Black Panther, Dubois, dan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab


Black Panther, Dubois, dan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

“My name is T’challa, son of T’chaka,” kata putra mahkota Kerajaan Wakanda, penerus ‘lisensi’ kehebatan mistikal the black panther. 135 menit durasinya, menampilkan sosok superhero yang ‘tidak biasa’ untuk ukuran Hollywood. Kehadirannya tidak hanya menawarkan angin segar, mencengangkan kalau boleh dibilang, tetapi juga secara politis cukup ‘radikal’. Christoper Lebron di Boston Review (17 Februari 2018) menggarisbawahi konteks film ini sebagai perlawanan atas ‘white supremacy’ di ‘bawah’ kepemimpinan Trump. Di sini, saya akan berusaha menarik itu lebih jauh hingga ke W. E. B Dubois dan humanisme universal ala Bung Karno dalam sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

Kita mulai dengan Wakanda dan Afrika sebagai latar (utama) cerita. Wakanda diceritakan sebagai negara superkaya yang kekayaannya disembunyikan secara mistikal dengan bantuan vibranium. Citra yang ditangkap oleh dunia luar adalah Wakanda sebagai negara miskin di Dunia Ketiga. Kita bisa melihat ini sebagai bagian dari imajinasi sci-fi, tentu saja, tetapi bagaimana kalau ini bisa ditafsirkan pula sebagai perlawanan terhadap stereotyping? Karena bukankah citra (kebanyakan) bangsa Afrika adalah negara miskin dan terbelakang? Yang dengannya kita berpikir bahwa semua manusia Afrika hidup di bawah garis kemiskinan, dihantui sergapan binatang buas, tidak dapat mengakses pendidikan, kelaparan-kehausan, dipanggang matahari gemurun?

Padahal, sebagaimana Adichie (penulis Afrika yang tinggal di Amerika) bilang (2009), tidak semua orang Afrika hidup di bawah garis kemiskinan, buta aksara, busung lapar, dan buta teknologi. Adalah cara pandang kita, yang cenderung satu-arah, yang membuat kita terjebak stereotyping sekaligus gagal merekognisi narasi sejarah dunia dari sudut pandang lain. Dalam film tersebut jelas sekali bagaimana narasi dunia versi penduduk Wakanda tidak mampu dilihat oleh warga non-Wakanda. Dalam istilah Adichie, warga non-Wakanda terjebak dalam single story.

Namun begitu, kegagalan warga non-Wakanda untuk merekognisi narasi dunia dari kacamata warga Wakanda foreva, secara menarik, disebabkan, salah satunya, oleh pilihan aktif warga Wakanda untuk menutup diri dan membohongi publik. Ada semangat nasionalisme chauvinistik dalam slogan Wakanda first, Wakanda foreva yang membuat mereka memilih diam saja saat bangsa Afrika lain kesulitan. Semangat chauvinistik inilah yang sejatinya coba dikritisi oleh N’Jobu, adik T’Chaka, yang jadi War Dog di Amerika. Bagi N’Jobu, peradaban dan keadilan bagi penduduk Wakanda belum ‘benar’ karena dia abai terhadap keadilan dan peradaban kemanusiaan secara global. N’Jobu boleh jadi, dalam masa persinggahannya di Amerika, merasakan apa yang W. E. B. Dubois sebut sebagai double consciousness: krisis identitas warga Afrika-Amerika (1905).

Secara sederhana, double consciousness didefinisikan sebagai dualisme identitas yang bersifat konfliktual di diri Afrika-Amerika (negro). Di satu sisi mereka merasa bagian dari Afrika, tapi di sisi lain mereka merasa menjadi Amerika (lengkap dengan imajinasi American Dream-nya). Idealnya, dualisme identitas ini jadi unsur pemerkaya, sebagaimana multi-identitas warga Indonesia berdasarkan ras, suku, dan budaya. Tetapi dalam kasus warga Afrika-Amerika, dualisme identitas itu hanya menawarkan penderitaan, diskriminasi, dan ketidakadilan sosial.

Apa pasal? Karena sejak awal Amerika ‘ditemukan’, orang kulit hitam ini diperlakukan hanya sebagai properti, tidak punya hak hidup, hak atas diri sendiri, apalagi hak politis. Mereka dilihat sebagai kelas terendah ras manusia (Phillips, 2010; Ladson-Billings, 1998). Mereka dianggap tidak kompeten, berbahaya, tidak beradab, hyper-sexual, dan kriminal. Sebaliknya, ras kulit putih dianggap lembut, kompeten, dan beradab. Akibatnya, Afrika-Amerika senantiasa mendapat perlakukan rasis dari saudara se-Amerika mereka yang berkulit putih.

Perlu kematian, pergolakan, dan revolusi panjang yang mensyahidkan orang-orang semisal Dubois, Fanon, Martin Luther King Jr., dan bahkan Malcom X untuk perjuangan liberasi dan emansipasi kulit hitam itu terwujud. Perjuangan yang membawa Amerika mensaksi-matai presiden kulit hitam pertama mereka, yang menjabat bahkan dua periode berturut-turut: Barack Obama. Menariknya, film ini tidak hanya merepresentasikan liberasi dan emansipasi kulit hitam, ia juga menawarkan emansipasi perempuan. Jenderal Okoye dan pasukan pengaman raja T’Challa (Dora Milaje) adalah perempuan. Tokoh utama yang menolong sang raja menggagalkan kudeta juga kebanyakan perempuan: Ramonda (Ibunda T’Challa), Nakia (mantan pacar T’Challa), dan Shuri (adik T’Challa). Shuri bahkan, dalam usia masih belia, jadi pemimpin departemen pengembangan teknologi!

Fakta bahwa  film ini dibintangi dan dikerjakan oleh sebagian besar orang kulit hitam, menunjukan adanya lompatan lain dalam industri film di Amerika. Ada itikad ‘hijrah’ sekaligus keberanian untuk mencoba ‘misi bunuh diri’. Kenapa? Karena kita terbiasa melihat film Hollywood didominasi kulit putih. Sebagian dari kita bahkan mungkin hanya bisa merasa nyaman dengan romansa pasangan kulit putih dan bisa mentolerir manusia kulit berwarna di film Hollywood jika mereka bersifat minoritas. Sebagian dari kita juga bahkan mungkin masih terjebak pada definisi cantik yang harus sama dengan putih, langsing, rambut pirang, dan mata biru. Black panther ‘menghancurkan’ semua persepsi itu.

Thus, di akhir film kita melihat T’Challa yang akhirnya membangun suaka di Amerika dan melegitimasi Shuri untuk mengerjakan proyek transfer teknologi dan pengetahuan. T’Challa mengesampingkan semangat nasionalisme chauvinistik leluhurnya dan mengedepankan semangat humanisme yang universal. Walau, harga untuk itu mesti dibayar dengan perang saudara; dibayar dengan kematian Killmonger di hadapan matahari senja Wakanda yang kata ayahnya, paling cantik di seluruh dunia. Revolusi senantiasa meminta martir.

Dan ngomong-ngomong soal nasionalisme chauvinistik dan humanisme universal, syukurlah di Indonesia, kedua nilai itu tidak dikonfrontasikan secara konfliktual. Alih-alih bersinergi secara harmonis. Kita meyakini nasionalisme yang mempersatukan Indonesia foreva, yang berlandaskan Ketuhanan, dilandasi semangat demokrasi, demi mewujudkan keadilan sosial. Tetapi falsafah itu juga ditopang oleh semangat kemanusiaan yang adil dan beradab, yang bersifat universal, yang membuat bangsa Indonesia tidak hanya peduli pada kemerdekaannya sendiri, tetapi, sebagaimana ujar Bung Karno, turut merasa pedih atas penjajahan terhadap bangsa-bangsa lain di seluruh dunia.

 

Irfan L. Sarhindi,

Pengasuh Salamul Falah

Lulusan University College London

Associate Researcher Akar Rumput Strategic Consulting

 

Source gambar: http://www.thecoconet.tv/coco-talanoa/blog/coco-review-fear-of-a-panther-planet/

 

 

 

Post a Comments
blog comments powered by Disqus