Dari Edinburgh Menuju Mekah


Dari Edinburgh Menuju Mekah

Pada musim semi 2016 saya berkesempatan mengunjungi Edinburgh selama dua hari—kota yang menjadi latar cerita Ayat-Ayat Cinta 2 itu, iya benar. Beberapa tahun sebelumnya, saya menulis cerpen imajinatif berlatar kota ini dan terkejut pada bagaimana nasib mengabulkan imajinasi saya. Cerpen itu sendiri menjadi cerpen pertama saya yang dimuat di koran nasional. Dalam proses riset, saya  dibuat kagum oleh kastil-kastil tua dan bagaimana ia dipadu-padankan secara arsitektural dengan gedung-gedung dan fasilitas modern. Secara naif dan sok puitis saya menyebut ‘waktu seperti berhenti di Edinburgh’. Kiranya foto yang saya capture secara tidak sengaja dan pembaca lihat di atas tulisan ini, dapat mewakili klausa tersebut.

Kunjungan turistik ‘backpacekrian’ itu berdurasi satu minggu, dari Edinburgh ke Glasgow, lanjut Aberdeen dan kembali ke London via Durham dan New Castle. Terlepas dari nuansa sendu dan puitik selama berada di ibu kota Skotlandia tersebut, ada suatu kesan yang menghunjam kesadaran saya ketika berkeliling sendirian di Edinburgh Castle memanfaatkan kartu anggota milik teman. Kastil tersebut tidak hanya dirawat dan dipugar, tetapi bahkan narasi-sejarahnya dipelihara, dihidup-hidupkan sehingga orang akan mengerti bahwa pada suatu waktu di tempat yang ia kunjungi terjadi, misalnya, penyiksaan tahanan, pembunuhan, atau bahkan sesederhana jamuan makan malam.

Ia menghunjam kesadaran saya karena setahun sebelumnya saya pergi berhaji dan situasi serupa tidak saya temukan. Pula dalam proses panjang riset dan penulisan The Lost Story of Ka’bah, saya menemukan adanya kecenderungan penghancuran bangunan-bangunan kuno, situs-situs bersejarah Islam, entah oleh sebab fatwa-haram Salafi Wahabi maupun oleh perencanaan pembangunan Masjid al-Haram yang tidak empatif terhadap nilai-nilai sejarah di sekitar lokasi tersebut. Jerome Taylor di Independent menyebut 95% bangunan tua telah dibumiratakan demi metropolitanisasi Mekkah yang bercorak bangunan mewah, gedung pencakar langit, toko-toko mentereng, hotel-hotel berbintang, serta sederet kemewahan artifisial lainnya. The Economist menyebut ‘metropolitanisasi’ Mekah lebih seperti proses destruksi sejarah panjang Islam.

Ambil contoh, Mekah dulu selain pusat ibadah haji adalah juga kota pendidikan di mana ‘mimbar belajar empat mazhab’ berdiri di seputar Kabah. Tidak hanya orang dapat dengan bebas mempelajari semua cecabang mazhab keilmuan Islam, perbedaan tersebut malah diakomodasi dalam suasana toleransi. Dengan naiknya Ibnu Saud ke tampuk kekuasaan dan dilegalkannya Salafi Wahabi sebagai ideologi negara, Tanah Hijaz menjadi mono-mazhab. Sekolah-sekolah empat mazhab dan yang lainnya ditiadakan. Kita hari ini tidak tahu lokasi rumah Nabi Muhammad dan Khadijah—apalagi menikmati situasi psikologis membayangkan kehidupan rumah tangga mereka. Tidak bisa juga ikut merasakan suasana sidang di Darun Nadwah, tidak tahu sejarah Darul Arqom, dan lain-lain. Itu baru di Mekah, belum di Madinah.

Padahal kalau berkaca pada bagaimana kastil-kastil di Edinburgh dirawat, setiap bangunan dilengkapi dengan narasi sejarahnya. Kadang bahkan dilengkapi, misalnya, dengan patung untuk memperkuat gambaran. Di Uluquhart Castle, sekira dua jam dari Inverness, di suatu ruangan saya mendengar suara sendu perempuan entah dari mana. Rupanya, suara tersebut sengaja dimunculkan untuk memperkuat hikayat wanita yang meninggal dan gentayangan di sana. Kembali ke konteks Mekah, konon penghancuran monumen bersejarah Islam didorong oleh kecemasan bahwa monumen tersebut akan dijadikan berhala oleh para jemaah haji. Suatu kecemasan yang berlebihan.

Yang terjadi justru keterputusan sejarah, ketidakbersinambungan narasi besar. Padahal dalam membicarakan identitas Islam, memori kolektif dan latar belakang sejarah merupakan aspek fundamental. Kita jadi mengerti dari mana kita berasal, bagaimana segala sesuatu berdialektika dalam dinamika hidup, dan potensi-efek apa saja yang mungkin muncul. Dari sana kita akan mengerti ihwal apa yang Buya Syafii Maarif sebut Islam-nilai dan Islam-sejarah. Kita bisa melihat Islam dengan mempersandingkannya bersama konteks waktu dan situasi; konteks sosio-kultur dan politik.

Tetapi dengan keterputusan sejarah, kita tidak lagi mengenal Islam dan bagaimana Islam diestafetkan dari satu tangan ke tangan lain, dari satu zaman ke zaman lain. Akibatnya kita bahkan tidak bisa membedakan Islam yang diperjuangkan sepanjang sejarah (yang tidak bisa lepas dari keterbatasan Muslim) dan Islam sebagai suatu acuan nilai. Di sisi lain, pelajaran sejarah Islam kerap terlalu terpaku hanya pada perang dan perang sehingga sekuat apapun jihad dimaknai sebagai pendisiplinan diri dan interospeksi, toh gagasan persekusif itu tidak bisa dilepaskan; sentimen agama dapat dengan mudah dibakar demi perselisihan.

Seolah itu belum cukup mencemaskan, mari kita lihat pola umum para jemaah haji Indonesia. Tidak dalam maksud mengeneralisir, hanya dalam upaya mengindikasi persoalan. Begini: selain foto selfie berlatar Ka’bah atau Masjidil Haram, sejumlah oleh-oleh ‘haji’ yang padahal dibeli di Tanah Abang, serta hikayat tentang perkara-perkara profan yang di-sacred-isasi, oleh-oleh macam apa lagi yang biasanya dibawa jemaah haji ke Tanah Air? Nyaris tidak ada. Haji menjadi peristiwa ritual, belanja menjadi peristiwa kultural—selebihnya adalah detail hikayat yang tidak terlalu penting. Memang biasanya jemaah dimobilisasi untuk melakukan ziarah sejarah ke beberapa situs terkenal semisal Padang Badar, Gunung Uhud, Masjid Khandaq, Masjid Quba, Masjid Qiblatain, Gunung Nur, Gunung Tsur, dan reruntuhan Hudaibiyah, tetapi prosesi kunjungan turistik tersebut agak susah untuk dianggap berhasil membangun kesadaran kesejarahan—suatu perekat koneksi narasi besar umat Islam sebagai tubuh yang satu.

Alhasil kita mungkin meningkat dalam kadar kesalehan ritualistik, dalam mengekspresikan religiusitas kita secara formalistik dan simbolik—berkali-kali bolak-balik pergi haji, misalnya—tetapi tidak selalu kita mampu menghadirkan Islam dalam hati dan kehidupan kita sehari-hari. Kita tidak mengerti telah sampai di mana Islam dibawa, apa saja yang harus diperbaiki, kenapa peradaban emas Islam sulit diwujudkan kembali, dan bagaimana Islam harus dipersandingkan dengan (post)-modernitas dan yang semisalnya. Singkatnya, kita tidak tahu misi besar apa yang kita emban, karena Islam tidak menjelma pengetahuan yang mesti dikritisi dan didalami atau nilai yang mesti dikultivasi demi kemaslahatan kemanusiaan, melainkan sebatas manual book cara ritual ini dan ritual itu. Dan kita menjelma robot yang dijebak rutinitas tanpa mengerti kenapa dan bagaimana.

Irfan L. Sarhindi

Pengasuh Salamul Falah

Associate Researcher Akar Rumput Strategic Consulting

Alumni Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Ahmad Syafii Maarif

Post a Comments
blog comments powered by Disqus