Gonjang-ganjing Islam Nusantara


Gonjang-ganjing Islam Nusantara

Menarik memperhatikan bagaimana Islam Nusantara, sebagai sebuah ‘brand’, gerakan, maupun gagasan, kembali menghangatkan perdebatan—mulai dari yang sifatnya intelektual hingga yang kusir lengkap dengan sumpah serapahnya. Di antara yang digoreng sebagai point entry perdebatan adalah statement Mamah Dedeh terkait penolakan beliau terhadap konsepsi Islam Nusantara. Mamah Dedeh memang telah, secara terbuka, meminta maaf, tetapi sisa-sisa perdebatan dan pertengkaran di dunia maya tidak memperlihatkan titik terang—yang menolak tak mau mendengar, yang menerima, kehabisan akal memberitahu dan menjelaskan.

Dalam tulisan ini, saya akan mencoba mengartikulasikan tiga miskonsepsi umum tentang Islam Nusantara. Miskonsepsi inilah yang membuat Islam Nusantara menjadi objek serangan yang hangat. Tidak mesti miskonsepsi tersebut muncul dari ijtihad ilmiah, baik oleh orang-orang yang memang capable dalam keilmuan maupun yang tidak. Dalam banyak kasus, miskonsepsi tersebut berangkat dari prasangka di atas fundamen ketidaktahuan dan ketidakmautahuan. Kadang-kadang bahkan, miskonsepsi tersebut sengaja dibangun dalam upaya menjatuhkan marwah (konsep) Islam Nusantara. Hal ini karena Islam Nusantara sebagai sebuah konsep gagasan dan gerakan disituasikan head to head dengan radikal Islam.

Miskonsepsi pertama, Islam Nusantara dianggap sebagai bukan hanya mazhab atau aliran baru, tetapi lebih dari itu juga sempalan yang menciderai orisinalitas dan universalisitas Islam. Argumen yang biasanya disampaikan terkait miskonsepsi ini adalah: Islam ya Islam, tidak ada itu Islam Nusantara karena nanti harus ada Islam Mesir, Islam Amerika, Islam Eropa, Islam Timor Leste. Kalau begitu, Islam jadi terkotak-kotak dan ‘kalah’ oleh lokalitas konteks dan kultur. Kalau begitu, lanjut mereka, Islam terkontaminasi dong dengan lokalitas yang belum tentu sejalan dan sebangun dengan khitoh dan substansi Islam.

Maka dari sini muncul miskonsepsi kedua, jangan-jangan, prasangka mereka, Islam Nusantara ini adalah agenda kalangan liberal di tubuh NU. Apalagi, pasca Muktamar 2015 yang melahirkan Islam Nusantara, NU terpecah menjadi dua: Garis Lurus dan Garis Lucu. Yang belakangan sebetulnya hanya sekadar respon ‘santai-tapi-serius’ atas deklarasi NU Garis Lurus yang strukturalnya lebih mirip dengan FPI tetapi mengaku paling lurus dan mewakili NU-nya hadratus syaikh. Tuduhan tersebut makin menjadi-jadi dengan dijadikan bulan-bulanannya (salah satunya) KH. Said Aqil Siradj entah sebagai Syiah, liberal, dan lain-lain.

Narasi yang terbangun menjadi begini: ketuanya saja Syiah dan liberal, maka Islam Nusantara juga begitu. Jika tidak dituduh sepenuhnya sebagai aliran sempalan dan agenda liberal di tubuh NU, maka Islam Nusantara didefinisikan oleh sebagian ulama sebagai tidak ada masalah walaupun harus diperhatikan dan dijaga (ekstra) ketat agar tidak dijadikan point entry proyek meliberalkan NU. Sedangkan liberal Islam (terlepas dari itikad dan makna harfiahnya untuk mengembalikan marwah liberte dalam spirit Islam) dianggap jika tidak kurang atau nir- maka tidak Islami sama sekali.

Sampai di sini kita sudah melihat kenapa Islam Nusantara menjadi bulan-bulanan dan bully-an di medsos, terutama oleh kalangan awam. Posisi problematis Islam Nusantara ini kemudian menjadi bahan untuk menyerang NU sebagai pengusung. Ia bertambah panas ketika, misalnya, viral fenomana pembacaan al-Qur’an dengan langgam Jawa. Sebagian menganggap kejadian tersebut melecehkan dan menciderai al-Qur’an. Sebagian lagi merasa itu sebagai titik awal Indonesia-isasi Islam. Jangan-jangan, tuduh sebagian, nantinya shalat akan diganti pakai bahasa Indonesia!

Apalagi, ketiga, Islam Nusantara juga dimiskonsepsikan sebagai anti-Arab. Ini karena Islam Nusantara mengkampanyekan ide bahwa ideal Islam dapat didialogkan dengan konteks kultur. Bahwa segala yang berbau Arab tidak mesti dan tidak selalu harus dan pasti Islam—begitu juga sebaliknya. Sebagai contoh: ideal Islam adalah menutup aurat. Produk kultur di Arab dalam hal pakaian untuk laki-laki adalah jubah, turban, dan peci putih. Sehingga  Muslim berkebangsaan Arab (termasuk Rasulullah) mengenakan pakaian tersebut untuk menutup aurat.

Indonesia punya produk kultur tersendiri dalam hal pakaian dan ia sah untuk digunakan sebagai cara menutup aurat. Mengenakan blangkon untuk menutup kepala dan mengenakan batik dan sarungan, misalnya, adalah sah dan absah. Ia tidak menjadikan seseorang kurang Islami—sinkretis dalam sifat dan karakter. Walau memang, asumsi bahwa Islam di Nusantara (wabil khusus Indonesia) terkesan sinkretis memang tidak terelekkan. Sebagian berangkat dari miskonsepsi para peneliti orientalis yang terjebak pada pola pikir bahwa Islam yang orisinal adalah Islam kearab-araban.

Ide bahwa Islam orisinal adalah Islam kearab-araban makin menguat seiring masifnya pergerakan dakwah kalangan Salafi Wahabi. Dengan jargon kembali kepada al-Qur’an dan hadits, ditambah penerjemahan Islam yang sempit dan tekstual, Salafi Wahabi membangun ekspresi Islam yang cenderung formalistik dan simbolik. Akibatnya, mereka tidak adaptif dan bahkan kaku terhadap akulturasi antara Islam dengan kultur. Sedikit-sedikit menyebut bid’ah, sedangkan bid’ah dalam pemahaman mereka kullu dlalalah—semuanya buruk, semuanya masuk neraka.

Pada titik ekstrim, sikap mereka menjadi takfiri. Ketika berhadapan dengan Islam Nusantara yang luwes dengan kultur, alhasil, mereka mengkategorikan watak tersebut sebagai nir atau menciderai orisinalitas nilai-nilai Islam. Dengan penguasaan internet dan sosial media yang masif dan terstruktur, sokongan dana dan media yang terstruktur, serta gerilya para kader yang ‘satu-suara’, tidak heran miskonsepsi dan tuduhan terhadap Islam Nusantara menjadi gonjang-ganjing di medan ketidaktahuan kalangan awam. Gonjang-ganjing tersebut kadang-kadang juga mempengaruhi, dipengaruhi, atau bahkan dipolitisir sedemikian rupa.

Thus, sebagai penutup, saya ingin menekankan bahwa Islam Nusantara, sebagaimana dijelaskan lagi dan lagi oleh para kiai NU, bukanlah sebuah mazhab atau aliran apalagi sempalan. Ia tidak anti-Arab. Ia bukan merupakan upaya pengkontaminasian nilai-nilai substantif Islam yang ‘orisinal’. Islam Nusantara sebagai ide dan sikap hidup telah tumbuh sejak awal Islam hadir dan disebarkan di Indonesia. Itu kenapa menggunakan kata ‘Nusantara’. Hanya, oleh sebab penguatan radikalisme Islam, NU terdorong untuk membungkus dan menamai karakter dan corak Islam tersebut dengan sebuah nama, yang memang tidak selalu bisa dengan mudah diterima.

Irfan L. Sarhindi

Pengasuh Salamul Falah

Lulusan University College London

Associate Researcher Akar Rumput Strategic Consulting

 

source gambar: https://www.nu.or.id/post/read/92442/permohonan-maaf-langsung-mamah-dedeh-soal-islam-nusantara

Post a Comments
blog comments powered by Disqus