Grebeg Suro 2018 Ditutup dengan Ritual Larung Sesaji dan Risalah Doa

Comments 234 Views Views


Grebeg Suro 2018 Ditutup dengan Ritual Larung Sesaji dan Risalah Doa

SIPerubahan - Perhelatan Grebeg Suro 2018 di Kabupaten Ponorogo ditutup dengan Ritual Larung Sesaji dan Risalah Doa di Telaga Ngebel, Kecamatan Ngebel, Ponorogo, pada Selasa (11/09/2018) lalu.

Dalam ritual tersebut, sebanyak 10 tumpeng (atau gunungan) diarak mengelilingi Telaga Ngebel sepanjang kurang lebih empat kilometer. Dua diantara 10 tumpeng itu berukuran besar atau tumpeng raksasa. Sementara delapan lainnya terbilang kecil.

Satu diantara dua tumpeng besar itu merupakan Tumpeng Agung (atau Gunungan Utama) yang berisi beras merah. Tumpeng yang satu ini akan dilarung menggunakan perahu dan ditenggelamkan di tengah telaga yang berlokasi sekitar 25 km dari pusat Kota Ponorogo.

Sementara satu tumpeng besar dan delapan tumpeng kecil lainnya biasanya disebut “Buceng Purak”. Sembilan tumpeng ini akan diperebutkan oleh warga di lokasi. Warga percaya, tumpeng Buceng Purak yang berisi hasil bumi dapat mendatangkan berkah.

"Ya memang berkeliling dulu. Larung Sesaji itu semacam bersih desa," demikian kata Ketua Umum Larung Sesaji Suryadi.

Terpisah Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni juga ikut hadir dalam acara ritual tersebut. Ipong datang bersama istrinya Sri Wahyuni dan beberapa Forpimda (Forum Pimpinan Daerah) serta para Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Ipong menjelaskan larungan Ngebel menceritakan tentang asal muasal Telaga Ngebel. Makanya, Ada dua tumpeng besar yang disediakan.

"Satu tumpeng agung. Satunya lagi tumpeng buceng purak. Tumpeng agung yang berisi beras merah kita larung. Dan satunya untuk perebutan," jelas Ipong.

Menurut Ipong, hal itu menjadi kisah asal muasal Telaga Ngebel dan Pemkab Ponorogo tetap mempertahankannya hingga saat ini. "Agar supaya orang tahu. Orang menghargai legenda seperti ini," tuturnya kembali.

Ipong kembali memaparkan di Bali pariwisata bisa maju karena menghargai tradisi yang ada. Ia pun berkeinginan demikian, sehingga diharapkan pariwisata di Ponorogo terus maju dan berkembang.

"Ujung-ujungnya kan meningkatkan perekonomian. Seperti yang ada sekarang ini. 11 hari acara Grebeg Suro warung makan, toko suvenir dan hotel penuh," jelasnya menambahkan.

Ipong pun mengevaluasi, untuk sarana dan prasarana tempat wisata harus diperbaiki lagi ke depannya. Tujuannya agar turis lokal maupun mancanegara terus berdatangan ke Ponorogo, sehingga tidak hanya Grebek Suro saja, tapi juga di waktu lainnya mereka berwisata di Ponorogo.

Post a Comments
blog comments powered by Disqus