BPPI Kemenperin Kembangkan Riset Alga Jadi Sumber Energi

Comments 52 Views Views


BPPI Kemenperin Kembangkan Riset Alga Jadi Sumber Energi

SIPerubahan - Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian menjalin kerjasama dengan Algae Biomass and Energy System (ABES) University of Tsukuba, Jepang, yang sudah berpengalaman dalam melakukan riset untuk komoditas alga (atau ganggang) menjadi salah satu sumber energi.

“Pengembangan energi terbarukan ini sesuai agenda 10 prioritas nasional yang tertuang di dalam roadmap Making Indonesia 4.0,” demikian kata Kepala BPPI Kementerian Perindustrian Ngakan Timur Antara dalam keterangan tertulis di Jakarta, baru-baru ini.

Lebih lanjut, Ngakan menjelaskan saat ini ABES sedang mengembangkan pilot plant yang bertujuan untuk menghasilkan biofuel dari ganggang yang bisa dibudidayakan sepanjang musim.  Dalam waktu dekat, juga akan dilakukan studi laboratorium untuk mengoptimalkan alga dengan Palm Oil Mill Effluent (POME).

“Dalam proses produksi untuk menghasilkan minyak kelapa sawit, dihasilkan pula POME. Namun, saat ini dalam jumlah yang besar, POME belum banyak diolah dan hanya menjadi limbah,” katanya lagi.

Sementara POME sendiri merupakan salah satu penghasil gas metan (CH4) yang berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca (GRK) yang berdampak pada pemanasan global, sehingga penanganan POME ini menjadi penting bagi keberlanjutan lingkungan.

Nantinya, POME ini menjadi media dalam budidaya alga di kawasan tropis seperti Indonesia sehingga dapat menghasilkan senyawa bernilai tinggi seperti DHA oil dan biofuel.

Ditinjau dari sisi ekonomi, nilai tambah yang dihasilkan jauh lebih besar ketimbang konversi menjadi biogas. Apalagi, Indonesia menjadi salah satu produsen kelapa sawit terbesar di dunia dengan nilai produksi minyak sawit mencapai 38,17 juta ton pada tahun 2017.

Karena itu, ABES akan bekerja sama dengan Balai Pengembangan Produk dan Standardisasi Industri Pekanbaru (BPPSI), salah satu balai di bawah BPPI yang fokus dalam pengembangan kelapa sawit dan produk-produk sejenis.

“Kami berharap, studi ini akan berhasil dan membawa dampak positif bagi riset energi terbarukan di Indonesia,” tegas Ngakan.

Diberitakan sebelumnya, Menperin Airlangga menerangkan bahwa pemerintah Indonesia sedang melaksanakan langkah-langkah strategis yang ditetapkan berdasarkan peta jalan Making Indonesia 4.0. Salah satunya yaitu Indonesia harus mampu membangun industri manufaktur nasional yang berdaya saing global dengan menerapkan standar-standar keberlanjutan.

Untuk itu, diperlukan penggunaan teknologi terkini khususnya yang berkonsep pada ramah lingkungan. “Kami mengunjungi Fraunhofer, yaitu lembaga riset yang ada di Jerman. Lembaga riset Jerman ini sedang mengembangkan satu jenis alga yang bisa mengkonversi POME menjadi gasoline,” tuturnya menambahkan.

Selanjutnya penemuan itu dinilai dapat menekan emisi gas buang kendaraan dan mengurangi ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM). Hal ini sejalan dengan program yang telah diinisiasi oleh Kementerian Perindustrian, yakni low carbon emission vehicle (LCEV) untuk mendorong industri otomotif di Indonesia memproduksi kendaraan ramah lingkungan.

“Riset terhadap biofuel ini harus dilakukan, karena Indonesia merupakan salah satu penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. Kita juga punya rumput laut. Keduanya sedang dilakukan riset,” paparnya lagi.

Produksi minyak dan gas (migas) nasional terus menurun seiring menipisnya cadangan migas yang dimiliki Indonesia dan minimnya kegiatan eksplorasi di Tanah Air. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyebutkan, cadangan minyak nasional hanya sekitar 3,3-3,6 miliar barel.

Jadi dengan tingkat produksi rata-rata 275-288 juta barel per tahun, apabila tidak ditemukan cadangan minyak yang baru maka cadangan minyak ini akan habis dalam 12 tahun. (Foto: Komoditas alga/ ganggang/ sumber foto: Istimewa)

Post a Comments
blog comments powered by Disqus