Warisan Asian Games untuk Generasi Muda

Comments 40 Views Views


Warisan Asian Games untuk Generasi Muda

SIPerubahan - Indonesia kembali menjadi tuan rumah Asian Games XVIII yang akan dibuka Presiden Jokowi pada 18 Agustus 2018 mendatang. Asian Games 2018 ini bukanlah yang pertama diselenggarakan di Indonesia. Pada era Presiden Soekarno, Indonesia pernah menjadi tuan rumah Asian Games IV pada 1962 silam.

Bagi Soekarno, Asian Games bukanlah sekadar aktivitas olah raga belaka, tapi juga untuk membangun apa yang disebut Nation Building Indonesia. Asian Games merupakan cara Soekarno menunjukan ke dunia, Indonesia adalah bangsa besar. Bukan bangsa yang dikecilkan oleh praktek kolonialisme yang melahirkan mentalitas kolonial berupa perasaan rendah diri sebagai sebuah bangsa.

Dalam amanatnya di depan olahragawan untuk Asian Games dan Thomas Cup di Sasana Gembira Bandung pada 9 April 1961, Soekarno menegaskan agar para olahragawan memberikan dedication of life-nya untuk Indonesia. Menurut Soekarno, hal ini penting untuk mengangkat nama Indonesia yang tiga setengah abad tenggelam dalam kegelapan, ‘the dark ages of Indonesia’.

Dalam kerangka menunjukan Indonesia sebagai bangsa besar, Soekarno membuat lanskap kota Jakarta dengan membangun sarana olah raga Asian Games. Tujuannya membuat Jakarta menjadi kota yang menakjubkan, besar, artistik, dan modern, tidak kalah dengan negara-negara besar dan modern lainnya.

Untuk membangun Gelora Senayan dan bangunan-bangunan Asian Games, Indonesia disokong pinjaman 12,5 juta dolar AS dari Uni Soviet. Pada 8 Februari 1960, Wakil Pertama Perdana Menteri Uni Soviet Anastas Mikoyan menjadi saksi pembangunan awal Stadion Utama Senayan untuk Asian Games IV.

Ide mendirikan stadion dan komplek olah raga Senayan yang megah ini diperoleh Soekarno saat mengunjungi Stadion Luzhniki di Kota Moskow Rusia pada 1956.

Bersamaan dengan pembangunan sarana olah raga, juga dibangun beberapa monumen. Menurut Benedict Anderson (2000), monumen-monumen yang dibangun di era Soekarno selain untuk memperingati peristiwa di masa lalu juga dimaksudkan untuk generasi anak-cucu. Monumen menjadi suatu cara untuk menghubungkan antara masa lalu dan masa depan.

Di tahun 1961 mulai dibangun monumen Patung Selamat Datang oleh pematung Edhie Sunarso sebagai sambutan simbolis pada tamu-tamu mancanegara yang akan datang. Dalam pembuatan patung ini dikatakan oleh Soekarno, “Di sinilah patung yang akan jadi gerbang bangsa kita, awal dari mula sejarah berpikir kita. Djakarta akan jadi kota dunia.”

Soekarno juga membangun Hotel Indonesia dari dana hasil rampasan perang Pemerintah Jepang. Inspirasi desain interior Hotel Indonesia diperoleh Soekarno ketika mengunjungi gedung Perserikatan Bangsa Bangsa di New York. Hotel Indonesia dimaksudkan menjadi simbol kerja sama bangsa-bangsa merdeka.

Infrastruktur yang menjadi ikon Jakarta yang juga dibangun adalah Jembatan Semanggi. Ketika melihat marketnya, Soekarno mengatakan, "Semanggi ini perlambang bunga yang imbang, dari susunan daun dan batangnya, seperti bangsa kita yang menyukai keindahan."

Rangkaian pembangunan lanskap infrastruktur kota ini selain menjadi instrumen soft diplomacy juga untuk memberikan kesan pertama tentang Indonesia bagi para tamu yang datang.

Agar peristiwa Asian Games dapat mempersatukan bangsanya, Soekarno juga mendirikan TVRI sebagai televisi negara pada 24 Agustus 1962. TVRI digunakan Soekarno untuk menyiarkan pembukaan dan pertandingan Asian Games. TVRI menjadi teknologi paling maju saat itu untuk mengikat nasionalisme rakyat Indonesia melalui pertandingan olahraga.

Warisan bangunan dan monumen Asian Games 1962 kini masih dapat dinikmati di kota Jakarta. Sebagian besar infrastruktur ini masih akan digunakan pada Asian Games 2018. Namun sayang, beberapa ikon bangunan kini telah dikepung gedung-gedung tinggi dan kemacetan yang parah. Bahkan interior Hotel Indonesia telah diubah dengan mengabaikan nilai sejarah bangunan tersebut.

Dalam rangka Asian Games 2018, pemerintahan saat ini telah merenovasi ikon infrastruktur bersejarah yang dibangun masa Asian Games 1962. Untuk Asian Games 2018, pemerintah mengeluarkan biaya Rp 30 triliun untuk biaya penyelenggaraan, infrastruktur dan sarana transportasi. Diharapkan semua infrastruktur yang dibangun ini dapat menjadi warisan masa depan.

Asian Games 2018 tak hanya merenovasi Gelora Bung Karno. Kampung Atlet di kawasan Kemayoran dipugar dan diperluas. Velodrome Rawamangun dan Equestrian Park Pulomas juga dibangun sebagai arena balap sepeda dan pacuan kuda.

Untuk kelancaran transportasi, dibangun Light Trail Transit (LRT) di Jakarta dan Palembang, dua kota yang akan menjadi penyelenggara Asian Games 2018.

Kesamaan momentum Asian Games 1962 dan 2018 adalah percepatan pembangunan infrastruktur yang akan menjadi warisan generasi berikutnya. Tentu saja, pembangunan infrastruktur di era Soekarno lebih kuat pesan kebangsaan dan menjadi soft diplomacy dengan mancanegara.

Pada Asian Games 2018, gelaran ini diharapkan juga dapat menjadi perekat kebangsaan serta promosi budaya dan pariwisata Indonesia. (Sumber: Harian/ Koran Bisnis Indonesia)

Post a Comments
blog comments powered by Disqus