Komersialisasi Ibadah dan Islam Kulit Mangga


Komersialisasi Ibadah dan Islam Kulit Mangga

Kebutuhan manusia untuk melaksanakan ritual keagamaan seringkali menumbuhkan permintaan akan produk atau jasa yang bisa dikomersilkan. Ambil contoh: kebutuhan umat Islam untuk berlepas diri dari riba memunculkan industri syariah mulai dari perbankan, asuransi, koperasi, bahkan perumahan. Konsep dasarnya: penghilangan skema bunga (interest) dan penggunaan skema syar’i dengan mengandalkan format-format semisal mudharabah, syirkah, wadi’ah, dan lain-lain. Walau kemudian sebagian dari kita menganggap bahwa transformasi bank/koperasi/asuransi/perumahan konvensional ke syariah itu baru terjadi sebatas pada kulit luar, tidak bisa dipungkiri bahwa ‘syariah-isasi’ model demikian tetap komersil.

Atau, ambil contoh lain: kebutuhan kita untuk menutup aurat dengan pakaian yang bisa kita anggap ‘Islami’. Kebutuhan ini telah mendorong lahirnya industri busana Muslim, rompi-syar’i untuk menghindari terbukanya punggung saat shalat, bahkan hijab dan niqab. Dorongan berhijrah, yang berkecenderungan untuk dibuktikan dengan perubahan gaya berbusana, telah memperkuat fondasi komersil dari industri tersebut. Bahkan hijab hari ini bisa dikategorisasi menjadi syar’i dan tidak syar’i, halal dan haram, seolah memang sejak zaman Nabi hijab telah dikategorisasi seperti demikian.

Industri busana Muslim wabil khusus hijab menjadi industri komersil yang menjanjikan oleh sebab keinginan Muslimah untuk tetap modis dalam ketaatan mereka terhadap agama. Berhijab tidak lagi dianggap sebagai semata bentuk ketaatan terhadap aturan agama tetapi juga sebagai bentuk signature, gaya hidup, dan identitas. Atau contoh lain: bisnis turisme. Seiring meningkatnya ‘kesadaran’ dan ‘kebutuhan’ orang untuk piknik, untuk posting foto sedang travelling, muncul pula kebutuhan paket ‘travelling syariah’, yang memunculkan industri komersil: wisata haji dan umroh serta wisata halal lainnya: mengunjungi jejak Islam di China, menziarahi artefak kejayaan Islam di Eropa, dan lain sebagainya.

Menziarahi jejak Islam di China, Eropa, maupun Amerika mungkin termasuk kebutuhan tersier yang pangsa pasarnya terbatas, tetapi tidak bagi haji dan umroh. Demi berhaji dan umroh, walau ia eksklusif bagi yang istato’a ilaihi sabila, orang bahkan berani menjual sawah atau tanah, menggadaikan mas kawin, menabung selama puluhan tahun sisa berdagang bubur kacang keliling. Alhasil dari segi bisnis: haji dan umroh punya potensi komersil yang luar biasa besar. Saking besarnya: dana abadi umatnya saja ‘bisa’ dipakai untuk pembiayaan proyek infrastruktur pemerintah, tabungan haji jadi salah satu pemasukan besar bagi bank-bank tertentu, serta muncul opsi ONH Plus karena penawaran ONH biasa ternyata tidak mampu menjawab seluruh kebutuhan di pasar.

Ketika jatah jemaah haji mesti dikurangi oleh sebab renovasi Masjid al-Haram, permintaan terhadap haji kemudian ‘teralihkan’ ke permintaan terhadap umrah. Alasannya sederhana: untuk haji harus nunggu bertahun-tahun.  Alhasil, wisata umrah menjadi primadona. Apalagi dibumbui dengan wisata ke Mesir, Turki, bahkan Yunani. Paketnya mulai dari hemat banget sampai lux sejak pesawat hingga pilihan hotel. Saking besarnya industri ini, perputaran uangnya mencapai 12 Triliun setiap tahun (Tirto, 31 Agustus 2016).

Walau memang kemudian, fenomena tersebut mengindikasi proses komodifikasi syariah dan keterhentian ekspresi religiusitas hanya di tataran apa yang Gusdur sebut sebagai ‘formalisme dan simbolisme Islam’ dan apa yang Cak Nun kritisi sebagai ‘Islam kulit mangga’. Atau sederhananya, fenomena pengekspresian Islam secara luaran saja, tanpa sampai pada substansi. Terjadi ketika proses transformasi dan hijrah kita terhenti pada cara berpakaian, pada euforia pengejawahantahan Islam di industri pop, pada pelaksanaan ritual mahdah dan ghairu mahdah, tetapi tidak menyelam lebih dalam ke palung substansi.

Tak heran jika kemudian Masjid al-Haram bertransformasi menjadi subjek latar belakang selfie, dengan para jemaah lebih sibuk terhadap diri mereka sendiri, sehingga lupa bahwa mereka sedang bertamu kepada Yang Maha Kuasa. Oleh-oleh yang kita bawa pulang dan kita pamerkan bukanlah jejak pembasuhan hati oleh air zamzam sebagaimana dialami Nabi, tetapi jejak digital berupa foto-foto. Walau, dalam satu dan lain hal, merekam pertemuan kita dengan Kabah juga bisa mengekspresikan kedalaman cinta kita kepada-Nya.

Tetapi fenomena itu mungkin belum seberapa ketimbang kasus pencucian uang dan penipuan yang dilakukan oleh First Travel dan (baru-baru ini) Abu Tour. First Travel menipu sekira 58.682 jemaahnya dan mengantongi lebih dari 848 milyar. Abu Hamzah, pemilik Abu Tour, diduga membawa kabur 1,8 triliun uang jemaahnya. Keduanya memberikan iming-imingi umrah harga murah, sama-sama pamer gaya hidup mewah yang tidak sejalan dengan religiusitas dan ibadah yang mereka komersilkan, yang mereka jual-belikan. Belum lagi kalau kita ingat bagaimana politisi PKS menggunakan ayat al-Qur’an sebagai kode untuk korupsi, bagaimana bahkan pengadaan al-Qur’an juga dinodai dengan tindakan korup.

Namun sayangnya, tuduhan ‘penodaan agama’ tidak dilayangkan kepada mereka, setidak-tidaknya, tidak semasif tuduhan pada seorang Muslimah yang atas dasar nurani kemanusiaan memelihara anjing-anjing jalanan; pada seorang politikus yang keceletot lidah ngutip al-Maidah; pada selebritis yang mengalami kegelisahan batin sehingga buka hijab. Tidak. Pada pebisnis agama ini bahkan ada kecenderungan untuk ‘memaklumi’, menganggap itu seolah bukan ‘dosa’ dan penistaan yang berat. Dan korban-korban penipuan diminta sabar, ikhlas, dan tawakal. Tidak pula kejahatan ini direspon oleh demo ber-mars teriakan takbir.

Pada titik inilah relevan untuk mengetengahkan kegelisahan Bung Karno yang berkata, “Coba Tuan menghina si miskin, makan haknya anak yatim, memfitnah orang lain, musyrik di dalam Tuan punya fikiran atau perbuatan, maka tidak banyak orang  yang akan menunjuk kepada Tuan dengan jari seraya berkata: Tuan menyalahi Islam. Tetapi coba Tuan makan daging babi, walau hanya sebesar biji asam pun dan seluruh dunia akan mengatakan Tuan orang kafir! Inilah gambarnya jiwa Islam sekarang ini: terlalu mementingkan kulit sahaja, tidak mementingkan isi.”

Irfan L. Sarhindi

Pengasuh Salamul Falah

Lulusan University College London

Associate Researcher Akar Rumput Strategic Consulting

Source gambar: https://beritagar.id/artikel/berita/lagi-lagi-dugaan-penipuan-umrah-rugikan-rp1-triliun

Post a Comments
blog comments powered by Disqus