Benarkah Kemiskinan Membikin Seseorang Religius?


Benarkah Kemiskinan Membikin Seseorang Religius?

Survey bertajuk Religiosity Highest in World’s Poorest Nations yang dilakukan oleh Gallup pada tahun 2009, dengan sample sebanyak 114.000 responden tersebar di 114 negara, menunjukkan bahwa negara-negara yang pendapatan perkapitanya rendah (negara miskin dan berkembang) memiliki kecenderungan untuk lebih religius. Indikator religiusitasnya dibikin (sangat) sederhana:  apakah menurut mereka, agama itu penting atau tidak? Indonesia sendiri ada di posisi ke-4 dengan 99% warganya meyakini instrumentalitas agama. Urutan nomor 1 ada Bangladesh, disusul Nigeria dan Yaman. Arab Saudi ada di peringkat 35 karena 4% responden di sana bilang agama ndak penting, sedang Turki malah ada di posisi ke-65.

Kajian tersebut menunjukkan adanya korelasi, dan mungkin kausalitas, antara religiusitas dan kemiskinan, walau penjelasan mendetail tentang hal tersebut tidak tersedia secara cukup. Pada kajian Gallup sendiri, salah satu faktor yang mengakibatkan ‘negara paling miskin menjadi negara paling religius’ adalah karena agama membantu masyarakat di tempat tersebut untuk cope dengan struggle yang mereka hadapi. Pernyataan tersebut diangguki Dr. Tom Rees (Miller, The Humanist, 2014) yang beranggapan bahwa di lokasi di mana struktur sosial yang bisa menopang ketumbuhkembangan pemikiran dan peradaban tidak tersedia, orang kemudian lari kepada agama untuk mendapatkan kenyamanan, rasa aman, dan jaminan.

Giles Fraser (The Guardian, 2016) juga meyakini bahwa agama berkembang pesat di tempat di mana kebebasan individual gagal terbentuk; orang-orang miskin ‘berpaling’ kepada Tuhan untuk kedamaian dan kebahagiaan. Semangat komunalitas dan solidaritas dibangun di atas fondasi iman. Riset lain dari National Evolutionary Synthesis Centre, Durham, menyebut: masyarakat yang hidup miskin di slum area, sulit mendapat air dan makanan, cenderung lebih religius (Griffiths, Daily Mail, 2015).

Namun demikian, temuan-temuan tersebut seperti menunjukkan bahwa kemiskinanlah yang mendorong orang untuk lebih erat meng-agama-i keyakinannya masing-masing. Bagaimana jika, yang terjadi juga sebaliknya: bahwa religiusitas juga bisa memiskinkan? Dengan kata lain, penghayatan dan pemahaman kita terhadap agama itulah yang, dalam satu dan lain hal, justru membuat kita miskin? Dalam upaya menguji pertanyaan tersebut, saya akan coba mendekonstruksi nilai-nilai doktriner yang diajarkan dalam (pendidikan) Islam. Karena sepertinya, ada penyempitan makna yang membuat nilai-nilai tersebut kontra-suportif terhadap pemerolehan kekayaan, baik itu secara ‘benar’, apalagi secara buruk.

Misalnya, sikap hidup qanaah (merasa cukup). Sikap hidup ini sejatinya mengajarkan manusia untuk bisa lebih mensyukuri apa yang dimiliki, untuk bisa memilah mana yang dibutuhkan mana yang diinginkan, untuk tahu kadar batasan kebutuhan sehingga tidak melampaui batas (seperti saat makan, misalnya, hanya karena lapar mata). Tidak konsumtif dan berlebih-lebihan. Tetapi kadang, qanaah dimanifestasikan dalam sikap cepat merasa puas dengan apa yang diraih, merasa cukup dengan nilai kurang atau rata-rata, sehingga malas untuk naik dan naik lebih tinggi lagi dalam hal aktualisasi diri. Dalam konteks advertisy quotient, penafsiran sempit atas qanaah itu membuat sebagian dari kita merasa sudah selesai dengan menjadi quitter atau camper sehingga tidak tergerak menjadi climber gunung-gunung tantangan.

Belum lagi zuhud yang ditafsirkan sebagai sikap hidup anti-kaya, seolah jika engkau mau mendalami sufi dan mencapai maqom zuhud, engkau harus semiskin mungkin. Padahal, sejatinya zuhud mengajarkan kita untuk menaruh kekayaan di tangan dan bukan di hati. Kekayaan didapatkan dan digunakan sebagai tools untuk mencapai kebahagiaan hakiki melalui penghambaan total kepada-Nya, memanifestasi dalam melayani kebaikan dan kemanusiaan. Kekayaan bukan goal dari setiap aksi—apalagi satu-satunya goal. Kekayaan tidak dibiarkan menjadi ilah dan penentu-utama kebahagiaan kita. Itulah sesungguhnya semangat zuhud.

Lalu ada sabar dan tawakkal yang ditafsirkan sebagai sikap pasif menunggu perubahan nasib, menunggu ketentuan dari Allah, menanti rezeki. Sehingga kemudian, kita kehilangan girrah untuk aktif dan proaktif membuat perubahan, menjadi aktor kebaikan dan pembangunan. Suatu kali Umar bin Khattab memarahi seorang yang hanya duduk di Masjid dan berdoa ingin rezeki, seolah rezeki akan di-gedebug-kan begitu saja dari langit. Padahal, sabar adalah upaya aktif melawan struggle, pondasi penguat ikhtiar. Sedang tawakkal sendiri pada akhirnya menyempurnakan ikhtiar kita. Bahwa hasil tidak pernah mengkhianati proses. Bahwa tugas manusialah berusaha, tugas Allah memutuskan, dan dengan tawakkal kita ber-husnu dzan pada Keadilan-Nya. Ketenangan itulah yang mengkayakan diri dan hati kita.

Sayangnya, ketika menceritakan kembali sirah nabawiyah, kesan yang lebih sering ditangkap adalah bahwa Rasulullah itu miskin. Kilasan kisah tentang Rasulullah menggadaikan baju zirahnya kepada seorang Yahudi, ketika Umar bin Khattab mendapati matras Rasulullah sekeras batu, ketika Rasulullah dan Aisyah berpuasa karena tidak punya appapun untuk dimakan, begitu melekat dalam hati dan benak kita. Sehingga, kita lupa bahwa Rasulullah ini seorang pengusaha, saudagar besar, seorang eksporter. Rasulullah menjadi, katakanlah ‘miskin’, karena kekayaan yang beliau miliki digunakan untuk kepentingan dakwah dan umat. Dan di sinilah sesungguhnya esensi kekayaan sebagai penyokong religiusitas agar kelak religiusitas itu tidak berbalik memiskinkan kita.

Namun rupanya, ada kecenderungan di sebagian masyarakat Muslim untuk anti-kaya dan mendamba kemiskinan. Justifikasinya adalah adagium ini: kampung akhirat lebih baik ketimbang dunia yang fana dan melenakan ini. Yang dari sana, muncul pemisahan bipolaristik antara ‘perkara duniawi’ dan ‘perkara ukhrowi’ seolah kedua hal tersebut terpisah total satu sama lain. Dengan pengutamaan akhirat, muncul kemudian pemicingan-mata terhadap hal-hal yang dianggap duniawi dan muncul syahwat besar untuk mengerjakan hal-hal yang ukhrowi saja. Dunia tinggalkan saja, mending duduk di Masjid selamanya zikir dan zikir.

Akibatnya ya kita jadi tidak berdaya secara ekonomi karena memang kitanya tidak menjemput. Padahal, perkara duniawi bisa menjadi perkara ukhrowi bergantung kemampuan kita ‘memanipulasi’ niat. Dan bukankah Rasulullah bersabda: kejarlah akhirat seolah engkau akan mati esok, kejarlah dunia seolah engkau akan hidup selamanya? Dan bukankah dengan berdaya secara ekonomi, kita bisa mengekskalasi pemberdayaan (akhlak) umat? Bukankah itu juga dakwah, itu juga amalan akhirat?

Irfan L. Sarhindi

Pengasuh Salamul Falah

Lulusan University College London

Associate Researcher Akar Rumput Strategic Consulting

Source gambar: http://jabar.pojoksatu.id/bogor/2015/09/22/inilah-88-tempat-pelaksanaan-sholat-ied-idul-adha-2015-di-bogor/ 

Post a Comments
blog comments powered by Disqus