Mempuasai Kembali Keislaman Kita


Mempuasai Kembali Keislaman Kita

Lebih dari separuh ajaran Islam adalah tentang puasa, tentang apa yang disebut Foucault sebagai pendisiplinan diri (discplining the self) dan yang Imam Abu Hamid al-Ghazali artikulasikan sebagai pendisiplinan jiwa (discplining the soul). Idenya sederhana: terlepas dari potensi kebaikan akibat kepemilikan akal, manusia sepanjang hayatnya diuji dengan hawa nafsu. Dalam bahasa Thomas Hobbes, manusia itu barbar, berpikiran pendek, nakal, dan jika tidak diatur, bisa saling bunuh, memangsa  satu sama lain (homo humuni lupus), war of all againts all.

Oleh sebab itu Malaikat pernah meragukan kemampuan kita sebagai khalifah-Nya. Karena itu, Islam secara sistematik mengatur tingkah-polah manusia agar kita bisa menjaga fitrah kebaikan dalam diri kita sekaligus jika mungkin, mengekskalasi derajat kita menjadi lebih mulia ketimbang Malaikat. Yang diatur bahkan tidak hanya hal-hal prinsipil dan fundamental seperti tauhid tetapi bahkan perkara-perkara elementer yang remeh-temeh seperti kaki pertama yang digunakan saat masuk WC.

Manusia perlu didisiplinkan. Dan salah satu cara pendisiplinan itu adalah dengan membangun kesadaran ber-rukun ihsan. Jika menggunakan pendekatan perspektif panopticism-nya Foucault, kita ini harus disituasikan seperti ‘tahanan’ yang senantiasa merasa ‘diawasi’ oleh para ‘sipir’ sehingga menjaga diri dalam bersikap. Mungkin sense-nya negatif, tetapi benang-merahnya sama. Kita didisiplinkan dengan ide bahwa Allah senantiasa melihat kita, bahkan ketika kita benar-benar hanya sendirian. Bahwa kita senantiasa didampingi dua Malaikat pencatat amal sehingga sebetulnya kita tidak punya alasan untuk mendurhakai-Nya, untuk berbuat kerusakan, fasad dan mungkar, untuk bertindak melampaui batas.

Salah satu metode dan instrumen yang Allah berikan kepada kita, dalam rangka men-charge sekaligus melatih kemampuan pengendalian dan pendisiplinan diri dan jiwa kita adalah puasa Ramadhan. Selama sebulan kita dilatih menahan dan mengendalikan diri mulai dari makan dan minum, hingga dari perbuatan-perbuatan lalim. Prize-nya telah Allah jelaskan secara gamblang: takwa. Sedangkan ketakwaan meningkatkan kemuliaan derajat kita di hadapan-Nya: inna akromakum ‘indallahi atqokum.

Bagi Cak Nun, puasa memiliki dua lapis tingkatan. Pertama, siyam. Ia melatih kita untuk mempuasai nafsu makan-minum kita, mencegah kita dari ‘bahaya laten’ konsumerisme. Puasa memperlihatkan ‘batas kebutuhan’ perut dan ketidakterbatasan ‘nafsu mata’ melalui simulasi menahan-lapar selama kurun waktu tertentu. Tetapi kita tahu bahwa Ramadhan, terlepas dari fungsi pengekangan yang ia miliki, ternyata malah terdegradasi menjadi sebatas festival kultur kuliner di mana side effect-nya ada dua: sampah makanan yang menumpuk, perut kekenyangan sampai sulit tarawih.

Kedua, shoum yang berfokus pada upaya pendisiplinan diri dari hal-hal yang membatalkan pahala puasa: berbohong, memfitnah, bersumpah palsu, nadru bis syahwat, dan aneka dosa-dosa lainnya. Yang didisiplinkan bukan lagi dimensi ‘diri’ tetapi dimensi ‘jiwa’. Yang dikuras-habis dan dibersihkan adalah kualitas hati dari segala penyakitnya. Yang dibangun adalah tembok pembatas agar si diri tidak bertindak tusrifuu (berlebihan, melampaui batas). Karena tindakan melampaui batas tidak hanya akan merusak dan merugikan sesama dan semesta, tetapi yang terutama adalah merugikan diri sendiri.

Menariknya, Ramadhan kali ini hadir di tengah panasnya situasi (kampanye) politik dengan Islam diset sebagai komoditas. Mestinya memang, momentum kali ini amat tepat bagi Ramadhan ‘melancarkan jurus pamungkas’-nya mencetak kita menjadi muttakiin dengan menyediakan bagi nafsu kita ‘jeda’ dan melatih ‘syahwat’ kita caranya mengerem. Tetapi kita menemukan diri kita tidak ragu menyebarkan hoax, melempar fitnah dan cacian, berseteru tak kenal lelah.

Yang satu mencairkan THR untuk ASN, yang lain menuding itu langkah politis memalukan. Para pengusung tagar #2019GantiPresiden bersepakat mudik bersama, membunyikan klakson sebagai simbol kemufakatan dan kemuakan atas rezim pemerintahan, dan pihak oposan memberikan sambutan hangat dengan tajuk “Anda sedang melewati jalan tol Pak Jokowi” lho. Ya ampun! Tidakkah ada perkara lebih substantif lain yang bisa kita diskusikan, kompetisikan demi kemaslahatan?

Masjid yang mestinya ussisa ‘alat taqwa disarankan untuk diposisikan sebagai lokus pemobilisasian kepentingan, yang dalam bahasa Gus  Nadir, ‘politik tingkat rendah’. Saking kelewat batasnya, Ramadhan yang disediakan Allah sebagai instrumen untuk kita menghamba kepada-Nya malah kita jadikan momentum menjadikan Allah hamba atas kepentingan-kepentingan (politik) kita. Allah kita kerdilkan sebagai, kalau istilahnya Cak Nun, staf yang bertugas untuk memenuhi dan mengkabulkan syahwat-syahwat kita; bahkan Allah di-partai-kan, diadu dengan setan, diklaim begini dan begitu. Allah jadi, frankly speaking, bahan lelucon.

Anda mungkin menjawab: ya ‘wajar’ wong dalam politik segala sesuatu dapat dikomodifikasi sesuatu ilah kepentingan. Mungkin memang benar. Tetapi bagaimana jika ternyata semangat religiusitas seseorang malah membuat dia bersikap melampaui batas? Bahwa terlepas dari Islam sebagai agama ‘puasa’ yang concern soal ‘pengendalian diri’ toh ada kecenderungan beberapa oknum Muslim yang mengekspresikan kesalehannya dengan sikap merasa diri paling benar, paling lurus, paling dekat dengan Allah.

Secara cupit, dia merasa bahwa hanya ada satu jalan kebenaran menuju-Nya dan itu adalah jalan kebenaran yang mereka pahami. Yang lain-lain pasti salah, sesat dan menyesatkan, bodoh dan membodohkan. Misal, ketika Gus Yahya diundang ke Israel, sebagian sibuk menganggap undangan tersebut sebagai pengkhianatan atas perjuangan kemerdekaan Palestina dan bahwa Gus Yahya (dan NU) pro-Israel. Kita tidak mengerti bahwa jalur perjuangan manusia berbeda-beda dan kita tidak pernah sebetulnya tahu jalur mana yang akan Allah grants kesuksesan.

Tetapi semangat keberislaman kita sudah kadung meletup-letup energinya, tidak terkendali, sehingga ditambah nir sikap kritis, pengetahuan dasar keislaman, dan kemawasdirian, semangat berislam itu justru malah mengkhianati cita-cita pendisiplinan jiwa yang diusung Islam. Yang terjadi kemudian adalah kita menemukan Muslim yang tidak hanya persekutif dan gampang menuduh, tetapi secara a-sadar boleh jadi melanggengkan diskriminasi kepada yang dianggap berbeda.

Irfan L. Sarhindi

Pengasuh Salamul Falah

Lulusan University College London

Associate Researcher Akar Rumput Strategic Consulting

Source gambar: http://wow.tribunnews.com/2018/06/10/viral-spanduk-jalan-tol-pak-jokowi-ferdinand-kegagalan-revolusi-mental-fitnah-pada-presiden

Post a Comments
blog comments powered by Disqus