Islam, Literasi, dan Nalar Kritis Kita


Islam, Literasi, dan Nalar Kritis Kita

Jika kita melihat kembali konteks dan (potensi) alasan di balik keterpilihan kata ‘iqra’ sebagai kata pertama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad, kita bisa meyakini bahwa Islam sebetulnya adalah agama (yang mendorong, menggarisbawahi, dan menginstal budaya) literasi. Padahal, iqra sendiri tidak dijuluki ‘umm al-Qur’an’, let alone menempati posisi ‘sesakral’ basmalah. Tetapi rupanya, setelah al-Quran dalam jumlatan wahidatan (wujudnya yang keseluruhan) diturunkan ke langit pertama, iqra-lah yang dipilih sebagai pintu pembuka revolusi nilai dan peradaban umat.

Dan instrumentalitas kata ‘iqra’ sendiri semakin kentara manakala sifat ummiyy-nya Nabi (illiterate, buta huruf) kita ketengahkan. Apalagi sepertinya, tradisi menulis dan membaca di tengah masyarakat Arab saat itu tidak semenonjol tradisi mendengar dan menghafal. Para penyair mendeklamasikan syairnya tanpa membaca teks yang ia tuliskan; para pendengar yang jatuh-kagum menghafalkannya di dalam hati, mengulanginya sewaktu-waktu sebagai bentuk perayaan atas kehidupan atau sebagai referensi untuk mengomentari suatu peristiwa.

Kuatnya tradisi menghafal membawa masyarakat pada pengetahuan yang luas tetapi tidak selalu pada pemahaman. Pasalnya, dengan menghafal, masyarakat dapat memasukkan sebanyak mungkin informasi/pengetahuan, tetapi ia berhenti sampai di sana. Masyarakat tidak terlatih untuk membaca konteks, mengkritisi konten, mempertanyakan makna, dan  mengekstrasi kesimpulan. Masyarakat kehilangan nalar kritis. Contohnya, mereka dengan mudah taqlid buta pada pendapat Amr bin Luhai yang bilang bahwa Latta dan Uzza adalah anak-anak perempuan Allah.

Hasil dari revolusi literasi oleh Islam adalah perubahan peradaban di Tanah Hijaz, merambat ke pelbagai daerah lain di seluruh dunia. Masyarakat yang dulunya amat hierarkis sehingga pintu Ka’bah saja hanya diperuntukkan pada Quraisy si ‘Terpilih’, kini boleh dimasuki—untuk shalat, misalnya—oleh (mantan) hamba sahaya semisal Bilal Ibn Rabbah. Perempuan, yang asalnya dipandang sub-ordinatif terhadap laki-laki, diberi pangkat dan keistimewaan—hormatilah kaum Ibu tiga kali lipat dibanding kaum bapak. Semua orang diajarkan bahwa manusia adalah setara, satu-satunya pembeda hanya kadar ketakwaannya.

Jika dulu Arab amat chauvinistik sehingga perang antar suku amat lazim, Islam membangun idea universalitas kemanusiaan di mana persaudaraan didefinisikan secara lebih  luas. Toleransi dibangun; kebebasan beragama dan melaksanakan ajaran agama masing-masing dihormati; keputusan dibangun atas dasar kesepakatan bersama. Dan semua itu berawal dari nalar kritis untuk membaca, mengkritisi, mengkontekstualisasi, dan menguji nilai-nilai yang kadung dinormalisasi, privilege yang kadung dianggap wajar, diskriminasi tak kasat mata yang dianggap ‘sudah biasa’.

Dengan semangat itu pula masyarakat Islam mencapai masa keemasannya. Tidak hanya khazanah keilmuan fiqh dan tasawwuf saja yang berkembang, bahkan kedokteran, matematika, astronomi, dan fisika. Baghdad sempat menjadi saksi besarnya gairah masyarakat Islam akan ilmu pengetahuan, akan pencaritahuan, yang bersumbangsih terhadap kemajuan peradaban dan pri kehidupan. Walau kemudian masa-masa itu perlahan redup dan kita tertinggal oleh sebab sikap antipati terhadap tradisi bertanya dan kemasihmelekatan dampak invasi Eropa pasca revolusi industri ke Timur Tengah secara khusus dan ke seluruh dunia secara umum; serta hegemoni Amerika sebagai, kalau merujuk Noam Chomsky, satu-satunya superpower pasca Perang Dunia II.

Dalam konteks Indonesia sendiri, literasi dan nalar kritis masih merupakan salah dua problem mendasar umat. Dalam konteks membaca teks/tulisan saja, misalnya, minat masyarakat Indonesia masih sangat rendah—kedua terbawah dari 61 negara versi riset dari Central Connecticut State Universty. Itu baru ‘minat’ untuk membaca. Belum ‘kemampuan’ untuk membaca, mengkritisi, dan mengekstrasi bacaan. Karena walaupun kita bisa membaca—huruf ke huruf, kata ke kata, kalimat ke kalimat—tidak semua dari kita bisa mengerti dan memahami apa yang ditulis, syukur-syukur dapat mengkoneksikannya dengan realitas sehari-hari.

Dan situasi tersebut ‘diperparah’ oleh keserbamudahan akses serta ketakberhinggaan informasi di internet. Dengan keserbamudahan tersebut kita jadi merasa tidak ada urgensi untuk membaca secara seksama, karena yang perlu kita lakukan hanya googling. Selesai. Akibatnya, kita jadi rentan sekali kita dimakan hoax, dipelintir narasi absurd yang pseudo-religius, untuk kemudian terjebak dalam logical fallacy sebagaimana warga Arab pra-Islam.

Pada titik itulah urgensi literasi mesti diperluas ke dalam konteks teknologi dan media. Tidak hanya karena perkembangan keduanya telah membawa kita pada post-truth dan bahwa ia menuntut kita untuk tidak reaktif serta harus senantiasa ber-tabayyun, perkembangan teknologi dan media juga pada akhirnya harus dikontestasi dan dianalisa dampak-dampaknya terhadap tatanan sosio-kultur kita. Selain juga kita mesti diingatkan tentang diversitas sudut pandang dan keterbatasan kita untuk memahami sesuatu secara holistik.

Dengan tingginya religiusitas dalam pri kehidupan kita, illiteracy dan ketiadaan nalar kritis bisa amat berbahaya. Kita menjadi sudah cukup bahagia dengan ibadah mahdah yang Nabi jelaskan secara praktis tanpa merasa ada urgensi untuk menggali semakin dalam dan semakin dalam lagi akan hikmah, filosofi, dan pelajarannya. Akibatnya, keislaman kita menjadi formalistik, pemahaman kita terhenti di tataran kulit, dan kita seperti robot pabrik yang setia pada rutinitas tanpa tertarik mempertanyakan alasan, misi, dan tujuan kenapa kita dihidupkan dan (masih) diberi kesempatan.

Akibat turunannya: kita dapat dengan mudah diprovokasi, dipantik amarahnya, oleh sentimen-sentimen berbau keagamaan. Bahkan ketika Islam mengajarkan berbuat adil, sabar, dan toleran, ‘kesemakin-salehan’ kita secara ritual malah membuat kita menjadi kasar dalam perangai. Pada titik inilah semangat iqra perlu dipantik kembali demi menguatkan kesadaran dan nalar kritis kita atas teks dan konteks; apalagi di tengah gencarnya politisasi agama dalam kontestasi politik belakangan ini.

 

Irfan L. Sarhindi

Pengasuh Salamul Falah

Lulusan University College London

Associate Researcher Akar Rumput Strategic Consulting

Source gambar: https://www.pinterest.co.uk/pin/380554237234292419/

Post a Comments
blog comments powered by Disqus