Mudik dan Kesadaran Mengembali


Mudik dan Kesadaran Mengembali

Mudik adalah peristiwa kultural yang mempersyaratkan dua dimensi: migrasi dan ‘kepemilikan’ kampung halaman. Ia boleh jadi berangkat, atau setidak-tidaknya berjalin-kelindan, dengan ketimpangan ekonomi akibat keterpusatan pembangunan ekonomi di kota-kota besar. Muncullah urbanisasi. Orang ramai mengadu nasib mengejar kesuksesan (ekonomi) dengan meninggalkan kampung yang ‘udik’, tidak menjanjikan apapun kecuali ketertinggalan dan kemiskinan. 

Tetapi sejauh-jauhnya kita pergi, pada akhirnya tumbuh kerinduan mengembali. Sebagai negara mayoritas Muslim, muncul kemudian kultur pulang ke kampung di libur Idul Fitri. Bahkan kemudian, kultur ini difasilitasi oleh sejumlah peraturan dan privilige di mana umat Islam kelas pekerja mendapat jatah libur lebih lama ditambah insentif tambahan yang disebut THR. Di sisi lain, umat Islam kelas pengusaha menjadikan momen Ramadhan akhir sebagai momentum membagikan zakat dan sedekah sebagai pengisi amplop-amplop THR para karyawannya. Toko-toko banting harga agar uang THR dikonversi ke dalam pakaian, parcel, dan aneka oleh-oleh lainnya untuk dibawa pulang ke kampung halaman. 

Kemudian, sebagai warga Muslim religius, fenomena kultural ini dikontestasi. Bid’ah, katanya. Rasulullah tidak pernah mudik lebaran. Anggapan ini berangkat dari pemahaman simplistik, tentu saja. Padahal dalam mudik terkandung unsur-unsur Islami semisal silaturahmi, musafahah, halal bi halal, hingga haddu tahabbu (memberi hadiahlah kamu, agar kamu saling menyayangi). Lagipula, siapa bilang Rasulullah tidak pernah mudik? Ketika muncul dalam mimpi beliau wajah Mekah, beliau amat antusias. Bertahun-tahun beliau ‘dipaksa’ migrasi, dipersulit untuk berkunjung ke kampung tercintanya itu, dan Allah kemudian mengirim sinyal izin walau kemudian mudik tersebut mesti tertunda lebih dari setahun ‘akibat’ Perjanjian Hudaibiyah. 

Dan mudik sejatinya bukan semata peristiwa migrasi fisik dari kota ke muasal tempat kelahiran kita atau bapak/ibu kita. Cak Nun menyebut mudik sejatinya adalah proses mengembali kepada diri sendiri. Banyak orang pergi terlalu jauh dari kesejatian dirinya  sehingga secara periodik mesti memperjalani ritual perjalanan ke dalam hati dan dirinya sendiri untuk menemukan: (si)apa sebetulnya aku ini? Dalam bahasa Jostein Gaarder, kita adalah makhluk yang terkesiap oleh gemintang di langit hingga abai pada mukjizat di dalam diri kita sendiri. Dan bukankah kredo sufisme itu menyebut: mereka yang mengenali dirinya sendiri akan mengenali Tuhannya? 

Dan omong-omong soal mengenali Tuhan, Beliau SWT menyebut akhirat sebagai kampung halaman, sedangkan dunia adalah Padang Pengembaraan tempat kita dikelanakan dari satu momen ke momen lain, dari satu situasi ke lain situasi. Sesungguhnyalah di dunia ini kita tidak pernah betul-betul punya kampung halaman, tidak pernah benar-benar punya ‘rumah’ untuk pulang. Kita ini sesungguhnyalah semata kaum nomaden yang berkemah dari satu waktu ke lain waktu, dari satu situasi ke lain situasi, sepanjang usia pengembaraan. 

Katakanlah rumah sejati kita sesungguhnya ada di surga. Lantas Allah, atas Kehendak-Nya, bermaksud memigrasikan kita dari rumah ke dunia. Dibekali misi menjadi wakil-Nya di muka Bumi. Fantasiru fil ardh, jelajahilah Bumi ini. Dan dalam penjelajahan itu, kita dibimbing map berupa Kitab Suci dan dititipi guide dalam sosok para Nabi dan Rasul. Tujuannya ya agar kita selamat di perjalanan dan bisa kembali pulang ke ‘rumah’. Tetapi, kita tahu bahwa dunia adalah padang permainan melenakan. Memperjalani dan menjelajahinya dipenuhi risiko. Boleh jadi kita lurus dalam niat serta jelas dalam visi saat mulai melangkah tetapi distraksi di sepanjang perjalanan bisa bikin kita malas/tidak mau pulang, lupa membeli oleh-oleh untuk dibawa pulang, atau sama sekali tersesat hingga tidak tahu jalan pulang. 

Boleh jadi kita betah di pengembaraan hingga merasa bahwa kemah yang kita dirikan untuk sementara, untuk bekal kita berteduh selama menghidupi pengembaraan tersebut, adalah rumah kita, sehingga kita tidak pernah merasa harus pulang. Kemudian tiba momentum kepulangan: ajal. Allah berfirman: idza ja-a ajaluhum, ketika telah datang ajalmu sekalian, la yasta’khiruna sa’atan wala yastaqdimun, ia tidak bisa diundur atau dipercepat: just right in time. Dan kemudian kita mengerti bahwa pengembaraan kita telah usai dan kepada kampung akhiratlah kita mengembali—mudik. 

Kita ‘dipaksa’ mengepak kemah dan melanjutkan perjalanan, bermigrasi pada aktivitas yang lain: di lokus tempat dan waktu yang berbeda. Secara sederhana, ajal diidentikkan dengan kematian. Dan kematian senantiasa lekat  dengan (filosofi) inna lillahi wa inna ilaihi raajiun: dari Allah kita berasal, kepada Allah kita mengembali. Dalam menerjemahkan ini, Rumi memberi analogi seruling. Baginya: suara sendu seruling adalah ekses dari ratapan kerinduannya setelah terpisah dari Bambu tempat ia mengasal dan berasal. Kerinduan mengembali. 

Pada mulanya hanya Allah dan hanya Allah. Kemudian secuil kecil-Nya menjadi nur Muhammad, kemudian menjadi semesta raya beserta kita di dalamnya. Kita dimigrasikan seruas jarak penciptaan, mengembarai dunia sejauh usia kehidupan, demi pada akhirnya bisa mudik, mengembali kepada-Nya. Mudik di Indonesia dilaksanakan menuju lebaran, di hari yang kita semua diharapkan telah kembali suci-murni putih-bersih selepas dikuras-habis bimtek Ramadhan. 

Mudik kepada Allah juga mesti melewati prosedur penyucian karena Allah Maha Suci dan mencintai kesucian dan orang-orang yang mensucikan diri. Pula surga, rumah asal kita, adalah tempat suci di mana kebersihan kita menjadi kunci masuknya. Maka jika selama bepergian Anda tidak sempat membersihkan kualitas hati dan diri Anda, sebelum kembali ke rumah dan mengembali ke hadirat-Nya, mau tidak mau Anda harus (di)bersih-bersih(kan) terlebih dahulu. Di mana dan bagaimananya saya kira kita semua sudah tahu. 

Irfan L. Sarhindi
Pengasuh Salamul Falah
Lulusan University College London
Associate Researcher Akar Rumput Strategic Consulting

????

Source gambar: https://id.m.wikipedia.org/wiki/Mudik

Post a Comments
blog comments powered by Disqus