik. Dialah pencetus “Bali Ten K” atau Bali 10 Kilometer. Lomba lari dengan hadiah paling besar kala itu, sehingga diminati para pelari dunia. Bob menggelar hajatan itu bukan sekedar ingin memasyarakatkan dan memajukan atletik, tapi juga dunia pariwisata Indonesia.

Apa kaitan Bob Hasan dan Zohri? Rupanya dialah ‘Sang Dewa’ sebenarnya! Tanpa banyak publikasi, dia yang meminta ke para pengurus atletik di daerah-daerah mencari bibit-bibit unggul atlet ke sekolah-sekolah. Zohri menjadi salah satu yang disodorkan. Bob dan jajaran pengurusnya yang membinanya kemudian. Tak hanya memperhatikan kebutuhan fisik, gizinya, juga isi kepala, dan jiwanya.

“Dia hampir tak bisa berangkat karena anak yatim piatu. Saya yang mesti tanggung semua. Jika tidak, ya tidak dapat visa,” kata Bob Hasan. Selanjutnya Ahmad Yani dan Saeriah, kedua orang tua Zohri sudah berpulang sejak anak bungsunya itu masih di bangku sekolah dasar. Di tengah euforia, Bob segera menyadarkan kita, khususnya media serta masyarakat, agar tak memuji Zohri berlebihan. Sebab dalam beberapa pekan ke depan, atlet kelahiran Lombok Utara, 1 Juli 2000 itu harus menghadapi Asian Games. Dan tentu ditarget meraih medali emas.

Bob yang berpuluh tahun bergaul dengan para atlet paham benar, pujian berlebihan dapat melunturkan prestasi si atlet. “Jangan dipuji-puji nanti kepalanya besar, jadi tegang, malah kalah,” katanya. Terkait imbauan agar Zohri mendapatkan bonus, hadiah, dan sejenisnya, Bob menyatakan semua sudah dalam perhitungannya. Berkaca terhadap pengalaman di masa lalu, hadiah atau bonus tak akan diberikan gelondongan begitu saja, serta-merta.

Masa jaya seorang atlet biasanya sangat singkat. Apalagi seorang Zohri masih tergolong amat beliau. Dia masih harus melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Karena itu, bonus untuk Zohri, bisa dicairkan hanya jika digunakan sebagai modal investasi. “Biasanya kami kasih tapi itu tabungan untuk hari depan. Seperti, Emilia Nova (atlet lari gawang dan sapta lomba). Dia mendapat bonus Rp 1 miliar. Tapi, dia tidak dapat ambil kecuali untuk usaha atau investasi,” ujar Bob.

Post a Comments
blog comments powered by Disqus