Di Balik Figur Teladan Umat KH Ma’ruf Amin

Comments 51 Views Views


Di Balik Figur Teladan Umat KH Ma’ruf Amin

SIPerubahan- Sebagian dari masyarakat kita mungkin cukup terkejut dengan terpilihnya KH Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presiden Joko Widodo. Ya, dalam sepekan terakhir media mainstream banyak memberitakan soal Kiai Ma’ruf pendamping Jokowi tersebut. Namun siapakah sosok Kiai Ma’ruf tersebut? 

KH Ma’ruf Amin merupakan Rais Aam Nahdlatul Ulama, organisasi Islam terbesar di Indonesia. Seorang Rais Aam, pemimpin tertinggi, jabatan yang diduduki pertama kali oleh sang pendiri NU, Kiai Mohammad Hasyim Asy’arie. Tak ada keraguan di dalamnya. Segenap kalangan NU bernaung di bawahnya.

Kiai Ma’ruf adalah Ketua Majelis Ulama Indonesia, yang fatwanya pernah dibela dalam bentuk aksi berjilid-jilid di tanggal-tanggal cantik oleh -katanya- berjuta-juta umat. Ia cucu langsung seorang Imam Masjidil Haram -Masjid utama kaum muslimin, tempat Kabah berdiri.

Kiai Ma’ruf diangkat menjadi imam besar di Masjidil Haram di usia 45 tahun. Muridnya yang terkenal di negeri ini yaitu K.H. Hasyim Asy’ari dan K.H. Ahmad Dahlan, dua ulama yang masing-masing mendirikan organisasi Islam terbesar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah.

Menariknya, Kiai Ma’ruf Amin yakni cucu Syaikh Nawawi Al-Bantani alias Syech Tanara. Hingga saat ini, Kiai Ma’ruf masih mengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi di Desa Tanara, Serang Banten Jawa Barat — pesantren dengan ribuan santri yang namanya diambil dari nama sang kakek, Imam Masjidil Haram dari Indonesia.

Dalam perjalanan sejarah, dari Indonesia- setidaknya dari wilayah yang kini bernama Indonesia — ada tiga ulama Indonesia yang pernah menjadi Imam Masjidil Haram.

Alasan lain terpilihnya Kiai Ma’ruf tentu dari kaca mata politik. Jokowi merupakan politisi handal, padanya selain melekat idealisme seorang negarawan, juga pragmatisme seorang politisi yang perlu mengatur strategi kemenangan.

Begitu handalnya Jokowi, orang-orang jadi lupa, bahwa ia tak pernah kalah setiap kali terjun dalam kontestasi politik. Dua kali memenangkan pemilihan Wali Kota, sekali di pemilihan gubernur, dan puncaknya jadi presiden. Dengan gaya bicara sedikit kemayu, berbicara pelan dan santun, dan tak begitu pandai bersilat kata, Jokowi bisa menaklukkan partai-partai besar yang dulu berseberangan dengannya.

Tentunya, Kiai Ma’ruf tak akan menjadi duri dalam daging Jokowi. Karena kesempatan yang terbuka di akhir periode, tak membuat Muhaimin Iskandar dan PKB-nya lari dari koalisi, tak membuat Megawati Soekarnoputri khawatir soal nasib PDIP dan trah Soekarno di tahun 2024 mendatang.

Post a Comments
blog comments powered by Disqus