Cawapres Jokowi dan Prabowo Harus Jadi Energi Baru

Comments 39 Views Views


Cawapres Jokowi dan Prabowo Harus Jadi Energi Baru

SIPerubahan - Bakal calon presiden petahana, Joko Widodo sudah mengumumkan secara resmi nama KH Ma'ruf Amin sebagai bakal calon wakil presidennya. Ma'ruf Amin sendiri merupakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Jokowi menjelaskan alasan memilih Ma'ruf Amin sebagai sosok pendampingnya di Pilpres 2019 ketimbang Mahfud MD yang sebelumnya santer dibicarakan bahwa akan menjadi cawapresnya. Menurut Jokowi, Ma'ruf Amin sosok yang melengkapi, yaitu nasionalis-religius.

"Menurut saya, kami ini saling melengkapi. Pasangan nasionalis-religius," demikian kata Jokowi di Restoran Plataran, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (09/08/2018).

Jokowi menargetkan, dengan dipilihnya KH Ma'ruf Amin sebagai cawapres, diharapkan mampu mendulang suara dari Sabang sampai Merauke di Pilpres 2019. Dia berharap Kiai Ma'ruf dapat meningkatkan suaranya. "Targetnya (suara) seluruh rakyat Indonesia dari sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote," harapnya menegaskan.

Di sisi yang lain, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu mengaku tak sakit hati. "Saya tidak kecewa tetapi memang kaget, tetapi sekarang sudah selesai kagetnya dan saya katakan Pak Jokowi enggak usah merasa bersalah atau apa," ujar Mahfud di Jakarta, Kamis. 

Sementara itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno secara resmi dipilih oleh Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto sebagai calon wakil presidennya dalam Pilpres 2019.

 "Jadi tiga pimpinan partai politik telah memberikan kepercayaan kepada saya dan saudara Sandiaga Uno untuk maju sebagai calon presiden can calon wakil presiden untuk masa bakti 2019-2024," tutur Prabowo di rumahnya, Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (09/08/2018) malam.

Pilpres 2019 hanya akan diikuti dua pasangan Prabowo-Sandiaga dan Jokowi-Maruf Amin. Prabowo didukung koalisi Partai Gerindra, PKS dan PAN. Sementara Jokowi-Maruf didukung sembilan partai politik.

 Hadir dalam deklarasi, elite Partai Amanat Nasional (PAN) seperti Amien Rais, Zulkifli Hasan dan elite Partai Keadilan Sejahtera (PKS) seperti Sohibul Iman dan Salim Segaf Al Jufri. Namun tidak terlihat perwakilan elite Partai Demokrat dalam deklarasi yang juga dihadiri perwakilan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama itu.

 Sebelumnya, Sandiaga telah mengajukan surat keterangan tidak pailit ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Surat keterangan ini merupakan salah satu syarat mendaftarkan diri sebagai calon presiden atau calon wakil presiden 2019 yang diatur dalam Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU).

Pengaruh Kedua Cawapres

Bagi Jokowi dan Prabowo, Pilpres 2019 adalah rematch alias pertarungan ulang. Keduanya pernah bersaing dalam Pilpres 2014 dengan pasangan masing-masing, Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta Rajasa. Seberapa besar pengaruh Ma'ruf Amin dan Sandiaga Uno dalam Pilpres 2019? 

Pengamat politik dari  Akar Rumput Strategic Consulting (ARSC), Dimas Okky Nugroho mengatakan, sosok cawapres akan sangat menentukan dalam kemenangan di Pilpres 2019. Oleh karena itu, menurut dia, cawapres harus mampu menjadi energi baru bagi perjuangan dalam pesta demokrasi tersebut.

"Kecuali tiba-tiba di menit-menit akhir ini muncul nama dan pasangan baru yang dapat membuat wajah pertarungan menjadi berbeda dan penuh kejutan," tutur Dimas, Kamis (09/08/2018).

Dimas menilai, terpilihnya Ma'ruf Amin sebagai cawapres Jokowi menunjukkan kekhawatiran terhadap munculnya hoaks dan isu agama dalam Pilpres 2019. Menurut ia, Ma'ruf Amin sebagai Ketua MUI dan Rais Aam PBNU bisa membantu Jokowi untuk mewujudkan agenda besarnya dalam pembangunan ekonomi umat sekaligus mengatasi kesenjangan sosial serta melawan radikalisme.

"Kenyataan bahwa usia Ma'ruf Amin yang tidak muda lagi dapat diantisipasi dengan strategi Jokowi merekrut anak-anak muda sebagai tim sukses dan dalam kabinet pemerintahan mereka mendatang jika berhasil memenangkan pemilu presiden 2019," ujarnya menambahkan.

Dimas mengatakan, tantangannya yaitu sejauh mana pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin tetap menjaga konsolidasi partai pendukung dan relawannya. Mengenai pasangan Prabowo-Sandiaga Uno, lanjut Dimas, masalah yang mereka hadapi adalah seberapa mampu mendapatkan dorongan dari basis-basis sosial yang menjadi penentu politik dalam sejarah pemilu di Tanah Air.

Dimas mengatakan, basis pemilih Islam, baik itu NU dan Muhammadiyah, basis tradisional maupun urban, akan menjadi tantangan bagi pasangan ini. "Selain tentunya sebagai dua calon yang berasal dari partai yang sama, sejauh mana mereka mampu meyakinkan konstituen partai koalisi lainnya agar secara yakin dapat menjadi mesin politik yang efektif bagi keduanya," kata dia.

Dimas menilai, sejak awal ambisi politik Sandiaga Uno adalah menjadi capres atau cawapres RI. "Dengan karakter ini, ia tak hanya menyalip Anies Baswedan yang sejak awal justru banyak dibicarakan akan maju nyapres, tapi juga AHY yang awalnya diperkirakan akan bersanding dengan Prabowo," terangnya.

Namun demikian, Dimas mengatakan, Sandi juga punya kelebihan. "Ia cukup mampu mengambil perhatian kalangan muda yang dalam Pemilu 2019 nanti akan menjadi pemilih terbesar secara populasi,” tutupnya.

Post a Comments
blog comments powered by Disqus