Dualitas 212 dan Religiusitas yang Tidak Ideal


Dualitas 212 dan Religiusitas yang Tidak Ideal

Hingga tiga tahun yang lalu, konfigurasi angka 212 hanya bermakna pendekar sableng pemilik kapak maut naga geni, Wiro namanya, anak dari Suci dan Raden Ranawolang, murid dari Sinto Gendeng alias Sinto Gila. Novel silat legendaris era 90-an, yang diadaptasi menjadi sinetron, lalu sekarang oleh Lifelike Pictures dan Fox International dibikinkan film. Tetapi dua tahun lalu, narasi sosio-politik keagamaan kita membawa pada konfigurasi 212 yang sama sekali berbeda: Aksi Bela Islam 212 namanya, anak kandung GNPF-MUI, umat dari Imam Besar Habib Rizieq. Aksi ini kemudian diterjemahkan ke dalam film 212 the Power of Love. Terlepas dari segala perbedaan mendasar dari kedua 212 tersebut, ada kesamaan unsur religiusitas yang tidak ideal yang dapat ditangkap, dianalisa, dan didiskusikan.

Mari kita mulai dengan Aksi Bela Islam 212. Aksi Bela Islam 212 kerap diidentifikasi sebagai ekspresi penguatan ultra-konservativisme dan radikalisme Islam, walaupun Greg Fealy cenderung tidak setuju, pula Mietzner dan Muhtadi menganggap aksi tersebut sebagai terutama ekses dari bagaimana FPI merasa tidak diakomodasi. Aksi ini kerap dilekatkan dengan kesan politisasi agama, oleh sebab aksi tersebut berkaitan dengan, atau bahkan menentukan arah, Pilgub Jakarta. Yang menjadi musuh utamanya (Mahesa Birawa-nya) adalah Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang dianggap menistakan Islam, melecehkan al-Qur’an.

Untuk menjawab ‘tuduhan’ tersebut, dibuatlah film 212 the Power of Love. Disutradarai Jastis Arimba, dibintangi oleh Fauzi Baadila sebagai Rahmat yang pulang ke Ciamis untuk pemakaman ibunya dan berusaha menggagalkan Ki Zainal, ayahnya, yang hendak memimpin santri long march ke Jakarta untuk Aksi Bela Islam. Aksi ini, sebagaimana dijelaskan oleh Ki Zainal, adalah bentuk kecintaan kepada Allah, kepada al-Qur’an. Rahmat sendiri seorang jurnalis yang skeptis, cenderung cemas Aksi Bela Islam akan berujung ricuh seperti Mei 98, tetapi kemudian semua berubah ketika Rahmat akhirnya sadar bahwa aksi ini jauh dari kesan kekerasan.

Windu Jusuf (Tirto.id, 2018) mengkritisi pada bagaimana film ini tidak menjelaskan konteks situasi Pilgub Jakarta maupun nama pejabat yang dianggap melecehkan al-Quran tersebut. Seolah-olah, sebagaimana ia sindir, semua Muslim terlahir suci dan religius hingga mereka membaca tulisan-tulisan Karl Max. Kesan kesucian dan religiusitas ini makin terlihat dengan kampanye #putihkanbioskop ditambah dengan klaim sepihak bahwa film ini adalah film yang paling dinanti-nantikan umat Islam. Pencerabutan konteks politik dalam skenario film tersebut, bagi saya, seperti menegaskan upaya ‘penulisan-ulang’ interpretasi Aksi Bela Islam 212. Bahwa Aksi ini bersifat apolitik dan murni ekspresi religiusitas Islam; ekspresi kesalehan. Bahwa aksi ini dengan demikian adalah jihad cinta dan bukan jihad-fisik kekerasan sebagaimana dituduhkan.

Tetapi benarkah demikian? Tidak juga. Alasannya sederhana: karena bahkan ketika taruhlah sebagian peserta aksi memang berangkat dari jihad-cinta, tidak bisa dipungkiri bahwa aksi ini memiliki kepasitas politis, bahkan cenderung dipolitisasi oleh politisi yang berkepentingan. Muatan religiusitas Islam dalam Aksi ini, dengan demikian, menjadi serba tidak ideal. Apalagi dengan melihat pada bagaimana para tokoh Aksi ini mempertontonkan daya tawar politis, bahu-membahu mengadaptasi Aksi 212 sebagai template untuk pemenangan pemilihan kepala daerah di tempat yang lain, serta pada bagaimana politik identitas menguat selama, dan setelah, kejadian tersebut. Dengan demikian, Aksi Bela Islam 212 ini menunjukkan sekali lagi, religiusitas Islam yang tidak ideal. Di satu sisi ia mengakomodasi seluruh dimensi religiusitas ala Glock dan Stark (di mana keberislaman mempengaruhi tindakan sosio-kultural bahkan politis), tetapi di sisi lain, religiusitasnya tidak murni, tidak seideal yang coba digambarkan dalam film the Power of Love. Lalu, bagaimana dengan 212-nya si Yatim Piatu Wiro Sableng?

Walau film ini ‘hanya’ bercerita soal perjalanan Wiro Sableng menunaikan titah Eyang Sinto Gendeng menangkap dan/atau menghentikan Mahesa Birawa; yang ternyata bertaut dengan ujian kelulusan Syahrini eh Anggini; berjalin-kelindan dengan petualangan Bujang Gila Tapak Sakti; dan berkorelasi dengan konsprasi kudeta yang dilakukan Werku Alit kepada kakaknya, Raja Kamandaka; film ini tetap mengandung filosofi religiusitas keagamaan yang kental, disimbolisasi oleh angka 212. Sebagaimana dihafal dengan baik oleh sebab diulang-ulang dalam lagu opening­-nya, 212 mengandung unsur kesadaran atas dualitas semesta yang berlawanan namun berpasangan, yang kemudian menuju kemanunggalan Tuhan yang Satu.

Petualangan Wiro Sableng dengan demikian, adalah tirakat panjang tugas kenabian untuk mengamankan umat dari energi hitam. Itu sebabnya Wiro Sableng tidak diberitahu soal Mahesa Birawa: agar Wiro tidak terjebak dalam ambisi balas dendam. Wiro ditantang untuk berpikir jauh lebih besar ketimbang kediriannya sendiri. Tetapi menariknya, tugas mahaberat yang amat religius dan filosofis itu diembankan oleh seorang guru yang dikenal gendeng, kepada murid yang sableng, yang dalam beberapa hal cenderung kekanak-kanakkan, tidak punya persona kepemimpinan, bahkan cenderung ceroboh dan naif. Wiro bukan tipe pendekar atau pahlawan yang serba putih, serba saleh, serba baik, sebagaimana yang dikesankan oleh 212 yang lain.

Sebaliknya, Wiro ini tipe altruis naif yang kadang hanya melihat sesuatu dari kacamata dirinya sendiri. Secara karakter kepemimpinan-kenabian, Wiro bukanlah sosok ideal untuk mengemban misi manunggaling 212 dan misi penyelamatan dunia. Saking tidak idealnya bahkan sampai Dewi Angin Timur turun tangan mengintervensi—membantu. Dan secara sembrono Wiro malah ganjen. Tetapi barangkali semua misi kenabian selalu bersinggungan dengan ketidakidealan, yang membuat Tuhan harus melakukan intervensi magis dan supranatural. Dalam kisah Nabi Muhammad, ada intervensi bantuan pasukan langit saat Badar. Bagi Nabi Musa, ada intervensi magis pembelahan lautan saat dikejar Firaun.

Wiro Sableng dengan demikian memotret ketidakidealan kita sebagai homo religius. Sebagaimana Wiro mempertanyakan makna putih-suci dari baju barunya. “Terus kalau bajuku kotor,” tanyanya, “Hatiku juga kotor, Eyang?” Di tengah ekspresi religiusitas yang serba formalistik, ritualistik, dan simbolik, pertanyaan Wiro lebih dari sekadar tepat sasaran, ia bahkan menampar ke-sok-saleh-an kita; yaitu intensi kita untuk memposisikan saleh dan religiusitas semata sebagai citra—bukan kesadaran transendental dan laku-akhlak hidup. Kita mendua sehingga tidak pernah bisa mengemban kemanunggalan.

Irfan L. Sarhindi

Pengasuh Salamul Falah

Associate Researcher Akar Rumput Strategic Consulting

Alumni Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Ahmad Syafii Maarif

 

Sumber gambar: https://www.sabigaju.com/sangar-cecep-arif-rahman-tampil-di-poster-film-wiro-sableng

Post a Comments
blog comments powered by Disqus