Belajar Agama dari Sepak Bola


Belajar Agama dari Sepak Bola

Terlepas dari ‘tupoksi’-nya sebagai permainan-pertandingan, sepak bola bagi sebagian orang menempati posisi sesakral agama, lengkap dengan ritual peribadatannya yang khas seperti, misalnya, ritual menonton matchday tiap minggu hingga bagi Bobotoh, pasangan yang baik adalah pasangan yang mengizinkan kita nonton Persib. Atau, ritual chanting yang berisi ‘ayat-ayat’ motivasi, sejarah, serta sanjungan bagi klub pujaan dan makian bagi rival.

Sebagaimana ‘agama’, sepak bola menumbuhkan fanatisme sekaligus candu, pada akhirnya mempengaruhi, jika tidak membentuk, identitas si penggila bola. Menurut Harjono dalam Ciao Italia, di Italia Anda bisa berganti agama tetapi tidak bisa berganti klub favorit. Sejak kecil Anda ‘dibaptis’ oleh orangtua menjadi apakah Juventini atau Milanisti. Jika hadist Nabi dikontekstualisasi di Italia, bunyinya mungkin akan berubah begini: setiap orang Italia terlahir putih-bersih (fitrah) hingga orangtuanya menjadikan mereka Laziale atau Romanisti.

Memang, pemosisian sepak bola sebagai agama sepertinya tidak bisa dilepaskan dari nilai ekonomis olahraga ini. Adalah fanatisme, yang diperkuat dengan ritual-ritual yang dikonstruksi, yang bisa mengamankan daya jual sekaligus loyalitas para penggila sepak bola. Menonton MU di Old Trafford, misalnya, jadi terasa seperti naik haji bagi para Mancunian. Atau Piala Dunia, seperti yang sedang gegap gempita sekarang ini, terasa seperti ‘hari raya’ setelah selama 4 tahun kita ‘berpuasa’.

Namun demikian, terlepas dari unsur-unsur yang membuat sepak bola terasa sepenting agama dan/atau bagaimana sepak bola di-agama-kan, ada pelajaran-pelajaran religio-spiritual yang dapat kita serap dari sepak bola. Pertama, anggaplah sepak bola sebagai jalan pencarian kita atas Kebenaran Tuhan. Sejak awal kita sadar bahwa sepak bola tidak bisa hanya ‘diekspresikan’ atau ‘diisi’ oleh satu-dua klub saja. Sepak bola pada akhirnya akan selalu punya ruang untuk bahkan klub-klub baru lahir dan bertumbuh.

Dalam konteks pencarian Kebenaran Tuhan, sejarah membuktikan bagaimana pencarian manusia tidak bisa selesai, terpuaskan, dan terbatasi oleh hanya satu-dua agama. Secara jeli Karen Armstrong, misalnya, dalam Sejarah Tuhan, menggambarkan bagaimana selama ribuan tahun manusia jatuh-bangun mencari kebenaran Tuhan, baik melalui agama yang katakanlah ‘samawi’ maupun melalui kanal-agama yang sering dianggap produk saripati pemikiran filosofis para nabinya. Agama-agama itu bahkan kemudian mengalami modifikasi, inovasi, sehingga melahirkan multi-penafsiran.

Dengan demikian, kodrat sepak bola yang mampu menampung jutaan klub sebagai ‘ekspresi kesepakbolaannya’ bagi saya mengajarkan kepada kita, mula-mula, kodrat pluralisme. Dalam al-Qur’an, Allah menegaskan wa lau ja-a ummatan wahidatan (bisa saja Aku membikin kalian umat beragama satu) tetapi tidak, karena Allah menghendaki kebhinekaan—diversitas. Dari sana, kita bisa memaknai diversitas klub (lengkap dengan gaya bermain, logo, stadion, bahkan pemain dan strateginya) sebagai diversitas agama lengkap dengan segala ajaran, ritual, simbol, hingga klaim kebenarannya sendiri-sendiri.

Kedua, berbekal interpretasi tersebut, kita bisa menginsafi bahwa klub-klub tersebut tidak berkembang sama-sebangun. Ada beberapa klub yang berkembang pesat, ada yang terseok-seok. Ada yang membangun kredibilitas berdasarkan trofi yang dimenangkan selama dua-tiga dekade, ada yang disulap dalam satu-dua musim kompetisi berbekal sokongan dana melimpah. Agama, bukankah juga demikian? Dari sekian banyak agama yang tumbuh, ada beberapa yang berkembang besar dan bertahan, ada yang gagal mekar dan menjadi minoritas, kemudian hilang.

Ketiga, terlepas dari fakta bagaimana klub tidak mungkin hanya bisa ‘satu’, kita pada akhirnya menjatuhkan pilihan kita pada satu klub tertentu. Ada yang pilihan jatuh karena kehendak bebas dan hasil dari pencarian intelektual dan emosional. Ada yang karena ‘diwariskan’ keluarganya. Ada yang taqlid ikut-ikutan tren yang muncul, dan lain sebagainya. Terhadap agama juga bukankah begitu? Dari sekian banyak agama yang ada di dunia, kita kemudian menjatuhkan iman kita kepada satu agama—atau bahkan tidak menjatuhkan sama sekali. Keputusan itu ada yang merupakan hasil penelaahan dan pencarian, ada yang taqlid, ada pula yang karena ‘warisan’.

Tetapi keempat, fakta bahwa klub/agama ada banyak seringkali memunculkan rivalitas antara satu dengan lain klub, antara satu dengan lain agama. Rivalitas ini sesungguhnyalah tak terhindarkan dan mesti disikapi secara dewasa, mengedepankan respect dan fair play. Dalam industri sepak bola, rivalitas malah kadang diekploitasi demi dollar. Tetapi kita tahu bahwa tidak semua penggila bola telah cukup dewasa dalam menyikapi rivalitas tersebut. Sebagai contoh: bagi sebagian fans MU (di Indonesia wabil khusus), kecintaan terhadap klub berjuluk The Red Devils itu mesti dibuktikan dengan kebencian (membabi-buta) kepada Liverpool atau City.

Dalam hal kehidupan beragama, jejak panjang sejarah yang tidak selalu mulus menumbukan rivalitas antar agama, yang kadang, dibarengi syak wasangka dan bahkan phobia. Tanpa kedewasaan bertoleransi dan membangun dialog, syak wasangka ini dapat menjadi bom waktu konflik. Apalagi kalau muncul fanatisme membabi-buta di mana misalnya, seseorang meyakini bahwa menjadi Muslim harus disertai sikap merasa diri paling benar dan diridhai Allah dan karenanya berhak memperlakukan non-Muslim sebagai warga negara kelas dua.

Tetapi rupanya pelajarannya tidak selesai di sana. Jika kita ambil ke dalam konteks intra-Islam sendiri, sepak bola mengajarkan banyak hal. Taruhlah kita tafsirkan sepak bola sebagai ‘Islam’, maka klub-klub yang ada adalah mazhab-mazhab atau golongan dalam Islam. Kita kemudian memilih salah satu mazhab/golongan tersebut (termasuk memilih mazhab ‘tanpa mazhab’ atau golongan ‘tanpa golongan’). Butuh kedewasaan untuk menghormati pilihan mazhab yang berbeda. Tanpa kedewasaan tersebut, rivalitas yang muncul dapat menjadi titik-ledak konflik.

Bahwa sebagai pengikut mazhab MU, misalnya, saya tidak berkewajiban membenci Liverpool. Bahwa tidak benar kita ‘membunuh’ klub yang lain, hanya karena ia tak sejalan dengan klub yang kita ‘imani’. Karena jika demikian, yang mati bukan klub tersebut, tetapi ruh dan filosofi dari sepak bola itu sendiri; ruh dan filosofi dari Islam itu sendiri. Sedihnya, sebagai contoh, studi dari SETARA Institute menunjukkan ada indikasi di mana anak-anak SMA membenci dan merasa Ahmadiya harus dibubarkan walau mereka mengakui mereka tidak tahu banyak soal apa itu Ahmadiya (2016).

 

Irfan L. Sarhindi

Pengasuh Salamul Falah

Lulusan University College London

Associate Researcher Akar Rumput Strategic Consulting

 

Source gambar: http://bola.bisnis.com/read/20171009/397/697160/salah-bawa-mesir-lolos-ke-piala-dunia-2018

Post a Comments
blog comments powered by Disqus