Wanita Disalahkan Pria Sejak Hawa?


Wanita Disalahkan Pria Sejak Hawa?

Sayangnya, saya harus bilang di awal bahwa saya tidak yakin bahwa dalam tulisan ini saya akan menawarkan semacam jawaban. Yang muncul mungkin pertanyaan (yang tidak terlalu) baru. Hanya, perdebatan ihwal feminisme versus Islam atau feminisme dalam Islam dalam satu dan lain, bagi saya, amat menarik. Bagi penafsiran Islam yang ultra-konservatif, gagasan feminisme, apalagi yang bersumber dari Barat, adalah gagasan tercela yang bukan hanya tidak peka terhadap apa yang diyakini sebagai ‘kodrat’ perempuan, tetapi bahkan tidak tahu diri karena ingin melawan. Sedangkan bagi penafsiran Islam yang progresif, moderat, dan kontekstual, (sebagian) gagasan feminisme dapat bersanding dengan ideal perempuan dalam Islam. Muncullah kemudian ide ihwal feminisme (dalam) Islam.

Bagi saya pribadi, sebagaimana pernah saya tulis di tempat lain, Islam sejatinya menawarkan kesetaraan gender. Berangkat dari gagasan revolusioner kesamarataan: egalitarianisme. Bahwa di hadapan Tuhan semua orang sama sederajat apapun gender dan jenis kelaminnya. Bagi saya, fakta bahwa Nabi Muhammad hanya diamanahi anak-anak perempuan, di tengah konstruk masyarakat yang mengganggp anak perempuan sebagai aib, adalah misi dekonstruksi tatanan kemasyarakatan. Belum lagi perintah memuliakan kaum ibu tiga kali di atas kemestian memuliakan kaum bapak, dan seterusnya, dan sebagainya.

Kalau boleh menawarkan interpretasi yang mungkin saja tidak ilmiah sehingga tidak bisa dijadikan rujukan, saya ingin memberi gambaran ihwal semangat egalitarianisme di Masjid al-Haram. Di Masjid paling suci bagi umat Islam, yang disifati al-Qur’an sebagai awwalu baytin’ wudi’a linnaas (tempat ibadah pertama yang dibangun bagi manusia), laki-laki dan perempuan bisa shalat sejajar, bahkan bisa di shaf lebih depan. Mereka bisa thawaf beriringan tanpa hijab pemisah. Privilege yang hanya dimiliki, dan absah untuk, Masjid al-Haram. Tetapi jika memang Islam menawarkan egalitarianisme, kenapa komunitas Muslim berkecenderungan hierarkis, terutama terhadap perempuan?

Dalam hal ini Buya Syafii mengklasifikasikan Islam menjadi ‘Islam nilai’ (Islam sebagai suatu acuan moral) dan ‘Islam sejarah’ (Islam yang berdialektika dengan ketidaksempurnaan manusia dan narasi yang dibuatnya sepanjang sejarah kemanusiaan). Dalam perkembangannya, agak sulit untuk mengklaim bahwa ‘Islam nilai’ ini free atau terbebas dari ‘Islam sejarah’. Dalam pengsubordinasian terhadap perempuan, misalnya, Buya Syafii meyakini bahwa egalitarianisme adalah bagian dari tauhid, tetapi toh hierarki tetap terbentuk. Sebagian dipengaruhi kultur yang telah mengakar jauh sebelum Islam datang. Sebagian lagi dibawa-serta dari cipratan-cipratan male-dominated society ala Arab. Sebagian lagi karena dampak panjang dari kategorisasi ilmu pengetahuan ala Imam Ahmad al-Ghazali yang melahirkan apa yang Michael Young sebut powerful knowledge, yang melegitimasi knowledge for the powerful.

Fenomena tersebut menguat seiring laju ultra-konservativisme Islam. Misalnya, muncul fatwa bahwa suami boleh kepoin ponsel istri tetapi istri tidak boleh kepoin ponsel suaminya. Istri solehah berat badannya 55 kilogram, menjelmakan Islam sebagai lembaga modelling di mana perempuan harus senantiasa memperbudak dirinya di hadapan imajinasi dan konstruk nilai yang dijejalkan masyarakat. Selanjutnya istri tidak boleh bekerja, tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, jangan-jangan malah tidak perlu punya keinginan, karena yang harus dimiliki adalah kesediaan melayani suami dan mengurus anak-anak. Dan seterusnya bisa Anda tambahkan.

Tetapi betulkah yang bermasalah hanya cipratan-cipratan kultur di luar Islam yang melahirkan ‘Islam sejarah’ yang melegitimasi hierarki? Ataukah jangan-jangan dalam narasi-narasi Islam itu sendiri ada bagian-bagian yang kita lihat ulang secara akademis juga terasa problematis? Titik tengahnya: jangan-jangan ada residu makna oleh sebab penafsiran-penafsiran yang male-dominated di zaman dahulu atas nilai-nilai yang diajarkan dalam Islam? Bagaimana persoalan-persoalan keumatan di zaman dulu yang dijadikan rujukan hari ini, bukankah lebih banyak diputuskan oleh laki-laki di ruang-ruang publik, yang tidak  selalu melibatkan partisipasi perempuan? Persoalannya luas, kompleks, dan bisa melebar ke mana-mana. Hanya, dalam tulisan ini, saya ingin memperlihatkan bagaimana kisah Adam-Hawa juga kalau dipikir-pikir, terasa agak problematis dan terasa seperti ‘awal mula kisah’ bagaimana perempuan dianggap sub-ordinatif dan sumber dosa.

Pertama, kita diberitahu bahwa Adam diciptakan sebagai entitas utuh, sedangkan Hawa diciptakan menyusul dari partisi kecil di tubuh Adam: satu bilah tulang rusuk. Adam, ayah kita, merasa kesepian setelah diciptakan, sehingga Allah menghiburnya dengan menciptakan istri untuk beliau. Ide bahwa Hawa ‘hanya sekadar’ salah satu tulang rusuk Adam menumbuhkan kesan bahwa perempuan sejak awal memang didesain hanya sebagai ‘bagian kecil’ dari laki-laki sehinga karenanya tidak bisa disetara-sejajarkan.

Kedua, kisah Adam-Hawa mengajarkan kita bahwa yang mula-mula ingin buah Khuldi, yang menyebabkan Nabi Adam ‘berdosa’, adalah Hawa. Adam tergoda bujuk rayu Hawa dan Iblis yang menyamar. Demikian kuat kisah tersebut sehingga hari ini sebagian dari kita meyakini bahwa perempuan itu adalah sumber dosa bagi laki-laki, tanpa kemudian kita berpikir bahwa laki-laki juga bisa menjadi sumber dosa bagi perempuan. Ide bahwa perempuan adalah sumber dosa kemudian menjadi legitimasi untuk membuat perempuan tetap diam di rumah, tidak boleh selfie karena dosa jariyah, kalau diperkosa tetap disalahkan, kalau belum punya anak yang pertama dikutuk. ‘Uniknya’, gagasan tersebut diterima bahkan oleh sebagian perempuan sebagai sesuatu yang normal, alamiah, dan benar tanpa bisa digugat.

Ketiga, apalagi jika kita percaya bahwa Adam dan Hawa diusir dari surga karena memakan buah khuldi. Kisah yang sebetulnya lebih dekat dengan tradisi Kristen karena drama pengusiran itu membawa konsekuensi keyakinan akan dosa asal. Bagi saya, bahkan walaupun Adam dan Hawa tidak memakan khuldi, pada akhirnya mereka memang akan diturunkan ke muka Bumi, karena ketika Allah menciptakan Adam, Allah sudah menggadang-gadang makhluknya tersebut sebagai khalifah fil ardh. Tetapi tetap toh posisi Hawa dalam kisah tersebut problematis, yang jika ia dihadap-hadapkan secara dialektis dengan misi-misi egalitarianisme Islam, yang muncul adalah ruang diskusi dan perdebatan: sebetulnya bagaimana Islam memandang dan memperlakukan perempuan?

Irfan L. Sarhindi

Pengasuh Salamul Falah

Associate Researcher Akar Rumput Strategic Consulting

Alumni Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Ahmad Syafii Maarif

 

Sumber gambar: https://www.alisachilders.com/blog/did-adam-and-eve-really-exist-does-it-matter

Post a Comments
blog comments powered by Disqus