Gagasan Cak Nur Terhadap Pembaruan Islam di Indonesia

Comments 74 Views Views


Gagasan Cak Nur Terhadap Pembaruan Islam di Indonesia

SIPerubahan - Prof Dr Nurcholish Madjid (atau yang akrab dipanggil Cak Nur) adalah salah satu tokoh pembaruan pemikiran dan gerakan Islam di Tanah Air. Cak Nur dikenal dengan konsep pluralismenya yang mengakomodasi keberagaman maupun ke-bhinnekaan keyakinan di Indonesia.

Menurut pria kelahiran Jakarta 29 Agustus 2005, keyakinan merupakan hak primordial setiap manusia dan keyakinan meyakini keberadaan Tuhan adalah keyakinan yang mendasar.

Cak Nur pun mendukung konsep kebebasan dalam beragama, namun bebas dalam konsep Cak Nur tersebut dimaksudkan sebagai kebebasan dalam menjalankan agama tertentu yang disertai dengan tanggung jawab penuh atas apa yang dipilih.

Wakil Ketua Dewan Penasehat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia ini meyakini bahwa manusia sebagai individu yang paripurna, dimana ketika menghadap Tuhan di kehidupan yang akan datang akan bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan, dan kebebasan dalam memilih yaitu konsep yang logis.

Sebagai tokoh pembaruan dan cendekiawan Muslim Indonesia, seperti halnya KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Cak Nur sering memberikan banyak gagasan yang dianggap kontroversial, terutama gagasan mengenai pembaruan Islam di Indonesia.

Pemikirannya dianggap mendorong pluralisme dan keterbukaan mengenai ajaran Islam di Indonesia, terutama setelah berkiprah dalam Yayasan Paramadina dengan mengembangkan ajaran Islam yang moderat.

Mantan Rektor Universitas Paramadina ini pernah mengutarakan beberapa ide atau gagasan cemerlang seputar pemilihan umum (Pemilu). Satu setengah tahun menjelang digelarnya Pemilihan Umum 1971, dunia politik Indonesia gempar.

Tepatnya pada awal 1970, Nurcholish Madjid yang saat itu menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam  (Ketum PB HMI) melontarkan sebuah kalimat, “Islam Yes, Partai Islam No”.

Kalimat itu ia sampaikan saat berpidato di acara ‘Halalbihalal’ bersama Gerakan Pemuda Islam (GPI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan Pelajar Islam Indonesia (PII). Cak Nur membawakan pidato berjudul "Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat".

Ya, itulah salah satu buah pemikiran Cak Nur yang lahir pada 17 Maret 1939 atau 79 silam di Jombang, Jawa Timur. Dia adalah anak dari seorang kiai terpandang yang juga salah satu pemimpin Masyumi, KH Abdul Madjid. Setelah melewati pendidikan di pesantren Gontor, Ponorogo, serta menempuh studi kesarjanaan IAIN Jakarta (1961-1968) Nurcholish Madjid melanjutkan studi Doktoralnya di Universitas Chicago Amerika Serikat (1978-1984).

Di Chicago, pemikiran politik Nurcholish semakin memasuki ranah filsafat. Di masa itulah Nurcholish sempat terlibat perdebatan segitiga yang seru dengan Amien Rais dan Mohamad Roem. Semua bermula dari sebuah artikel “Tidak Ada Negara Islam” di Majalah Panji Masyarakat No. 376.

Artikel itu merupakan hasil dari wawancara redaksi Majalah Panji Masyarakat dengan Amien Rais. Lalu, Amien hari mendirikan Partai Amanat Nasional (PAN) dan menjadi Ketua MPR RI. Cak Nur dan Mohamad Roem selanjutnya saling berkirim surat. Melalui surat itulah mereka berdiskusi.

Surat terakhir Cak Nur ke Mohamad Roem dikirim pada 15 September 1983. Surat itu tak sempat dibalas karema Roem meninggal dunia pada 24 September 1983. Jelas, Pak Roem tak sempat membalasnya.

Sepuluh tahun setelah suratnya ke Pak Roem terhenti, nama Cak Nur kembali mewarnai panggung politik. Kali ini bukan lantaran pernyataanya, namun karena dia maju konvensi calon presiden dari Partai Golkar. Konvensi itu digelar untuk mencari calon presiden yang akan diusung oleh Partai Golkar.

Di tengah maju konvensi Partai Golkar, Cak Nur pernah meminta dukungan kepada Partai Keadilan (kini menjadi Partai Keadilan Sejahtera) untuk maju sebagai calon presiden di Pemilu 2004. Hal itu diungkapkan oleh Wakil Ketua Dewan Syuro PKS, Hidayat Nur Wahid.

Saat meminta dukungan itulah, Hidayat Nur Wahid mempertanyakan pernyataan Cak Nur, 'Islam Yes, Partai Islam No'. Kepada Nurcholis Madjid, Hidayat bertanya, "Bagaimana Anda meminta dukungan dari kami yang partai Islam, sementara Anda pernah mengatakan, Islam Yes Partai Islam No?".

Dari sanalah, menurut Hidayat, Cak Nur mengoreksi pernyataanya menjadi 'Islam Yes, Partai Islam Yes'. Hidayat dan sejumlah petinggi Partai Keadilan saat itu sempat terkejut.

Berikutnya, Cak Nur memberikan penjelasan. Kalimat, "Islam Yes Partai Islam No" muncul tahun 1970 saat kondisi partai Islam belum bisa menjadi wahana aspiratif dan harapan bagi masyarakat. Ketika itu partai Islam belum bisa mengemas secara apik bahasa agama ke dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang plural.

Meski begitu Cak Nur melihat PK yang ketika itu kelahirannya dibidani oleh tokoh-tokoh lulusan Eropa dan Timur Tengah, paradigmanya soal Partai Islam berubah. Sehingga selain dari konvensi Golkar, dia pun coba meminta dukungan dari PK untuk maju sebagai calon presiden 2004. Cak Nur kemudian memilih mundur dari konvensi Golkar dan tak pernah lagi maju sebagai calon presiden. (Sumber: Detik).

Post a Comments
blog comments powered by Disqus