Anies Membingungkan


Anies Membingungkan

Beberapa hari ini Anies Baswedan mengeluarkan pernyataan yang sulit dicerna oleh masyarakat.

Hal pertama adalah sindiran Anies saat terdapat banjir di Jakarta, "Katanya sudah bebas banjir," kata Anies yang langsung disambut tawa para pendukungnya di kantor DPP Gerindra.

Ketika ditanyakan wartawan apa solusi Anies dalam masalah banjir, Anies menyebutkan soal drainase vertikal.

Padahal drainase vertikal (vertical drain) bukanlah metode untuk mengatasi luapan aliran air sungai kiriman dari Bogor dan curah hujan yang tinggi. Vertical Drain adalah salah satu metode dalam perbaikan tanah ketika di lahan itu akan dibangun sebuah konstruksi.

Vertical drain diperkenalkan pertama kali oleh Daniel E. Moran pada tahun 1925, yaitu dengan menggunakan kolom-kolom pasir untuk stabilitas tanah. Aplikasi ini selanjutnya dikenal dengan drainase vertikal.

Vertical drain merupakan teknik untuk mengatasi tanah yang akan dibangun berbagai konstruksi di atasnya. Seperti di bawah embankment jalan raya, jalan kereta api atau landas pacu pesawat serta di bawah pondasi tanki minyak yang berdiri di atas tanah lunak. Vertikal drain digunakan agar pada waktu konstruksi didirikan, tidak akan mengalami penurunan tanah yang berlebihan yang dapat menyebabkan gangguan bahkan merusak strukturnya.

Pernyataan yang membingungkan ini tentu saja direspon masyarakat, salah satunya adalah seseorang dengan nama (akun) Kertarajasa yang berkomentar dalam pemberitaan media online.

Hal kedua dari statement Anies yang membingungkan adalah mengenai program penjualan perumahan dengan DP (down payment) 0 rupiah. Anies membantah bahwa ia pernah menawarkan program pembelian rumah dengan DP nol persen. Anies mengatakan bahwa tawarannya adalah 0 rupiah (bukan 0%).

Tentu saja pernyataan ini membingungkan. Bagaimana 0 rupiah tidak sama dengan 0%? Memangnya 0 rupiah itu berapa persen?

Sementara Gubernur BI mengatakan bahwa dalam Peraturan BI (PBI) Nomor 18/16/PBI/2016 yang dikeluarkan pada 29 Agustus 2016, uang muka kredit perumahan minimal 15 persen dari harga rumah. Bank Indonesia jelas melarang praktek penjualan rumah dengan uang muka 0% (Rp 0,00).

Dan yang makin membingungkan masyarakat adalah Anies bersikukuh bahwa uang muka nol rupiah untuk pembelian rumah bisa dilaksanakan dengan cara para calon pembeli mengumpulkan uang dulu selama 6 bulan untuk uang muka. Jadi sebenarnya uang mukanya berapa?

Post a Comments
blog comments powered by Disqus