Film 212: The Power of Love Sampaikan Pesan Cinta Perdamaian Dalam Dakwah

Comments 218 Views Views


Film  212: The Power of Love Sampaikan Pesan Cinta Perdamaian Dalam Dakwah

SIPerubahan - Film ‘212: The Power of Love’ menyampaikan pesan cinta perdamaian dengan misi dakwahnya.

Menurut Ketua MUI Pusat Bidang Seni dan Budaya KH Achmad Cholil Ridwan, pesan perdamaian dan cinta di dalam film tersebut sangat luar biasa. Ada hal-hal yang sangat mencitrakan Indonesia sekali.

Karakternya sangat Indonesia, kearifannya sangat Indonesia dengan semangat kebersamaan. Cholil menyebut ada sebuah adegan dalam film yang begitu menyentuh, seperti saat mereka melakukan perjalanan dari Ciamis sampai ke Jakarta.

“Pesan perdamaian yang sifatnya universal tidak disekat ajaran apapun juga. Kebersamaan, kecintaan yang sangat luar biasa, betapa saya sangat terharu. Film ini tidak hanya perlu ditonton untuk umat Islam, tapi untuk seluruh anak bangsa Indonesia,“ papar Cholil ketika jumpa pers nonton bareng ‘212: The Power of Love’ bersama 100 ulama yang tergabung dalam MUI Pusat di  Studio CGV Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa (15/05/2018) malam.

Sementara itu, film yang dibintangi Fauzi Baadilla ini sudah memiliki 300 ribu penonton dalam waktu enam hari. Selain meningkatnya jumlah penonton, jumlah bioskop yang menayangkan film tersebut juga bertambah. Sebelumnya hanya 68 layar yang menayangkan namun saat ini tercatat 142 layar bioskop di Tanah Air menayangkan film ‘212: The Power of Love’.

Sekadar informasi, film ‘212: The Power of Love’ mengisahkan tentang pergulatan batin Rahmat seorang jurnalis media terkemuka, yang terjebak mengikuti long march sekelompok warga di sebuah kampung di Ciamis menuju Jakarta untuk menghadiri aksi 212.

Salah satu peserta long march adalah ayahnya seorang ulama desa yang memiliki paham berseberangan dengan Rahmat. Berbeda dengan ayahnya, Rahmat menganggap aksi 212 dan aksi-aksi sebelumnya merupakan gerakan politik yang menunggangi umat Islam untuk mengambil kekuasaan.

Sikap sinis ini tidak berubah meskipun Rahmat ikut dalam long march tersebut. Karena harus menemani ayahnya yang sebenarnya sedang sakit. Perjalanan long march akhirnya berubah menjadi perjalanan spiritual dan nostalgia bagi Rahmat untuk berdamai dengan masa lalunya dan dengan ayahnya.

Satu persatu kejadian demi kejadian yang ditemui dalam perjalanan meruntuhkan kebencian Rahmat kepada ayahnya, dan pandangan yang skeptis terhadap Islam.

Film 2’12 The Power of Love’ telah menghiasi layar bioskop Tanah Air sejak 9 Mei 2018. Begitu tayang, film ini langsung membetot perhatian publik. Para penonton pun harus mengantri guna mendapatkan tiket masuk. Ini isyarat, film yang menawarkan spirit persatuan ini menarik perhatian dan keingintahuan publik.

Post a Comments
blog comments powered by Disqus