Kartini dan Kesejatian Bangsanya


Kartini dan Kesejatian Bangsanya

Respons terbaik dalam menghadapi angkara murka, anomali politik, gonjang-ganjing ekonomi dan kegilaan zaman adalah dengan kejernihan pikir, kelembutan hati, keteguhan karakter, dan cinta kasih.

Inspirasi itu kita dapatkan dari kehadiran sosok dan pemikiran Kartini yang sesungguhnya bisa menjadi kunci memahami dan menjawab problem kita sebagai bangsa hari ini.

Kartini di penghujung abad 19 adalah sosok pemikir muda revolusioner yang melampaui zamannya. Ia mengkritik praktik-praktik feodal yang telah menindas kaum perempuan.

Lebih dalam lagi ia juga menolak sistem liberalisme dan praktik ekonomi kolonial yang merenggut kehormatan dan mengeksploitasi rakyat (jajahan).

Kartini memuji gagasan-gagasan etik dan modern dari Barat, namun ia tak menginginkan bangsa yang dicintainya menjadi Barat. Bagi Kartini, bangsanya harus tetap berpegang teguh pada kepribadian, kesejatiannya sendiri.

Kartini membanggakan sifat-sifat asli bangsanya yang sejatinya agung dan halus.

Kepada Estell ‘Stella’ Zeehandelaar, seorang feminis Belanda yang juga sahabat penanya, Kartini menjelaskan betapa tinggi keindahan dan ketulusan yang dapat didengar dari rakyat bangsanya.

"Kebijaksanaan, kenyataan yang begitu jernih, dinyatakan dengan kata-kata yang sangat sederhana tetapi indah! Kami adalah demikian dekat kepada alam, asal dari segala-segalanya. Filsafat kami bukan pemikiran yang susah payah untuk dimengerti. Kata-katanya sederhana, tetapi betapa indah suara dan iramanya. Makin mendalam aku menyelami jiwa rakyatku, makin yakin aku keagungannya. Pada bangsamu orang-orang bijaksana dan pujangga hanya terdapat di kalangan tertentu, dan kebudayaan juga di klas-klas tertentu. Tetapi rakyat umumnya – bolehlah aku mengatakannya? – adalah kasar ..."

Kartini hidup dan terjepit pada saat berlangsung bentrokan aliran pemikiran feodalisme vs modernisme. Hal ini kerap membuat Kartini muda menjadi galau. Menurutnya arus imperialisme modern yang datang dari Barat, bermuka dua.

Di samping mengakibatkan kemiskinan dan demoralisasi, 'Barat' bagi Kartini juga membawa unsur-unsur yang positif, yakni unsur-unsur modernisme dan pengetahuan, yang merupakan faktor penting bagi kebangkitan dan progresifitas rakyat. Sekaligus, instrumen yang tepat untuk mematahkan kekangan-kekangan adat yang menghambat kemajuan.

Kartini memandang jalan pendidikan, sebagaimana yang menjadi jiwa dari sistem pendidikan modern ala Barat, dapat menjadi solusi untuk memerdekakan dan memajukan bangsanya, khususnya kaum perempuan dan rakyat miskin, untuk keluar dari kekangan, penindasan dan keterbelakangan.

Namun Kartini memahami bahwa betapa pun Barat telah memberikannya banyak apresiasi dan pengetahuan baru, namun struktur dan rantai dominasi kekuasaan Barat adalah sesuatu yang eksploitatif dan deskriminatif.

"Banyak sekali orang Belanda termasuk sahabat yang paling karib, yang bermusuhan terhadap kami. Sebabnya tidak lain hanya karena kami menyamai mereka dalam pengetahuan dan peradaban. Itu dinyatakan dengan cara yang menyakitkan. Aku Belanda, kau Jawa! Atau dengan kata lain: aku yang berkuasa, kau yang dijajah!"

Spiritualitas Kartini

Dalam biografi yang ditulis Sitisoemandari Soeroto (1970), Kartini menyatakan pentingnya spiritualitas untuk menopang diri dan bangsanya. Ia meyakini bahwa sejatinya Allah, Tuhan Semesta Alam, adalah ada di dalam diri sendiri.

Kedamaian adalah ketika mampu mensyukuri kehidupan, alam semesta dan segala isinya yang merupakan kreasi cipta dan cinta Allah SWT.

"Kami merasakan itu pada harumnya kembang dan dupa, pada bunyi gamelan, pada berdesirnya angin di atas pohon kelapa, pada manggungnya burung perkutut, pada desiran pohon padi yang ditiup angin, pada bunyi lesung saat orang menumbuk padi."

Kartini mengajak bangsanya untuk selalu merenung, belajar dan membuka diri terhadap ilmu pengetahuan, namun pada saat yang sama tetap mencari dan dapat menemukan kedalaman dan kekuatan pijakan melalui nilai-nilai kebajikan yang membentuk dan mempersatukan bangsanya.

Kepribadian ala Kartini ini tak hanya mengajak menangkal diri untuk tidak hanyut dalam gelombang kebudayaan 'luar' yang masuk dan berkembang mengikuti sebuah agresifitas 'tren sosial', melainkan juga melatih karakter jiwa untuk menyelami dan menghayati pandangan hidup, keindahan otentik dan spiritualitas bangsanya.

Hening, bertawakal dan bersabarlah dalam menjalani hidup! Kartini menyatakannya dengan, "mengurang-ngurangi, menderita dan berpikir menuju kepada terang. Tidak ada terang, bilamana sebelumnya tidak ada gelap. Mengurang-ngurangi adalah kemenangan sukma atas wadag. Kesepian mengajar untuk berpikir".

Ia dengan demikian hendak menyatakan bahwa, bagaimana pun tertarik kepada dunia modern, ia tak akan dapat lepas dari 'kawruh' sebagaimana hanya dapat dihayati oleh bangsanya yang introspektif dan memberikan arti yang dalam pada simbolik.

Banyak orang hanya dapat melihat bagian luar atau kulit dari sesuatu yang simbolik dan tidak dapat menangkap makna yang terkandung di dalamnya. Dengan memahami esensi maka pemikiran, jiwa dan perasaan, serta tindakan menjadi serasi, seimbang dan penuh cinta. Tidak latah, tak gampang dimanipulasi, apalagi diprovokasi dan dibakar oleh berita-berita hoax yang mengadu-domba dan menganjurkan kebencian.

Kelanjutan dari keserasian diri akan mengantarkan kepada kesadaran untuk guyub dalam semangat kebangsaan dan kemanusiaan. Atau dengan kata lain menjadi seorang nasionalis sekaligus humanis. Inilah kesejatian Indonesia.

Kita saat ini pun juga terhimpit di antara dua arus besar, antara apa yang disebut sebagai 'old politics' dan 'new politics'. Kita berada di persimpangan antara yang transnasional dan yang nasional dan lokal. Kita berada di tengah pusaran politik identitas yang kekanak-kanakan dan energi partikularisme yang begitu provokatif, ekstrem dan konfliktual, eksklusif namun rentan termanipulasi, terpolitisasi. Kita justru saat ini rentan menjadi manusia-manusia palsu.

Berbagai pemikiran dan informasi baru yang datang nyaris tak tercegah harus dapat kita hadapi dengan kejernihan, keluhuran sekaligus keluasan dan kerendahan hati. Di atas semuanya, sebagai satu bangsa yang majemuk, mustahil kita maju dan kokoh dalam melangkah jika lemah, terpecah dan tak punya pijakan bersama.

Melalui Kartini, kita menyadari pentingnya memiliki visi moral dan kemajuan yang berkebudayaan, pandangan hidup dan komitmen pada nilai-nilai sejati, serta kekuatan mental yang kokoh. Bagi seorang yang mengaku dirinya adalah anak bangsa nusantara, jiwanya dipenuhi oleh hikmat kebijaksanaan, rasa cinta, dan solidaritas yang berpihak pada kebenaran, kemanusiaan, keadilan dan persamaan.

Sepintar-pintarnya manusia, jika karakternya lemah, ia tak akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang banyak. Oleh karena itu, wahai para pemimpin, hiduplah bermanfaat, jadilah teladan.

"Aku bangga namaku disebut senafas dengan rakyatku, di sanalah tempatku untuk seterusnya".

Menjadi Indonesia, menjadi rakyat maupun pemimpin di manapun ia berada, jangan tinggalkan karakter kesejatian anda. Itulah pesan cinta dari Kartini untuk bangsanya.

 

Dimas Oky Nugroho

Sumbawa, 21 April 2018

Tulisan ini dikembangkan dari tulisan sebelumnya yang pernah dimuat di Kompas.com dengan judul Desir Cinta Kartini

Post a Comments
blog comments powered by Disqus