Lebaran: Minta Maaf dan Memaafkan


Lebaran: Minta Maaf dan Memaafkan

Setelah secara sistematis dilatih berpuasa, menahan-diri dan mendisiplinkan jiwa selama sebulan, akhirnya kita tiba di hari yang kita sebut ‘hari kemenangan’: hari raya Idul Fitri. Dinamakan Idul Fitri karena selepas berpayah-payah puasa selama sebulan, jika beruntung dan sukses, kita akan kembali kepada kefitrahan kita sebagai human being. Putih bersih seperti bayi yang baru dilahirkan; seperti halaman kosong yang belum dituangi secuilpun coretan. Di hari kemenangan ini kita juga, jika beruntung dan sukses, akan dimahkotai ‘takwa’ sebagaimana dijanjikan Allah dalam al-Qur’an. 

Untuk menyempurnakan kemenangan dan ‘direbut kembalinya’ kefitrahan tersebut, secara sistematis kita ber-musafahah bermaaf-maafan, baik secara langsung tangan bertemu tangan, pipi bertemu pipi, pelukan bertemu pelukan, maupun via aneka kanal sosial media dengan bantuan broadcast dan copy-paste. Dalam satu dan lain hal bahkan, kegiatan bermaaf-maafan tersebut dapat menjadi indikator sejauh mana ketakwaan bertumbuh di dalam hati kita selepas puasa. Kenapa bisa demikian? 

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya ingin membagi prosesi maaf-maafan tersebut ke dalam dua kegiatan: (1) meminta maaf dan (2) memaafkan. Dengan bantuan instagram, saya mengadakan survey sederhana yang tentu saja tidak dimaksudkan sebagai survey dengan kredibilitas 100%. Alih-alih, ia dimaksudkan untuk meng-capture gejala, meraba narasi dan hipotesa. Dalam survey tersebut, saya mengajukan sebuah pertanyaan: mana yang lebih sulit, meminta maaf atau memaafkan? 

65% responden meyakini bahwa memaafkan (jauh) lebih sulit, sisa 37% memilih opsi satu lagi. Prosentasenya dapat berubah jika opsi jawabannya ditambah. Sebagian orang mengirim pesan untuk bilang bahwa kedua pilihan sama sulitnya. Sebagian lagi meminta opsi tambahan karena dua pilihan tersebut dirasa kurang mengakomodasi seluruh kecenderungan. Tetapi, terlepas dari itu semua, prosesi meminta maaf dan memaafkan sesungguhnyalah adalah ujian nyata bagi ketakwaan kita. Karena ia adalah ujian nyata, maka kemampuan kita meminta maaf dan/atau memaafkan pada akhirnya akan bisa menjadi indikator (utama) ketakwaan kita. 

Kita mulai dengan meminta maaf. Yang membuat minta maaf menjadi sulit, pertama, adalah karena kita kadang enggan atau tidak mampu mengakui kesalahan yang kita perbuat. Kita over-value diri kita seolah diri ini ma’shum sehingga meminta maaf tidak pernah muncul sebagai sebuah kemungkinan atau bahkan kewajiban. Ia akan menjadi lebih sulit ketika sikap over-value tersebut ‘dilengkapi’ nir kemampuan berinterospeksi. Dinding self defense mechanism kita terlampau tinggi sehingga kita menolak (merasa) bersalah/berdosa. ‘Kan merasa/mengakui diri ini bersalah/berdosa itu kadang menumbuhkan ketidaknyamanan dan tidak semua orang mampu deal dengan ketidaknyamanan tersebut. 

Apalagi kalau kemudian muncul dalam diri kita persepsi bahwa kita tidak butuh dimaafkan orang lain. Bahwa orang lainlah yang sebetulnya bersalah (terlepas dari apakah itu sepenuhnya benar atau tidak) sehingga harus meminta maaf lebih dulu. Singkatnya, butuh kerendah-hatian untuk meminta maaf. Semakin Anda tinggi hati, semakin meminta maaf terasa menghinakan diri sendiri. Padahal, Rasul sendiri sebagai uswah hasanah (suritauladan yang baik) tidak ragu untuk meminta maaf, walau kemungkinan para sahabat merasa dizalimi oleh beliau amat sangat kecil. Belum lagi fakta bahwa Rasul dijaga-terjaga segala perangainya (ma’shum). 

Tetapi di peristiwa haji wada kita menyaksikan bagaimana Rasul menawarkan dirinya untuk di-qishas jikalau beliau pernah berbuat tidak adil kepada salah seorang dari mereka. Rasul menunjukkan bagaimana pujian dan sanjungan dari Allah, Malaikat, para Nabi, dan alam semesta kepadanya tidak membuat beliau over-value diri beliau; tidak menjadikan beliau besar kepala dan tinggi hati. Adalah ‘mudah’ bagi beliau meminta maaf. Pertanyaannya kemudian, bagaimana cara mengukur kerendah-hatian? Salah satunya: dengan mengukur ‘kualitas’ masalah yang dapat membuat Anda tersinggung. Semakin mudah Anda tersinggung semakin besar kemungkinan Anda tinggi hati. 

Dari sana kita masuk kepada narasi Rasul dan seorang pengemis berkebangsaan Yahudi yang buta. Pengemis tersebut saban waktu disuapi Rasul, saban waktu itu pula menjelek-jelekkan beliau SAW. Dia tidak tahu bahwa orang yang menyuapinya, yang mendengarkan hate speech dan cibirannya adalah orang yang dia olok-olok. Pengemis itu baru tahu ketika Rasul jatuh sakit dan Abu Bakar memberitahu bahwa yang selama ini menyuapinya adalah Rasulullah. 

Demikian rendah dan lapang hati Nabi sehingga Nabi dapat dengan mudah memaafkan. Bayangkan: disanjung oleh Tuhan dan para Nabi, tetapi tidak merasa tersinggung dan malah membalas orang yang menyinggungnya dengan kebaikan. Bagaimana dengan kita? Kadang dalam diri kita muncul rasa bangga terhadap diri kita sendiri—bisa karena status sosial, derajat keilmuan, pekerjaan, penghasilan, dan lain-lain—sehingga membuat kita merasa tidak layak disakiti. Dengan keyakinan/persepsi tersebut, kita merasa tersinggung dan marah ketika ada orang yang berbuat salah kepada kita karena kita merasa tidak layak diperlakukan seperti itu. 

Masalahnya boleh jadi kecil tetapi rasa diri besar membuat kita enggan memaafkan. Apalagi jika kita merasa (terlepas dari benar atau tidak) bahwa orang yang bersalah kepada kita tidak tulus meminta maaf atau bahwa dia punya itikad mengulangi kesalahan serupa atau malah lebih besar lagi. Memaafkan jadi terasa seperti buang-buang energi dan hanya menandakan kenaifan kita menyikapi sikap buruk orang lain. Karena itulah dalam memaafkan butuh kebesaran hati, butuh keikhlasan, butuh kedewasaan. Puncak dari sikap ini adalah ketika kita mampu memaafkan orang yang bersalah kepada kita bahkan jauh sebelum orang tersebut (beritikad) meminta maaf. 

Kita mungkin merasa meminta maaf dan memaafkan hanya akan menguntungkan orang lain. Kita lupa bahwa meminta maaf dan memaafkan adalah upaya pembebasan hati dan jiwa kita dari rasa bersalah, dari penyakit hati seperti kemarahan dan dendam. Sedangkan mengelola kemarahan dan dendam seperti mengelola api yang akan membakar hangus tidak hanya pahala dan potensi kebaikan kita, tetapi yang lebih penting: kebahagiaan kita. Puncaknya adalah ghina ‘anin naas di mana bahagia kita tidak lagi dipengaruhi atau ditentukan oleh apa yang seharusnya dilakukan atau tidak dilakukan orang lain. Kita menjadi manusia merdeka, manusia yang utuh kemanusiaannya. Dan bukankah itu yang menjadi inti kemenangan selepas letih mengokang senjata di medan-puasa?

Irfan L. Sarhindi
Pengasuh Salamul Falah
Lulusan University College London
Associate Researcher Akar Rumput Strategic Consulting

Source gambar: http://www.dutaislam.com/2018/06/minal-aidin-wal-faizin-atau-Taqabbalallahu-minna-wa-minkum.html?hl=in_ID&m=1

Post a Comments
blog comments powered by Disqus