Wisnu HP dan Ikhtiar Mengangkat Wisata Desa

Comments 136 Views Views


Wisnu HP dan Ikhtiar Mengangkat Wisata Desa

SIPerubahan - Jawa Timur khususnya Kabupaten Ponorogo tak hanya punya pesona alam dan pantai yang luar biasa, namun kekayaan budayanya juga menarik untuk digali. Dari sanalah, seniman muda Wisnu HP ingin mengembangkan potensi kearifan wisata lokal Ponorogo sekaligus melestarikan budaya asli Ponorogo.

Wisnu mengatakan Ponorogo terkenal dengan Reog Ponorogonya. Namun terlepas dari hal itu banyak sekali potensi yang bisa dimunculkan. Sebagai konsultan percepatan desa wisata beberapa tahun ini, dirinya sebisa mungkin membantu mengangkat budaya lokal beberapa desa, yang mana agenda rutin itu berkonsep festival atau perayaan.

“Dengan perayaan ini kita mencoba menggali beberapa lokal jenis yang dimiliki oleh desa-desa itu. Karena desa-desa Ponorogo itu mempunyai karakter yang variatif. Bicara tentang festival, di sini kita menemukan konsep gotong royong secara nyata. Karena selama ini hanya sebatas slogan atau wacana,” ungkap Wisnu HP, di Diskusi Kopi Jakarta, baru-baru ini.

Beberapa dari hasil yang ditelurkan oleh Founder Pemuda Hebat Ponorogo tersebut yaitu memperkenalkan pariwisata Desat Broto. Menurut Wisnu, Desa Broto mempunyai obyek wisata alam yang masih asri.

“Yang menarik di Ponorogo itu ada Desa Broto. Desa Broto itu 32 kilometer arah selatan dari Ponorogo. Ternyata mereka punya air terjun, goa, terasering pertanian dan ini sangat indah sekali,” ungkap Wisnu sambal tersenyum.

Selain itu, Wisnu kembali menjelaskan, ia juga pernah mempromosikan ‘Tulung Organik Festival’. Festival itu, kata Wisnu, sangat bagus karena mengimbau warga Ponorogo secara tidak langsung untuk hidup sehat dengan menanam padi non kimiawi. Karena selama ini, masyarakat lebih suka menggunakan zat kimia seperti pestisida untuk menanam padi. Padahal, padi yang berasal dari zat kimia itu tidak dianjurkan oleh ahli pertanian maupun pakar kesehatan. 

“Kemarin saya diminta untuk datang di kelopok tani Desa Tulung di 35 KM arah barat Ponorogo, mereka punya padi organik dan tentang hal-hal organik. Karena selama ini orang tergantung dengan pupuk-pupuk kimia. Maka kita membuat terobosan dengan membuat ‘Tulung Organik Festival’,” tuturnya.

Yang lebih menarik lagi, masih dari penuturan Wisnu, ia bersama timnya pernah membuat festival ucapan rasa syukur kepada Tuhan dengan konsep yang menarik. Yang awalnya hanya diikuti oleh 2 orang kemudian berkembang menjadi puluhan hingga ratusan orang saat ini yang mengikutinya.

“Di situ ada dua atau tiga orang kalau syukuran membawa ayam terus ucapkan syukur dan dimakan di situ. Saya meminta perwakilan RT itu bagaimana jika 10 orang dan tersaji 120 ayam tadi. Terus kita kembangkan seperti kayak di Tulung tadi. Kalau khusus di sini ngarak ayam sebagai ucapan rasa syukur. Akhirnya berkembang. Terus di situ ada Reog dan beberapa kesenian lainnya yang ditampilkan,” jelasnya menutup pembicaraan.

Biodata:

Nama: Wisnu HP.

Kelahiran: Ponorogo, 24 Maret 1983.

Pendidikan: Tahun 2004 mendaftarkan sebagai mahasiswa Institut Seni Indonesia Surakarta di bidang Seni Tari.

Beberapa karya yang pernah dihasilkan:

- Terlibat film Tari Opera Jawa dengan sutradara Garin Nugroho, dan beberapa karya tari dari koreografer Hery Lentho, Eko Suprianto, Mugiono Kasido.

- Pendiri Art Sabuk Janur.

Post a Comments
blog comments powered by Disqus