Kerja Sama Indonesia-Ceko di Sektor Industri Saling Menguntungkan

Comments 40 Views Views


Kerja Sama Indonesia-Ceko di Sektor Industri Saling Menguntungkan

SIPerubahan - Pertemuan bilateral antara Menteri Perindustrian RI Airlangga Hartarto dengan Wakil Menteri Perindustrian dan Perdagangan Ceko Vladimir Bratl di Kota Praha, Rabu (02/05/2018) waktu setempat menghasilkan kesepakatan untuk meningkatakan perdagangan kedua negara. Khususnya di sektor industri

Hal itu disebabkan, Indonesia menargetkan peningkatan volume perdagangan antar kedua negara sebanyak dua kali lipat. “Seharusnya kerja sama perdagangan yang terjadi saat ini bisa lebih ditingkatkan,” terang Airlangga melalui keterangan tertulisnya.

Alumni Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada ini menjelaskan, Ceko menjadi mitra dagang Indonesia terbesar keempat di wilayah Eropa Tengah dan Timur setelah Rusia, Ukraina dan Polandia. Selama tahun 2010-2015, total nilai investasi Ceko di Indonesia mencapai 34,35 juta dolar AS.

Sedangkan, periode 2016-2017, investasi Ceko di sektor manufaktur mencapai 499,5 ribu dolar AS untuk tiga proyek yang meliputi industri logam dasar, barang logam, serta mesin dan elektronik.

Menurut pria kelahiran Surabaya 1 Oktober 1962 ini, potensi kerja sama industri kedua negara yang masih berpeluang untuk segera dikembangkan. Antara lain, industri pertahanan, gelas, keramik, pembangkit listrik tenaga air, serta pesawat terbang (komponen dan MRO).

“Kami meyakini kolaborasi Indonesia dan Ceko di sektor industri bisa saling melengkapi dan menguntungkan bagi kedua belah pihak,” ungkapnya.

Selain itu, Menperin menyampaikan, Pemerintah Ceko juga ingin bermitra dengan Indonesia dalam pengembangan industri berbasis mineral. Hal ini sejalan dengan fokus Kemenperin dalam upaya mendorong hilirisasi di dalam negeri agar meningkatkan nilai tambah sumber daya alam lokal.

“Kami telah memfasilitasi melalui pembangunan sejumlah kawasan industri terpadu. Khususnya di luar Jawa,” tuturnya.

Daerah yang dimaksud seperti Kawasan Industri Morowali Sulawesi Tengah, Kawasan Industri Bantaeng Sulawesi Selatan, dan Kawasan Industri Konawe Sulawesi Tenggara.

Selain itu, kedua negara juga sepakat untuk menjadikan masing-masing negara sebagai gerbang masuknya produk dan investasi.

”Indonesia ingin Ceko juga sebagai gerbang untuk pasar Uni Eropa. Sementara Ceko ingin Indonesia sebagai gerbang pasar ke ASEAN,” jelasnya.

Wakil Menteri Perindustrian dan Perdagangan Ceko Vladimir Bratl mengatakan, Ceko mempunyai kekuatan dalam pengembangan pesawat perintis.

Karena itu, Ceko berharap bisa berkolaborasi dengan Indonesia yang mempunyai potensi untuk pengembangan di sektor industri tersebut. Sebelumnya oleh Wakil Menteri Luar Negeri Ceko, Martin Tlapa mengatakan, Ceko sangat terbuka jika ada kesempatan untuk kerja sama dengan Indonesia di sektor industri kedirgantaraan terutama manufaktur pesawat jet.

Pemerintah Indonesia sedang mendorong tumbuhnya industri perawatan dan perbaikan pesawat atau maintenance, repair, and overhaul (MRO). Hal ini disebabkan masih banyak potensi pengembangan sektor ini yang diintegrasikan dengan beberapa bandara di dalam negeri.

Apalagi, industri penerbangan dalam negeri terus berkembang dan mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. Hal ini diindikasikan dengan kenaikan jumlah lalu lintas udara, baik penumpang maupun untuk arus barang.

Pertumbuhan jumlah penumpang udara domestik meningkat rata-rata 15 persen per tahun selama 10 tahun terakhir. Sedangkan jumlah penumpang udara internasional naik hingga sekitar delapan persen dan Indonesia yang juga merupakan negara terbesar ketiga di Asia dalam pembelian pesawat udara setelah Tiongkok dan India. (Sumber foto: Merdeka).

Post a Comments
blog comments powered by Disqus