Jadi Habib Itu Berat, Tidak Semua Habib Kuat


Jadi Habib Itu Berat, Tidak Semua Habib Kuat

Baru-baru ini kita dikejutkan oleh protes FPI terhadap TEMPO atas karikatur sosok berjubah yang berbicara dengan perempuan yang mengatakan kalimat yang persis sama dengan Cinta pada Ada Apa dengan Cinta 2. Sosok itu hanya bisa dilihat dari belakang, tetapi kalimat yang ditampilkan jelas: maaf, saya tidak jadi pulang. Sosok ini bisa jadi siapapun, tetapi bagi FPI, terlebih dengan fakta bahwa Imam Besar mereka belum mau pulang, karikatur ini dianggap sebagai penghinaan terhadap Imam Besar mereka—dan TEMPO harus meminta maaf atau mereka akan ‘disikat’.

Berita ini mungkin hanya satu dari sekian banyak headline yang berkaitan dengan (sepak terjang) Habib Rizieq Shihab. Beliau dengan FPI-nya sepanjang tahun lalu kerap muncul di televisi mulai dari Aksi Bela Islam versus Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) hingga tudingan bahwa rupiah terbitan baru mengandung konspirasi palu-arit. Potongan-potongan ceramahnya yang menggebu-gebu dan (tidak jarang) provokatif viral di mana-mana. Habib Rizieq menjadi figur yang dicintai dan dibenci (secara mati-matian). Julukannya sebagai Imam Besar Umat Islam mengindikasikan beliau sebagai salah satu habib paling berpengaruh di Indonesia saat ini.

Sepak terjang dan popularitas Habib Rizieq pernah membuat teman saya bertanya: apa benar dalam Islam habib itu (harus) dimuliakan? Kenapa harus demikian? Apa karena mereka keturunan Nabi Muhammad? Yang lain sempat mengajukan kritik:  bukankah Islam menawarkan egalitarianisme dan kesetaraan derajat, kenapa Nabi justru mewariskan ‘privilege’ yang menimbulkan hierarki? Apalagi, tidak semua habib ternyata mampu mengemban amanah sebagai cucu Nabi: sebagian dari mereka memanfaatkan privilege yang mereka miliki untuk berlaku sewenang-wenang.

Saya ingin memulai dengan menjawab dalil pengistimewaan ahlul bait walau saya tidak yakin ini mencukupi. Pada kitab Riyadus Shalihin, dikutip QS al-Ahzab ayat 33 sebagai justifikasi etika memuliakan anak-cucu Nabi. Imam Jalaludin as-Suyuthi dalam Ihyaul Mayyit Bifadhoili Ahlul Bait mencatat sekumpulan hadits yang mendukung pengistimewaan keturunan Nabi Muhammad, terutama dari garis Ali dan Fatimah, walau sejauh yang saya ketahui, Zainab juga memiliki keturunan perempuan.

Boleh jadi, pengistimewaan terhadap ahlul bait ini adalah cara Allah memberi insentif kepada Nabi Muhammad yang rela berpayah-payah menanggung segala risiko dalam menyebarkan Islam. Semacam bonus. Atau kedua, pengistimewaan tersebut justru merupakan ungkapan terima kasih dan ekspresi rasa cinta kita kepada Sang Nabi. Rasa cinta yang tidak berhenti pada diri Nabi sendiri tetapi juga pada darah-dagingnya. Rasul pernah bersabda bahwa Fatimah adalah bagian dari diri beliau sehingga yang menyakiti Fatimah berarti telah menyakiti beliau. Mencintai Nabi berarti mencintai Fatimah (dan keluarganya hingga akhir zaman).

Namun, kita mesti ingat bahwa Nabi ini seorang yang interospektif, seorang yang adil, seorang yang gelisah akan kemungkinan mendiskriminasi orang lain. Sehingga, walaupun Allah menjaganya dari dosa dan bahwa Allah juga mengistimewakan keluarganya, Nabi tetap bilang bahwa jika Fatimah mencuri, maka potonglah tangannya; jika Nabi bersalah, qishas-lah. Artinya: pengistimewaan itu berada hanya pada tataran etika, tidak sampai pada (kekebalan) hukum. Pengistimewaan itu mewujud sebagaimana sepasang kekasih mengistimewakan satu-sama lain tanpa merasa lebih istimewa.

Dalam hal ini frasa ‘habib’ tidak boleh hanya dipahami sebagai semata ‘kekasih yang dicintai’ tetapi sebagaimana Habib Quraish Shihab berkata, juga sebagai ‘habib yang mencintai’. Seorang habib tidak boleh merasa paling layak dicintai, disayangi, tanpa dia merasa perlu menyayangi dan mencintai umat awam semacam kita ini. Dan dalam semangat mencintai itu kemudian habib harus berani ‘turun ke bawah’ dan berdiri sejajar dengan para awam, persis sebagaimana Nabi duduk sama rendah berdiri sama tinggi dengan Bilal Ibnu Rabbah. Habib tidak boleh baperan, sedikit-sedikit merasa dikriminalisasi, dilecehkan, dinistakan. Karena Nabi sendiri bahkan ketika dinistakan, merasa baik-baik saja.

Tetapi saya mengerti bahwa ditakdirkan memiliki ‘darah Nabi’ itu tidak mudah. Ditakdirkan menjadi orang yang diistimewakan itu tidak gampang. Godaan merasa diri mulia, merasa diri istimewa, akan tinggi. Belum lagi godaan untuk merasa ingin dicintai, dimuliakan, dispesialkan. Seolah kita ini raja-diraja dan sang awam hanya sahaya-sahaya yang nyawanya tidak berharga. Seolah kita tidak layak diperlakukan ‘biasa saja’ oleh orang biasa. Dan godaan itu kadang difasilitasi oleh situasi-situasi eksternal di lingkungan tempat para habib bertumbuh. Di sebuah pesantren tertentu, misalnya, para habib dibebaskan dari segala aturan dan tata tertib: mereka bebas sebebas-bebasnya.

Sebagian habib mampu melewati jebakan dan godaan itu dan menemukan kesejatian beban berat menjadi habib, kemestian merendahkan diri dan hati, menumbuhkan dan memancarkan cinta dan kasih sayang. Tetapi tidak semua habib kuat. Ada pula yang kemudian terjebak dalam pengkultusan itu dan merasa qudus. Beberapa tahun lalu seorang lelaki mabuk dan ngamuk kepada para tamu yang datang ikut merayakan Maulid di pesantren kami. Ketika dia diringkus, dia memaki-maki: saya ini habib, saya ini habib!

Para habib yang belum memenangkan pertarungan atas dirinya inilah yang kemudian melegitimasi konstruksi stereotype para habib sebagai orang yang arogan hanya karena diamanahi darah Nabi. Yang kemudian membuat konstruk hierarki yang ditinggal Nabi bagi masyarakat Islam menjadi kurang egaliter dan cenderung punya peluang besar untuk diskriminatif. Yang sepertinya mengkhianati cita-cita Islam itu sendiri. Bagaimana ia bisa diskriminatif? Misalnya, habib yang merasa harus dimuliakan kemudian kesal ketika secara geer merasa dilecehkan dan kemudian ‘membiarkan’ laskarnya ‘menuntut balas’, memaksa penghormatan. Jadi habib memang sepertinya tidak boleh baperan dan merasa kebal-hukuman.  

Irfan L. Sarhindi

Pengasuh Salamul Falah

Lulusan University College London

Associate Researcher Akar Rumput Strategic Consulting

Source gambar: https://nasional.tempo.co/read/1071802/soal-demo-karikatur-tempo-lbh-masyarakat-demokrasi-belum-utuh 

Post a Comments
blog comments powered by Disqus