Terkait Mogok Massal Pilot Garuda, Ini Kata Menhub dan YLKI

Comments 31 Views Views


Terkait Mogok Massal Pilot Garuda, Ini Kata Menhub dan YLKI

SIPerubahan - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengharapkan rencana mogok massal yang akan dilakukan oleh Serikat Karyawan Garuda (Sekarga) dan Asosiasi Pilot Garuda (APG) tidak merugikan calon penumpang (konsumen) dalam mendapatkan pelayanan.

"Mogok itu hak serikat pekerja, tapi jangan yang terkait langsung dengan operasional pelayanan Garuda kepada konsumen," tegas anggota pengurus YLKI Sularsi, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat (04/05/2018).

Sularsi menerangkan, Sekarga dan APG mempunyai tanggung jawab kepada konsumen. Jadi kalau melakukan mogok harus dilakukan tanpa mematikan operasional pelayanan.

Sularsi melanjutkan, mogok kerja merupakan alternatif terakhir dan resikonya sangat merugikan konsumen. Karena itu, Sekarga dan APG tidak bisa mengabaikan tanggung jawabnya memberikan pelayanan yang terbaik kepada konsumen.

''Itu artinya mogok yang baik, bertanggung jawab. Pelayanan harus tetap jalan,'' katanya lagi.

Di tempat berbeda, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menanggapi adanya ancaman aksi demo para pilot PT Garuda Indonesia Tbk, terkait beberapa aturan yang dianggap para pilot tidak sesuai.

"Saya minta aturan itu harus kita lihat secara nasional, dengan fungsi Garuda sebagai flag carrier. Jadi, adanya demo ini seyogyanya, jangan kita main demo yang artinya main dengan suatu cara yang memaksakan kehendak," kata Budi Karya.

Berkenaan dengan solusi yang diberikan, Budi meminta agar pilot dan pihak perusahaan untuk mendahulukan dialog ketimbang demo dengan mogok yang dikhawatirkan mengganggu layanan penerbangan.

"Garuda ini flag carrier, harus kita jaga dengan baik. Apapun harus dibicarakan dahulu," imbaunya.

Sementara itu, Direktur Operasional Garuda Indonesia Triyanto Moeharsono menuturkan, sejauh ini berbagai aksi yang dilakukan para pilot tidak mengganggu layanan penerbangan pada masyarakat.

"Semua masih normal dan aman. Terkait tuntutan atau pun ketidakpuasan masih kita bicarakan dengan direksi perusahaan dan kita serahkan juga ke pemerintah," ungkap Triyanto.

Untuk diketahui, aksi mogok pilot Garuda dilatarbelakangi dengan menurunnya kinerja perusahaan yang ditunjukkan dengan menurunnya tingkat ketepatan dari 89,51 persen pada 2016, menjadi 86,4 persen di 2017.

Kemudian dilanjutkan dengan anjloknya harga saham Garuda Indonesia per 25 April ke posisi Rp292, dari sebelumnya sebelumnya Rp338 di kuartal IV tahun lalu.

Berikutnya adanya perubahan sistem penjadwalan kru yang diimplementasikan pada November 2017, sehingga menyebabkan sejumlah penerbangan mengalami delay serta penundaan. Kondisi ini masih terus terjadi hingga sekarang.

Tak berhenti di situ, para pegawai Garuda pun meminta dilakukannya pergantian direksi dengan mengutamakan profesionalisme yang sebaiknya, berasal dari internal Garuda Indonesia, karena lebih memahami permasalahan yang terjadi di dalam perusahaan.

Post a Comments
blog comments powered by Disqus