Ini Dia Surat RA Kartini kepada Sahabatnya, “Selamat Hari Kartini”

Comments 260 Views Views


Ini Dia Surat RA Kartini kepada Sahabatnya, “Selamat Hari Kartini”

SIPerubahan - Hari Kartini diperingati masyarakat Indonesia setiap 21 April. Demikian juga besok pada 21 April 2018. Kumpulan pemikiran RA Kartini memang sangat mengagumkan, jauh melebihi pemikiran orang-orang di zamannya.

Karena itu, Raden Ajeng (RA) Kartini diangkat menjadi Pahlawan Kemerdekaan Nasional oleh Presiden Pertama RI Soekarno. Soekarno pun mengeluarkan Kepres RI No. 198 Tahun 1964 yang menetapkan bahwa RA Kartini merupakan Pahlawan Kemerdekaan Nasional, ketetapan itu dikeluarkan pada 2 Mei 1964.

RA Kartini yaitu putri Bupati Jepara, RM Adipati Ario Sosroningrat dan seorang selir bernama Ngasirah, lahir pada 21 April April 1879. Setelah melahirkan pada 13 September 1904 silam, dia meninggal empat hari kemudian pada tanggal 17 September 1904.

Selanjutnya, Komposer WR Supratman mengabadikan Kartini menjadi lagu nasional berjudul “Ibu Kita Kartini”. Buah pemikirannya terungkap melalui surat-surat kepada sahabat bulenya. Berikut Kumpulan pemikiran RA Kartini yang dikirim melalui surat ke beberapa sahabatnya si perempuan Barat.

Cuplikan Surat RA Kartini kepada Sahabatnya ini diambil dari buku berjudul ‘Satu Abad Kartini 1879 -1979’ terbitan Pustaka Sinar Harapan dengan penyusun Aristides Katoppo dkk.

"Jalan kehidupan gadis Jawa itu sudah dibatasi dan diatur menurut pola tertentu. Kami tidak boleh mempunyai cita-cita. Satu-satunya impian yang boleh kami kandung ialah, hari ini atau besok dijadikan istri yang kesekian dari seorang pria. Saya tantang siapa yang dapat membantah ini. Dalam masyarakat Jawa persetujuan pihak wanita tidak perlu. Ia juga tidak perlu hadir pada upacara akad nikah.

Ayahku misalnya bisa saja hari ini memberi tahu padaku: Kau sudah kawin dengan si anu. Lalu aku harus ikut saja dengan suamiku. Atau aku juga bisa menolak, tetapi itu malahan memberi hak kepada suamiku untuk mengikat aku seumur hidup tanpa sesuatu kewajiban lagi terhadap aku. Aku akan tetap istrinya, juga jika aku tidak mau ikut.

Jika ia tidak mau menceraikan aku, aku terikat kepadanya seumur hidup. Sedang ia sendiri bebas untuk berbuat apa saja terhadap aku. Ia boleh mengambil beberapa istri lagi jika ia mau tanpa menanyakan pendapatku. Dapatkah keadaan seperti ini dipertahankan, Stella?".

(Surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar, 6 November 1899).

"Mengapa kami ditindas? Itu membuat kami memberontak. Mengapa kami harus mundur? Mengapa sayap kami harus dipotong? Tak lain karena tuduhan dan fitnah orang-orang kerdil yang berpandangan picik. Untuk memuaskan orang-orang macam itulah kami harus melepaskan cita-cita kami. Andaikan betul-betul perlu, benar-benar tidak dapat dielakkan, kami akan tunduk. Namun kenyataannya tidak demikian. Segala-galanya berkisar pada pendapat umum. Semua harus dikorbankan untuk itu. Dikatakan: Orang akan bilang ini atau bilang itu, kalau kami lakukan apa yang kami lakukan dengan seluruh jiwa kami. Dan siapakah orang-orang itu? Dan untuk orang-orang macam itu kami harus menekan keinginan kami, harus membunuh cita-cita kami, dan mundur kembali ke alam gelap."

(Kartini, 1901)

"Gadis itu kini telah berusia 12,5 tahun. Waktu telah tiba baginya untuk mengucap selamat tinggal pada masa kanak-kanak. Dan meninggalkan bangku sekolah, tempat dimana ia ingin terus tinggal. Meninggalkan sahabat-sahabat Eropa-nya, di tengah mana ia selalu ingin terus berada.

Ia tahu, sangat tahu bahkan, pintu sekolah yang memberinya kesenangan yang tak berkeputusan telah tertutup baginya. Berpisah dengan gurunya yang telah mengucap kata perpisahan yang begitu manis.

Berpisah dengan teman-teman yang menjabat tangannya erat-erat dengan air mata berlinangan. Dengan menangis-nangis ia memohon kepada ayahnya agar diijinkan untuk turut bersama abang-abangnya meneruskan sekolah ke HBS di Semarang. Ia berjanji akan belajar sekuat tenaga agar tidak mengecewakan orang tuanya.

Ia berlutut dan menatap wajah ayahnya. Dengan berdebar-debar ia menanti jawab ayahnya yang kemudian dengan penuh kasih sayang membelai rambutnya yang hitam. 'Tidak!' jawab ayahnya lirih dan tegas. Ia terperanjat. Ia tahu apa arti 'tidak' dari ayahnya. Ia berlari. Ia bersembunyi di kolong tempat tidur. Ia hanya ingin sendiri dengan kesedihannya. Dan menangis tak berkeputusan.

Telah berlalu! Semuanya telah berlalu! Pintu sekolah telah tertutup di belakangnya dan rumah ayah menerimanya dengan penuh kasih sayang. Rumah itu besar. Halamannya pun luas sekali. Tetapi begitu tebal dan tinggi tembok yang mengelilinginya."

(Surat RA Kartini kepada Nyonya Abendanon)

"... dan kami yakin seyakin-yakinnya bahwa air mata kami, yang kini nampaknya mengalir sia-sia itu akan ikut menumbuhkan benih yang akan mekar menjadi bunga-bunga yang akan menyehatkan generasi-generasi mendatang."

(Surat R.A. Kartini kepada Ny Abendanon 15 Juli 1902)

"Andaikata aku jatuh di tengah-tengah perjalananku, aku akan mati bahagia, sebab bagaimanapun jalannya telah terbuka, dan aku telah ikut membantu membuka jalan itu yang menuju kepada kemerdekaan dan kebebasan Wanita Jawa

Aku masih melihat senyumnya yang membuat raut mukanya bercahaya ketika ia berkata: "Ah, ibu, aku mau hidup 100 tahun. Hidup ini terlalu pendek. Pekerjaan banyak sekali menunggu. Dan sekarang aku bahkan belum boleh memulai."

"Teman-teman saya di sini mengatakan agar sebaiknya kami tidur saja barang 100 tahun. Kalau kami bangun nanti, kami baru akan tiba pada jaman yang baik. Jawa pada saat itu sudah begitu majunya kami temukan, seperti apa yang selalu kami inginkan."

(Surat RA Kartini kepada Stella Zeehandelaar, 6 November 1899)

"Sahabat-sahabat ayah yang berbangsa Eropah - ini saya ketahui lama kemudian - telah dengan susah payah mencoba mempengaruhi orang tuaku agar mengubah keputusannya untuk memingit aku yang begitu muda dan begitu penuh gairah hidup ini.

Tapi orang tuaku tetap teguh dengan keputusannya. Dan aku tetap dalam kurunganku. Empat tahun yang panjang telah kutempuh dalam kungkungan empat tembok yang tebal tanpa sedikit pun melihat dunia luar. Bagaimana aku dapat melaluinya, aku tak tahu lagi. Aku hanya tahu bahwa itu MENGERIKAN.

"Ketahuilah bahwa adat negeri kami melarang keras gadis2 keluar rumah. Ketika saya berusia 12 tahun lalu saya ditahan di rumah; saya mesti masuk tutupan, saya dikurung di dalam rumah seorang diri sunyi senyap terasing dari dunia luar. Saya tiada boleh keluar ke dunia itu lagi bila tiada serta dengan seorang suami, seorang laki-laki yang asing sama sekali bagi kami, dipilih oleh orang tua kami untuk kami, dikawinkan dengan kami, sebenarnya tiada setahu kami."

(Surat RA Kartini kepada Zeehandelaar, 25 Mei 1899).

(Dari Berbagai Sumber).

Post a Comments
blog comments powered by Disqus