Eksploitasi Aurat dan Disrupsi Syahwat


Eksploitasi Aurat dan Disrupsi Syahwat

Ketika Mark Zuckeberg menemukan Facebook dan memutuskan untuk drop out demi menjadi anak muda terkaya di dunia, ia belum terpikir bahwa data yang orang simpan di sosial media temuannya akan bisa digunakan untuk keperluan bisnis bahkan politis. Tetapi di sinilah kita, sebagai sesama jemaah Facebook, ‘dikejutkan’ oleh pembobolan data oleh Cambridge Analytica yang berkontribusi terhadap menangnya Donald Trump di Amerika Serikat. Dan lalu kita ingat bahwa Facebook bukan satu-satunya sosial media yang kita gunakan, dan bahwa bukan hanya di Facebook kita menaruh data dan informasi kita, tetapi juga di platform sosial media yang lain, terintegrasi dengan Google dan nomor ponsel.

Tetapi barangkali di situlah letak paradoks sosial media. Ia membuat kita merasa seolah-olah sedang curhat sendirian sehingga tidak segan membagi hal-hal paling rahasia, hal-hal paling personal, aurat-aurat kita, kepada khalayak ramai. Kita merasa sedang berkeluh-kesan sendirian sambil diam-diam menakar kadar kualitas diri dan kicauan kita berdasarkan jumlah likes, comment, subscribe, followers, dan share. Dan sebagai ekses dari kesediaan kita untuk membuka aurat-aurat kita secara sukarela adalah hilangnya privasi kita: jejak digital kita akan dengan mudah ditemukan dan karenanya dieksploitasi.

Kita menjadi rapuh di hadapan semesta sosial media dan netizennya yang mahatahu, mahasuci, dan mahakuasa. Kegiatan singkap-menyingkap aurat tidak lagi terbatas dengan kesukarelaan menyingkap aurat diri sendiri atas nama eksistensi, tetapi juga syahwat mengeksploitasi aurat orang lain. Jangan berani Anda kritik saya, nanti besoknya, aurat Anda saya singkap! Jangan mau pilih cagub yang itu, dia dukun. Jangan mau nonton acara alay, talent-nya pelakor. Dosa, aib, dan kekurangan orang menjadi komoditas untuk dikomersialisasi, dieksploitasi, demi keuntungan dan kepentingan pribadi. Mau auratnya Cupi Cupita atau Lucinta Luna? Mau auratnya Anies atau Ahok? Ayuk, semua ada di sini!

Kesemua itu tidak lepas dari sifat sosial media yang menawarkan kebebasan yang seolah bersifat absolut. Meski kita tahu bahwa bahkan dalam sosial media ada norma, kita menemukan peluang untuk melonggarkan sabuk pengaman kita dan membiarkan syahwat kita memegang kendali, mengontrol postingan dan komentar kita. Berabad lamanya kita meyakini budaya bangsa kita sebagai bangsa yang ramah, sopan, senang gotong-royong, toleran. Hari ini, tawaran kebebasan itu direspon dengan ketidakterkontrolannya syahwat kita: seperti kuda dilepaskan dari kandang, meringkik dia itu, mencari muka, melampiaskan dendam atas keterkekangannya.

Misalnya, syahwat mem-bully. Betapa besar syahwat kita untuk menyakiti orang lain, menjatuhkan mereka, disrespect terhadap apa-apa yang mereka kerjakan dan raih. Kita selalu menemukan alasan untuk melihat sisi buruk dari segala kebaikan, dan dengan itu memuaskan ‘syahwat-menghakimi’ kita kepada orang lain. Fakta bahwa kita tidak mem-bully secara langsung, muka ke muka, membuat kita merasa aman untuk menyemprotkan hinaan dan cibiran. Belum lagi peluang untuk bersembunyi di balik akun-akun palsu. Kita lempar batu sembunyi tangan, keluar dari balik dinding dengan lagak suci seperti Nabi.

Tapi itu bukan satu-satunya syahwat yang tidak terkontrol. Kita juga dikendalikan oleh syahwat mengomentari orang lain tetapi abai pada otokritik. Kita jadi kagetan, kesalan, baperan, tetapi abai pada perasaan orang lain yang kita jatuhkan. Lalu kita merasa mesti mengokohkan brand kita di mata khalayak followers dan dengan itu kadang terjebak, menjebakkan diri, atau dijebak ke dalam, misalnya, twitwar. Kita bersitegang dengan seseorang yang tidak jelas apakah asli atau buzzer bayaran, tentang sesuatu yang sejak awal sudah tidak sepaham, yang sudah tidak sama mindset dan standpoint-nya. Kita bersyahwat memercik air di dulang, bermain api biar kebakaran.

Dan di tengah itu semua, kita mesti meredam godaan untuk narsistik dan candu glorifikasi dengan memberitakan ibadah-ibadah yang kita lakukan, dengan selfie buka puasa, dengan pamer sedekah, dengan posting ayat suci yang tidak kita pahami dan kerjakan. Betapa besar syahwat kita beribadah tanpa kesediaan mendalami ilmunya padahal Tuhan jelas menegaskan bahwa seribu ahli ibadah tapi jahil kalah dengan seorang alim. Selesai? Belum, kita masih digodai syahwat menyerang pribadi orang lain sehingga tidak peduli apapun argumen Anda, kalau Anda adalah musuh politik saya, maka saya bisa serang fisik Anda, keluarga Anda, kebiasaan sehari-hari Anda. Itu sudah. Gagasan Anda nomor sekian.

Lalu ada syahwat main hakim sendiri. Masih ingat hoax orang gila adalah PKI? Berapa banyak yang kemudian dipersekusi hanya karena dicurigai oleh asumsi yang tanpa bukti.  Lalu ada dua sejoli yang ditelanjangi dan dipermalukan habis-habisan, dituduh mesum! Betapa gatal kita menjadi polisi moral bagi orang lain sambil abai pada aurat-aurat sendiri. Kita pertuhankan syahwat kita, kita lepaskan selepas-lepasnya. Kita yang telanjang, orang lain yang kita suruh berpakaian.

Pada titik inilah kemudian semangat puasa mesti kita revolusikan. Puasa tidak boleh lagi terbatas dan dibatasi pada pemahaman menjaga diri dari makan dan minum dari fajar hingga maghrib, menjaga diri dari nafsu syahwat berahi, tetapi juga dari syahwat-syahwat yang tak kalah menggelisahkan kemanusiaan dan keberislaman kita. Apalagi, puasa memiliki peran fundamental dalam membendung disrupsi syahwat di era kebebasan dan keterbukaan seperti sekarang. Sehingga, semangat puasa mesti memanifestasi sebagai sikap menahan diri dalam berteknologi, dalam bersosial media, sehingga terhadap penyebaran hoax, kita puasa; terhadap cyber bullying, kita shaum; terhadap merasa diri paling benar, kita melemahkan diri.

Pula kita belajar untuk menahan diri, untuk tidak reaktif. Misalnya, menahan diri untuk menuduh dungu dan anakan dajjal pada sesuatu yang sebetulnya kita pahami sepotong saja. Atau puasa dari diperbudak kemarahan sehingga enggan memaafkan dan merasa harus menuduh yang tidak-tidak pada kiai sealim KH. Ma’ruf Amin. Pada akhirnya, revolusi puasa itu melatih kita untuk belajar sepenuh-penuhnya meng-ilah-kan hanya Allah dan Allah saja.

Irfan L. Sarhindi

Pengasuh Salamul Falah

Lulusan University College London

Associate Researcher Akar Rumput Strategic Consulting

 

Sumber gambar: https://jalantikus.com/tips/cara-mengetahui-berita-hoax/ 

Post a Comments
blog comments powered by Disqus