Sikap Politik TGB Dukung Jokowi

Comments 69 Views Views


Sikap Politik TGB Dukung Jokowi

SIPerubahan - Tak lama berselang menyatakan dirinya pindah ke kubu Joko Widodo, Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Muhammad Zainul Majdi alias Tuan Guru Bajang (TGB) merilis ceramah video yang mengirimkan sinyal kepada masyarakat. Sinyal itu menyatakan  dia tidak sekadar memuji dan menghendaki Jokowi menjadi presiden lagi, melainkan dirinya juga siap berkampanye all-out untuk Jokowi.

TGB tak hanya sekadar pindah meninggalkan oposisi. Beliau juga terlihat akan menjalankan misi untuk memastikan agar Jokowi melangkah mulus di pilpres 2019. Ceramah perdana TGB berisi pesan tersirat, sekali lagi, pesan tersirat, bahwa dirinya bisa pasang badan untuk Jokowi. Isi ceramah itu mirip “fatwa grand mufti” kepada semua ulama junior agar berhenti menggunakan ayat-ayat Alquran yang terkait dengan perang.

“Berhentilah menggunakan ayat-ayat perang. Kita tidak sedang berperang. Kita ini bersaudara,” tegas TGB dalam satu ceramahnya.

Berperang fisik? Siapa bilang para ulama merasa sedang berperang? Kalau berperang melawan kezaliman, pasti iya. Dan tentu ini kewajiban para ulama. Kalau diamati secara saksama ceramah ini, ajakan TGB itu sangat keras. Juga ada tersirat pesan, bagi TGB, dimana ulama-ulama yang masih menentang Jokowi telah melakukan kekeliruan.

Sepatutnya masyarakat tidak keliru mencerna statment TGB. Kita harus menempatkan TGB sebagai seorang politisi tulen yang kebetulan pernah belajar di Universitas Al Azhar Kairo. Selain itu, juga TGB sebagai aktor politik. Bukan sebagai ulama.

Hal ini penting agar pernyataan-pernyataan TGB setelah statement dan sikap politiknya beberapa hari lalu itu, tidak dipahami sebagai titah seorang ulama. Melainkan manuver seorang politisi. Nampaknya TGB tidak sedang berbicara sebagai seorang ulama.

Alhasil selama ini banyak yang keliru. Umat kerap melihat TGB sebagai ulama ketika dia berbicara entah di forum mana. Padahal, TGB sedang berpolitik. Beliau seorang penguasa yang setiap hari menghadapi suasana politik. Kalau ini sudah kita pahami bersama, ke mana pun TGB pindah kubu tidak akan jadi masalah bagi kaum muslimin.

Jadi, apa yang mendorong TGB pindah haluan? Pertanyaan ini belum dijawab. Secara khusus, TGB adalah politisi tulen yang akan menghitung-hitung posisi kekuasaan apa yang mungkin digapai berikutnya selepas menjadi gubernur.

Namun karena TGB selama ini ikut juga dalam gerakan oposisi seperti aksi-aksi damai kaum muslimin, memang agak tercengang juga masyarakat melihat sikap politik Tuan Guru ke kubu Jokowi. Apalagi ditambahkan dengan alasan TGB pindah, yaitu demi kemaslahatan bangsa dan umat.

Hal itu berarti TGB yakin bahwa Jokowi perlu dipastikan dua periode karena bangsa dan umat membutuhkannya. Sementara kebalikannya, pihak oposisi menilai dengan segala macam masalah serius yang melanda Indonesia saat ini, Jokowi tidak layak melanjutkan kepemimpinannya di Tanah Air.

Selanjutnya, TGB berkilah bahwa dirinya pindah ke Jokowi demi akal sehat. Itu berarti kaum oposisi yang terus beroposisi, tidak berakal sehat. Perlukan Anda tersinggung? Tidak perlu. Karena definisi akal sehat TGB kelihatannya berbeda dengan definisi akal sehat para pemimpin yang lurus.

Saat ini mengapa TGB bakal mendedikasikan dirinya untuk kemenangan Jokowi di pilpres 2019? Apakah ada deal-deal yang menarik dibalik itu. Sebagai seorang politisi, TGB kecil kemungkinan bermanuver untuk Jokowi tanpa menghitung untung-rugi. Kecil kemungkinan tidak ada “trade-off” (imbal-bagi).

Kira-kira apa yang akan diperoleh oleh TGB? Cawapres? Kursi menteri? Duta besar, duta kecil, atau duta sedang?

Bermacam-macam pendapat orang atau ahli. Bisa jadi TGB memerlukan bantuan Jokowi untuk mengatasi sesuatu yang agaknya cukup serius. Kelihatannya, Jokowi meyakini kapasitas TGB. Gubernur NTB ini punya banyak pendukung di seluruh Indonesia, terutama di NTB. Ada asumsi TGB bisa membawa pendukungnya.  Jika ini terbukti mungkin saja konsesi untuk TGB bakalan besar.

Post a Comments
blog comments powered by Disqus