Saatnya Generasi Milenial Berkontribusi Dalam Pemilu 2019!

Comments 264 Views Views


Saatnya Generasi Milenial Berkontribusi Dalam Pemilu 2019!

SIPerubahan - Tak lama lagi pertarungan Pileg dan Pilpres 2019 akan berlangsung. Pertarungan politik tahun 2019 sudah mulai terasa sejak Pilkada Serentak 2018 bulan Juni lalu. Peta calon Presiden dan Wakil Presiden mulai dikumandangkan, perwakilan tiap-tiap partai untuk calon legislatif mulai bergerilya dan poster-poster calon pun sudah mulai disebar.

Bagi masyarakat, Pileg dan Pilpres selalu menarik. Melihat perjuangan para pihak yang ingin menjadi wakil rakyat dan di sisi lain melihat respon masyarakat atas perjuangan yang dilakukan para calon wakil rakyat tersebut. Namun sayang, ada yang spesial di Pileg 2019 mendatang. Hal ini karena secara umum, generasi muda milenial akan memberikan kontribusi yang signifikan dalam percaturan politik di negeri ini.

Memang ada beberapa generasi muda milenial yang sudah berpartisipasi dalam Pemilu 2014 lalu. Tapi ada hal-hal menarik yang ditangkap beberapa waktu terakhir ini. Berkenaan generasi milenial muda dan politik dalam konteks kekinian. Dari beberapa sumber, salah satunya pada situs Goldman Sachs, dijelaskan bahwa milenial lahir antara tahun 1980 sampai 2000.

Menjelaskan bahwa generasi milenial yang dikenal sebagai Generasi Y merupakan kelompok demografi yang melanjutkan Generasi X. Jangka waktu permulaan maupun akhir dari generasi milenial sangat beragam. Tetapi secara umum kebanyakan generasi milenial secara demografis akan menguasai Abad 21.

Berbagai hasil peneltian menunjukkan generasi milenial merupakan generasi yang mengalami transisi perkembangan teknologi. Misalnya, generasi muda terdahulu tidak mengenal internet, namun generasi muda saat ini internet menjadi salah satu komponen penting dalam keseharian.

Pada saat itu belum ada teknologi video call, tapi saat ini video call merupakan salah satu cara generasi muda millennial berkomunikasi. Mereka lihai dalam menggunakan dan memanfaatkan teknologi. Contoh paling umum yaitu penggunaan media sosial. Generasi milenial sangat merasakan proses perubahan dan perkembangan teknologi dan sangat bergantung dengan teknologi dalam aktifitas keseharian mereka.

Kemudian apa hubungannya dengan politik? Hampir seluruh generasi milenial akan menjadi penentu kepemimpinan di masa mendatang. Pemerintah, partai politik, elite politik, politisi dan masyarakat pun sadar akan pentingnya untuk memahami generasi milenial.

Mereka menaruh harapan besar pada anak-anak muda, generasi milenial. Mendorong sekaligus memberikan ruang untuk terjun ke dunia politik. Berkonstribusi langsung  untuk kemajuan negeri ini. Kondisi mulai dominannya generasi muda milenial juga direspon oleh generasi muda milenial itu sendiri. Beberapa generasi milenial sudah mulai memahami pentingnya berpolitik.

Akhir-akhir ini sudah beberapa anak muda yang semakin tertarik mengambil jalur politik untuk berkontribusi bagi negeri. Seperti yang sudah banyak kita ketahui, salah satu partai baru, yaitu Partai Solidaritas Indonesia membuka kesempatan bagi para generasi muda.

Sebut saja, Tsamara Amany yang notabene masih sangat muda, akan bertarung pada tahun 2019 melalui Partai Solidaritas Indonesia. Figur-figur tersebut tentu memulai kontribusi mereka dengan masuk ke dalam partai politik. Meski begitu, tentunya tidak semua generasi muda milenial akan berkontribusi secara langsung dengan masuk ke dalam partai politik.

Walaupun begitu, apakah generasi muda milenial lainnya tetap harus terdiam dan apatis saja terhadap politik? Tentu tidak. Sekarang sudah waktunya generasi muda terjun berpolitik.

Suasana perpolitikan saat ini sudah sangat menarik dan seru untuk diikuti. Teman-teman di kampus sudah berani membahas calon presiden dan wakil persiden di Pilpers 2019 mendatang.

Terlebih acara diskusi, sampai perdebatan para elite politik dan pengamat sangat menyita perhatian masyarakat. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa anak muda terutama generasi milenial sudah mulai memperhatikan politik.

Bahkan masyarakat berani menyatakan dukungannya pada salah satu calon, lalu ada juga yang berani berdebat satu sama lain karena pilihan mereka berbeda. Ini hal yang sangat baik bagi perkembangan demokrasi dan perpolitikan di Indonesia.

Dalam Pileg dan Pilpres 2019 nanti, generasi muda milenial sudah mulai mencari tahu siapa yang mereka pilih, apa yang akan dilakukan para calon, apa ide mereka untuk Indonesia. Sudah sepatutnya generasi muda milenial harus terjun ke dalam politik. Tidak perlu menjadi calon legislatif (caleg) atau bergabung dengan partai, namun cukup untuk mencari tahu dan menentukan pilihannya.

Selanjutnya, akan lebih baik bila generasi muda milenial mencari tahu lebih banyak. Yang saya maksud yaitu untuk Pemilu Legislatif 2019 mendatang. Sudah bukan rahasia lagi kalau banyak masyarakat kita sekarang ini yang mempertanyakan kinerja wakil rakyat yang duduk di DPR maupun di DPRD. Produktifitasnya, kontribusi yang mereka berikan kepada masyarakat, belum lagi berita-berita miring yang melanda mereka. Namun sayang, terkadang masyarakat juga lupa kalau anggota legislatif juga merupakan hasil dari Pemilu yang masyarakat juga berkontribusi di dalamnya.

Penting untuk diingat bahwa tugas legislatif yakni membuat undang-undang. Dengan membuat undang-undang yang baik, maka akan dapat membawa kebaikan bagi masyarakat. Kita harus sadar bahwa semua hal yang diatur akan berdampak pada masyarakat. Investasi, perdagangan, rumah murah, perburuhan, perlindungan hak asasi manusia dan lainnya akan bersumber dari aturan yang dibuat oleh legislatif.

Sayangnya, beberapa orang masih merasa apatis dan mempertanyakan untuk apa berpolitik, untuk apa mendukung anggota DPR atau legislatif lainnya, dan lain-lain. Padahal pekerjaan anggota legislatif sangat substansial bagi perkembangan dan stabilitas di negeri ini.

Karena itu, penting bagi kita, terutama generasi muda milenial untuk memahami lebih jauh tentang Pemilu. Bukan hanya Pilpres, tetapi juga Pemilu Legislatif.

Mungkin akan timbul pertanyaan, apa yang harus dilakukan? Menurut saya, khususnya untuk pemilu legislatif, kita harus mulai untuk mencari tahu siapa yang akan menjadi caleg di daerah pemilihan kita sendiri.

Paling tidak, terapkan background check dan pahami visi dan misinya. Bila hal itu terlalu berat, paling tidak, pahami partai pendukungnya, apa sejarah partai, visi dan misi, dan ide-ide yang sudah ataupun akan dilakukan partai tersebut ke depannya. Hal itu tentunya menjadi tugas kita sebagai warga negara. Hanya mencari tahu dan membaca untuk perhelatan politik yang terjadi setiap lima tahun sekali tentunya tidak berat. Kontribusi kita sangat penting untuk perkembangan negeri ini di masa mendatang.

Tak hanya itu, sebagaimana generasi yang paham teknologi, tentunya sangat mudah sekali untuk mencari informasi apapun. Termasuk informasi mengenai pemilu dan hal yang berkaitan dengan itu. Seharusnya generasi milenial harus sadar akan hal itu. Sadar bahwa teknologi yang dimiliki saat ini merupakan alat yang sangat powerful apabila dikelola sangat baik.

Intinya, generasi milienal harus dapat memanfaatkan teknologi dengan baik, mencari tahu lebih untuk pemilu 2019, berkontribusi lebih baik, dan bersinergi bagi kemajuan negeri ini.

Ibarat sebuah pepatah, tidak mungkin sekumpulan singa dipimpin oleh kambing, dan tidak mungkin sekumpulan kambing dipimpin oleh singa. Pemimpin yang dipilih adalah cerminan pemilihnya. Masyarakat pun berharap kontribusi generasi muda milenial untuk Pemilu 2019 semakin substansial dengan berbagai kelebihan yang dimiliki generasi tersebut.

Post a Comments
blog comments powered by Disqus