Siapa Lebih Berpeluang Jadi Gubernur DKI?


Siapa Lebih Berpeluang Jadi Gubernur DKI?

Hasil Pilkada DKI Jakarta telah selesai dihitung oleh KPU. Hasilnya, pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta Agus Yudhoyono-Sylviana Murni mendapat 17.07% atau 936.609 suara. Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat mendapat 42.96% atau 2.357.637 suara. Anies Baswedan-Sandiaga Uno mendapat 39.97% atau 2.193.636 suara.

Sementara, jumlah pemilih dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 adalah 7.218.272. Namun yang menggunakan hak pilihnya 5.563.418 suara. Sehingga 22,9 persen warga DKI golput.

Dengan hasil demikian, maka praktis paslon nomor urut 1 tersingkir dan paslon nomor urut 2 dan 3 harus melanjutkan pemilihan pada putaran kedua. Dengan selisih yang tidak terlampau jauh antara paslon nomor urut 2 dan 3, maka kedua kubu akan saling beradu strategi untuk bisa saling mengungguli.

Pasangan Anies-Sandi sudah pasti akan mengambil suara dari paslon nomor urut 1. Sudah bukan rahasia lagi bahwa pendukung pasangan Agus-Sylvi adalah mereka yang tidak suka dengan Basuki-Djarot. Melalui perhitungan ini, maka pasangan Anies-Sandi tentu bisa mengungguli Basuki-Djarot pada putaran kedua nanti.

Namun, kita ketahui bahwa dalam politik apapun bisa terjadi. Mari kita simak bagaimana peluang pasangan Basuki-Djarot dalam meraup suara untuk mengungguli Anies-Sandi.

Pertama adalah tentu saja Basuki-Djarot akan mendekati parpol pendukung Agus-Sylvi seperti PKB, PPP, dan PAN yang bisa bersinergi dengan parpol pendukung Basuki-Djarot. PKB tentu akan lebih bisa melebur dengan PDIP daripada dengan PKS karena perbedaan paradigma. PKB merupakan partai yang lebih berpandangan pluralis dan nasionalis dibanding PKS, sudah tentu.

Hal kedua yang juga bisa berpeluang mendapatkan suara bagi Basuki-Djarot adalah dengan mendorong partisipasi para pemilih yang tidak bisa dan enggan untuk mencoblos, sehingga golput, yang angkanya mencapai hamipr 23%.

Lalu hal ketiga yang harus dipahami adalah bahwa para pemilih Anies-Sandi bukan hanya berasal dari massa PKS dan Gerindra saja sebagai parpol pengusungnya. Pendukung Anies-Sandi juga berasal dari parpol lain dan bahkan dari sebagian kecil para pendukung Presiden Jokowi.

Para pemilih inilah yang harus didekati untuk mendukung Basuki-Djarot. Karena dalam beberapa statement dari kubu Anies-Sandi, terlontar pernyataan Prabowo Subianto bahwa kalau memilih Anies-Sandi itu bisa memperbesar peluang Prabowo yang pada 2014 menjadi rival Jokowi, untuk melaju kembali menjadi pesaing Jokowi di Pilpres 2019. Dan yang lebih berbahaya tentu saja sepak terjang PKS.

PKS akan menjadikan Anies-Sandi sebagaimana PKS terhadap SBY. PKS akan meminta bagian 'kue kekuasaan' di DKI Jakarta untuk memperkuat penyebaran faham dari kader-kader mereka masuk ke rumah-rumah ibadah muslim seperti masjid dan musholla. (Baca: PBNU Minta PKS Hentikan Perebutan Masjid) http://www.nu.or.id/post/read/34016/pbnu-minta-pks-hentikan-perebutan-masjid

Jikalau para pendukung Jokowi yang memilih Anies-Sandi memahami peta pembagian kekuasaan seperti ini, bukan tidak mungkin mereka akan lebih memilih Basuki-Djarot dibanding Anies-Sandi.

Jadi siapa yang akan memenangkan putaran kedua Pilkada DKI Jakarta 2017? Itu adalah kemenangan hati warga Jakarta. Tentu kita tidak bisa menafikan fakta bahwa betapa hebatnya gempuran isu kepada paslon nomor urut 2 dengan proses hukum tuduhan penistaan agama dan berbagai isu rasialis lainnya, yang dampaknya berimbas pada merosotnya elektabilitas Basuki-Djarot di mana pada pertengahan tahun 2016 lalu selalu berada di atas 50%.

Apakah Anies-Sandi atau Basuki-Djarot yang dapat terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta selanjutnya? Itulah suara rakyat Jakarta.

Post a Comments
blog comments powered by Disqus