Islam Kita Mengandung Kidung dan Azan


Islam Kita Mengandung Kidung dan Azan

Dua-tiga hari ini kita disibukkan dengan polemik penistaan agama, dengan objek penistaan adalah Islam dan masyarakat Muslim, dengan terduga pelaku, Sukmawati, dengan modus operandi berupa (pembacaan) puisi berjudul ‘Ibu Indonesia’. Terlepas dari sejauh mana kita kredibel menafsir puisi, sejauh mana kita paham aturan-main alegori dan metafora, banyak dari kita meyakini bahwa puisi tersebut mengandung unsur penistaan karena ia mempertentangkan sekaligus merendahkan martabat cadar dibanding konde, azan ketimbang kidung, kultur Nusantarawi ketimbang syariat Islam.

Protes dan kecaman, uniknya, tidak hanya datang dari kalangan Muslim Perkotaan, seperti bagaimana Ustaz Felix Siauw menyuruh Sukmawati belajar syariat Islam dulu dan bukannya berpuisi. Tetapi juga dari kantong-kantong Muslim tradisionalis seperti PWNU Jawa Timur yang melayangkan surat terbuka keberatan atas puisi yang dianggap menciderai kebersamaan dan persatuan. Sukmawati kemudian dilaporkan ke kepolisian oleh sejumlah pihak mulai dari yang mewakili komunitas Muslim 212 bahkan sebagian kalangan Nahdliyin.

Bagi saya pribadi, puisi Sukmawati ini adalah bagian dari jalan-panjang proses pencarian beliau yang tidak selalu harus kita setujui. Bahwa bagi beliau konde lebih bagus ketimbang cadar ya sah-sah saja, sebagaimana saya tidak bisa melarang Anda yang meyakini celana cingkrang adalah kewajiban syar’i. Cuma memang, puisi tersebut dideklamasikan pada situasi yang boleh jadi, kurang tepat. Pasalnya, suasana kebatinan  masyarakat (Muslim) Indonesia saat ini belum siap untuk dikonfrontasi dengan sudut-pandang yang ‘terasa’ tendensius tersebut. Kita baru selesai bertengkar oleh hal serupa, kita tidak butuh untuk dipertengkarkan dengan hal serupa lagi. Bangsa ini butuh jeda menarik-nafas cukup panjang; butuh pembelajaran.

Dan pembelajaran tersebut ternyata tidak hanya terletak pada kedewasaan untuk menerima sudut pandang yang berbeda, tetapi juga pada stereotype yang dilekatkan, atau yang muncul, ketika kita mendengar frasa: syariat Islam. Dikutip dari NU Online, baik Hasan Basri Marwah maupun KH. Ng. Agus Sunyoto menilai puisi Ibu Indonesia sebagai sebuah produk sekolah kolonial yang melihat syariat Islam dengan stigma negatif. Yang belakangan malah menyebut Sukmawati seperti orang Marhaen melihat Masyumi. Dan ini mungkin mengingatkan kita pada sejarah panjang pergulatan nasionalisme dan religiusitas (kadang ditambah dengan komunisme) dalam peletakan dan pengkohan falsafah bangsa kita.

Walau sebetulnya, stigma negatif terhadap syariat Islam tidak melulu produk sekolah kolonial. Adalah diskursus Islam radikal pasca 9/11, dikultivasi oleh media, yang kemudian membawa kita pada narasi polarisasi Islam menjadi moderat dan radikal. Yang belakangan, ‘kebetulan’, biasanya dilekatkan-diidentikkan dengan Islam Politik, sedangkan Islam Politik seringkali menaruh ‘syariat Islam’ sebagai salah satu tujuan pergerakan. Dengan watak ‘radikal Muslim’ yang dianggap provokatif, literalis, single-minded, dan intoleran, syariat Islam sering dilihat sebagai ‘pintu masuk’ ketidakadilan sosial bagi masyarakat non Muslim; atau bahkan masyarakat Muslim non-golongan radikal—kelompok-kelompok minoritas seperti Syiah.

Stigma negatif itu kiranya yang ‘terasa’ ketika Sukmawati mempertentangkan cadar dengan konde, kidung dengan azan, syariat Islam dengan khazanah budaya Indonesia yang ‘jauh lebih cantik, kreatif, dan beragam’. Padahal, kita tahu bahwa hal-hal tersebut sebetulnya tidak perlu dipertentangkan. Kesemuanya merupakan partikel-partikel kecil dari dua anasir pembentuk identitas Muslim Indonesia: religiusitas dan nasionalisme. Yang pertama membumikan kesadaran mengimplementasikan ajaran Islam; untuk menjadikan ‘kesalehan’ sebagai goals nasional, ditopang oleh kebijakan-kebijakan politik dan pendidikan. Yang kedua menawarkan proteksi atas kultur-kultur yang dibangun dan diwariskan selama berabad-abad.

Dan penyebaran Islam di Indonesia memang merangkul kedua unsur tersebut. Religiusitas dan nasionalisme diakomodasi sehingga fatwa ‘hubbul wathon minal Iman’ menjadi begitu populer. Sehingga peperangan di Surabaya itu dipekiki ‘Allahu Akbar’. Sehingga pesantren mengadopsi aksara pegon dengan mengakomodasi tulisan Arab tetapi menggunakan bahasa Jawa, Sunda, bahkan Indonesia sebagai bentuk perlawanan atas hegemoni pendidikan kolonial. Dan kita juga melihat bagaimana sinergi atas religiusitas dan nasionalisme telah mendorong lahirnya akulturasi dan kontekstualisasi. Misalnya, masjid berarsitektur Hindu, wayang bermantra kalimasada, syair lir ilir, pelarangan memotong sapi di Kudus, bahkan tradisi sarungan.

Dengan kata lain: Islam kita sebetulnya mengandung unsur kidung dan juga azan. Keduanya memiliki nuansa keindahan sendiri-sendiri. Bahkan irama azan di kita beragam coraknya: tidak selalu merupakan cover dari irama azan Mekah-Madinah. Singkatnya, kedua hal tersebut saling merangkul dan membentuk watak Islam moderat dan adaptif. Hasilnya: kita menjadi Muslim yang tidak alergi terhadap demokrasi, kita ‘terlatih’ untuk melihat titik-temu antara Islam yang kita yakini dengan realitas zaman, kebutuhan, dan kultur.

Thus, boleh jadi puisi Ibu Indonesia ini berangkat dari kegelisahan Sukmawati melihat penguatan Arabisasi Islam. Yang beliau asumsikan rentan membuat kita lupa pada kecantikan Ibu Indonesia. Kecemasan beliau pada formalisme ajaran Islam sehingga pengekspresian Islam ‘selesai’ pada tataran pengenaan apa yang diyakini sebagai simbol-simbol Islam. Sehingga, walau Guntur Soekarnoputra mengklaim pemikiran Sukmawati tidak mewakili pemikiran klan Soekarno, kecemasan Sukmawati sebetulnya ada kesamaannya dengan ‘Islam Sontoloyo’-nya Soekarno.

Bung Karno sudah sejak awal terkenal dengan kegelisahan dan pencarian akan Islam yang katakanlah, ‘liar’. Menurut M. Nur Arifin, bahkan cendekiawan sekelas Agus Salim saja kerap ‘lelah’ meladeni pertanyaan-pertanyaan yang Bung Karno ajukan. Dalam pelbagai pidatonya, Bung Karno kerap mendorong upaya ijtihad agar khazanah pemikiran Islam tidak mandeg dan berhenti pada tataran formalisme dan simbolisme. Dan di antara kegelisahan beliau adalah kegelisahan ihwal pendialogan ajaran Islam dengan kultur Nusantara yang saripatinya adalah Pancasila.

Tetapi di sinilah kita. Terlepas dari anggapan bahwa polemik ini bertujuan untuk mengaburkan berita keterlibatan Puan Maharani dalam kasus korupsi e-ktp dan bahwa PDI-P lebih memilih untuk mendorong Sukmawati meminta maaf ketimbang menjadi bamper, yang disebut belakangan memang pada akhirnya secara terbuka meminta maaf. Muhammadiyah mengajak semua Muslim untuk memaafkan. Semua orang pernah khilaf, pernah berbuat blunder. Tinggal balik lagi kepada kita: mampukah kita meneladani Nabi Muhammad dalam hal maaf-memaafkan?

Irfan L. Sarhindi

Pengasuh Salamul Falah

Lulusan University College London

Associate Researcher Akar Rumput Strategic Consulting

 

Source gambar: https://www.merdeka.com/peristiwa/mendesak-sukmawati-klarifikasi-puisi-ibu-indonesia-agar-tak-jadi-polemik-panjang.html 

Post a Comments
blog comments powered by Disqus