Adab Mengundang dan Menjadi Tamu Dalam Islam

Comments 235 Views Views


Adab Mengundang dan Menjadi Tamu Dalam Islam

SIPerubahan - Menyambung silaturahim serta menyambut orang yang berniat untuk menyambung tali silaturahim merupakan keharusan bagi selurut umat muslim. Memulai dan menyambung silaturahim dengan cara bertamu dan menerima tamu memiliki adab-adabnya tersendiri yang teratur dalam aturan Islam.

Bahkan Islam sangat menganjurkan kepada umatnya agar senantiasa memuliakan dan mengormati tamu sebagai bentuk ketakwaan kepada agama dan sebagai bentuk penghormatan terhadap diri sendiri. Karena kualitas pribadi seseorang salah satunya bisa terlihat dari bagaimana ia menerima tamu dan memuliakan seseorang yang bertamu ke rumahnya.

Patut kamu pahami bahwa mengundang dan memenuhi undangan adalah sunnah Rasulullah SAW,  bahkan beliau menganjurkan para sahabat untuk mengadakan dan menghadiri acara seperti kenduri.

Hal itu juga sedikit banyak telah menjadi tradisi masyarakat Indonesia, menjemput atau mengundang saudara, kerabat serta teman kerja untuk menghadiri pertemuan yang diselenggarakan, baik secara formal atau tidak, seperti undangan pernikahan, pengajian, kelahiran, sunatan, menempati kantor baru, dan lain-lain.

Adapun memenuhi undangan menjadi kewajiban yang harus ditunaikan bagi seorang muslim yang diundang selama tidak ada yang melanggar syari’at. Kehadiran seseorang dalam suatu jamuan bisa menjadi salah satu kebanggaan sekaligus kebahagiaan tersendiri bagi orang yang mengundang.

Dalam suasana seperti inilah orang yang hadir akan merasakan pula kebahagiaan shohibul hajah (tuan rumah). Oleh karena itu, adab mengundang dan menjadi tamu juga menjadi penting kamu perhatikan. Terdapat beberapa adab mengundang orang untuk menghadiri suatu jamuan, misalnya:

Tidak diperuntukan hanya untuk orang kaya

Hendaknya tidak mengkhususkan undangan bagi orang kaya saja tanpa mengundang orang-orang miskin. Hal ini termaksud di dalam hadits: “Sejelek-jelek makanan adalah makanan jamuan resepsi, yang mana hanya orang kaya saja yang diundang tanpa mengundang orang miskin.” (HR. Al-Bukhari)

Hendaknya acara jamuan tidak ditujukan untuk berbangga-bangga dan menyombongkan diri, melainkan hanya tujuan untuk mengikuti Sunah dan meneladani Nabi Muhammad SAW. Semisal Nabi Ibrahim AS, di mana Beliau diberi julukan Abu adh-Dhifan (orang yang suka menjamu tamu).

Tidak Undang Orang Yang Ganggu Orang Lain

Seharusnya diniatkan untuk menghadirkan kegembiraan atau kebahagiaan di kalangan orang-orang mukmin, berbagi suka cita, serta kesenangan di hati para saudaranya.  Hendaknya tidak mengundang orang yang tengah berada dalam kendala untuk menghadiri jamuan dan tidak pula mengundang orang yang dikhawatirkan merasa terganggu dengan tamu yang hadir.

Hal ini salah satu bentuk usaha untuk menjauhkan perselisihan antara kerabat muslim, sementara memang mengganggu sesama muslim merupakan perbuatan haram.

Hidangan Makanan

Sepantasnya, tuan rumah dapat menghidangkan makanan secukupnya kepada para tamu, apabila jika terlalu sedikit maka mengurangi nilai kesopanan (kedermawanan), sedangkan hidangan yang terlalu banyak mencerminkan perbuatan riya’ (berlebihan).

Tuan rumah juga tidak boleh cepat-cepat membereskan makanan sebelum tangan tamu diangkat dan selesai menikmati makanannya.

Bagi kamu yang menjadi tamu undangan juga perlu memperhatikan beberapa adab berikut ini:

Jangan Menunda

Hendaknya segera memenuhi undangan dan jangan menunda-nunda. Kecuali bila udzur (alasan tertentu yang dibenarkan), seperti khawatir dapat merusak agama da atau fisik. Kedatangan kita yaitu semata menghormati pengundang sehingga memperoleh ganjaran atas kehadiran tersebut.

Kemudian sepantasnya tidak menunda-nunda untuk datang ke jamuan makan hanya dengan alasan puasa. Bila tuan rumah senang jika kita memakan hidangannya, maka diperbolehkan baginya membatalkan puasa (sunah) yang dilakukannya. Apabila kita tetap ingin melanjutkan puasanya, maka hendaklah segera mendoakan tuan rumah.

Tidak Membedakan

Seharusnya tidak membeda-bedakan kehadiran ketika harus memenuhi dua undangan, terlebih antara undangan dari orang miskin dan orang kaya.

Tentang memenuhi undangan orang miskin, diriwayatkan bahwa Al-Hasan bin ‘Ali RA berjalan melewati orang-orang miskin yang tengah menghamparkan serakan remukan roti di atas tanah dan mereka bersama-sama memakannya. Mereka berkata kepada Al-Hasan bin ‘Ali :

“Mari makan siang bersama kami, wahai cucu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Al-Hasan bin ‘Ali berkata: “Ya boleh, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.” Beliau pun turun dari hewan tunggangannya dan makan bersama orang-orang miskin tersebut.

Seharusnya tidak membedakan ketika harus dua undangan seperti, undangan dari orang yang tempat tinggalnya jauh dengan undangan dari orang yang tempat tinggalnya dekat.

Apabila kita memang mendapatkan dua undangan dan terpaksa tidak bisa datang salah satunya, selayaknya untuk memenuhi undangan yang lebih dulu datang sekaligus menyampaikan permintaan maaf kepada pengundang yang kedua.

Post a Comments
blog comments powered by Disqus