Pengamat Prihatin DPR Jadi Dewan Pertunjukan Rakyat

Comments 78 Views Views


Pengamat Prihatin DPR Jadi Dewan Pertunjukan Rakyat

SIPerubahan - Artis ramai-ramai maju menjadi bakal calon anggota legislatif menjadi sorotan di linimasa.  Pemerhati sosial, politik, ekonomi, keagamaan Abdillah Toha yang memakai akun @AT_AbdillahToha menyampaikan kekhawatiran sekaligus menyindir.

"DPR mendatang tampaknya akan jadi tempat berkumpulnya artis. Banyak bintang film, penyanyi, dan pemain sinetron direkrut jadi caleg. DPR mendatang bisa berubah menjadi Dewan Pertunjukan Rakyat," demikian kata Abdillah Toha, Rabu (18/07/2018)

Menanggapi fenomena tersebut menurut peneliti Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Syamsuddin Haris, terjadi karena sejumlah faktor. Pertama ini adalah salah satu dampak sistem proporsional terbuka sehingga berlangsung persaingan bebas di antara para kandidat. "Yang paling berpeluang adalah mereka yang sudah populer," kata Syamsuddin Haris.

Kedua, hal ini menunjukkan adanya kegagalan kaderisasi partai sehingga rekrutmen calon anggota legislatif tidak berbasis kaderisasi. Ketiga, akibat ambang batas parlemen yang cukup tinggi (empat persen), partai akhirnya pragmatis, sehingga memilih calon yang bisa jadi vote getter partai yaitu para artis dan pesohor lainnya.

Keempat, tidak adanya komitmen ideologis parpol terhadap arah politik dan demokrasi ke depan sehingga memilih cara instant. Kelima, fenomena calon anggota legislatif dari kalangan artis merefleksikan degradasi kualitas partai ke titik terendah, yakni tak lebih sebagai event organizer saja. Padahal parpol memiliki tanggung jawab untuk mendidik dan mengkader wakil rakyat dan pemimpin terbaik bagi bangsa.

Keenam, fenomena caleg artis juga menunjukkan semakin dangkalnya pemahaman partai mengenai esensi fungsi representasi politik yang diemban oleh para wakil rakyat di parlemen. Ketujuh, selain itu, fenomena calon artis juga menunjukkan makin jauhnya jarak antara partai dan rakyat.

"Partai begitu fasih bicara kepentingan rakyat, tapi mereka tidak mengerti apa esensi yang dipidatokannya, kecuali sekadar sebagai gincu belaka. Parpol semakin terasing dari bumi tempat mereka berpijak," kata Syamsuddin Haris.

Syamsuddin Haris menyebut fenomena akhir-akhir ini sebagai ironis di Tanah Air. "Parpol berlomba usung artis dan selebritis jadi caleg. Kalah populer dan tidak punya modal, kader-kader parpol acap kali tersisih. Ironis. Parpol jadi mirip event organizer bagi mereka yang populer, punya modal dan memiliki relasi nepotis dengan ketua umum partai ketimbang sebagai wadah mendidik pemimpin," kata Syamsuddin Haris.

Syamsuddin Haris melanjutkan, tidak ada larangan selebriti menjadi calon anggota legislatif, tetapi ini kaitan dengan tugas partai mengkader calon wakil rakyat atau pemimpin masa depan.

"Apa artis tidak boleh jadi caleg. Tentu boleh. Semua warga negara berhak jadi anggota parlemen. Tapi parpol dibentuk untuk mengkader calon wakil rakyat dan pemimpin. Publik berhak memperoleh wakil dan pemimpin terbaik. Lalu apa kerja partai jika tidak mengkader calon wakil dan pemimpin? Tidur?" keluh Syamsuddin Haris menutup pembicaraan.

Post a Comments
blog comments powered by Disqus