Nilai Tukar Rupiah Melemah, Siapa yang Salah?

Comments 165 Views Views


Nilai Tukar Rupiah Melemah, Siapa yang Salah?

Kurs rupiah atas dolar Amerika Serikat pada perdagangan hari ini, Rabu (09/05/2018), spot dibuka melemah 33 poin ke 14.085 Sementara itu, nilai tukar rupiah berakhir melemah 51 poin atau 0,36 persen di Rp14.052 per dolar AS, seiring pergerakan IHSG pada penutupan perdagangan Selasa (08/05/2018).

Bahkan, sepanjang hari ini, rupiah terus bergerak melemah. Yang mana  nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka menguat tiga poin atau 0,02 persen ke level Rp14.004 per dolar AS. Sedangkan, kurs rupiah menyentuh posisi Rp14.036 per dolar AS berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini, Selasa (08/05/2018).

Data yang diterbitkan BI pagi ini terpantau menempatkan Jisdor di Rp14.036 per dolar AS, terdepresiasi 80 poin atau 0,57 persen dari posisi Rp13.956 pada Senin (07/05/2018).

Yang lebih sedih pada Senin (07/05/2018) rupiah sempat tembus Rp 14.000 per dolar AS. Kalau tidak ada intervensi, mungkin sudah mendekati Rp14.500 atau bahkan Rpl5.000 per dolar AS? Apa yang membuat rupiah terus melemah? Benarkah penyebabnya adalah faktor eksternal, khususnya ekonomi Amerika Serikat yang mulai membaik seperti yang dikatakan oleh para pejabat kita?

Pelemahan rupiah disebabkan karena capital outflow. Cadangan devisa kita turun terus, dari 131,98 miliar dolar AS pada akhir Januari 2018 menjadi 128,06 miliar dolar AS pada akhir Februari 2018, dan turun lagi menjadi 126  miliar dolar AS pada akhir Maret 2018. Dalam dua bulan terjadi penurunan cadangan devisa sebesar 6 miliar dolar AS.

Banyak pengamat mengatakan, penurunan ini disebabkan karena BI melakukan intervensi untuk mempertahankan kurs rupiah. Ini pernyataan misleading. Cadangan devisa turun pada Februari dan Maret 2018 karena neraca pembayaran kita mengalami defisit. Sedangka,  penggunaan dolar AS untuk intervensi rupiah hanya sebagian (kecil) saja dari penurunan cadangan, devisa tersebut.

Neraca pembayaran merupakan lalu lintas devisa masuk atau keluar Indonesia. Neraca pembayaran defisit berarti terjadi capital outflow, permintaan terhadap dolar AS terus naik, mengakibatkan dolar AS menguat. Sebaliknya, kalau neraca pembayaran surplus berarti terjadi capital inflow, permintaan terhadap rupiah meningkat, dan kurs rupiah menguat

Mengikuti definisi IMF (International Monetary Fund), neraca pembayaran terdiri dari tiga komponen: 1. transaksi berjalan (current account); 2. transaksi modal (capital account); dan 3. transaksi finansial (financial account). Transaksi berjalan Indonesia mengalami defisit berkepanjangan sejak triwulan IV/2011 hingga kini transaksi berjalan tahun 2017 defisit 1,7 persen dari PDB dan tahun ini diperkirakan akan melebar serta bisa mencapai 2,2 persen dari PDB.

Kalau defisit transaksi berjalan ini tidak bisa ditutupi oleh transaksi modal dan transaksi finansial, maka neraca pembayaran akan defisit, dan rupiah akan terdepresiasi. Tahun 2015, transaksi modal dan transaksi finansial secara keseluruhan belum bisa menutupi defisit transaksi berjalan sehingga neraca pembayaran mengalami defisit 1,1 miliar dolar AS, dan kurs rupiah anjlok hingga tembus Rp 14.000 per dolar AS.

Tahun 2016 dan 2017, transaksi modal dan finansial mengalami surplus besar sekali, salah satu sebabnya karena Tax Amnesty (TA), sehingga neraca pembayaran mengalami surplus besar, masing-masing 12,1 miliar dolar AS dan 11,6 miliar dolar AS. Tetapi, surplus dua tahun terakhir ini tidak berdampak signifikan terhadap penguatan rupiah. Mungkin karena cash infow dari TA tidak dikonversi ke rupiah sehingga tidak terjadi penguatan kurs rupiah.

Data neraca pembayaran triwulan 1/2018 belum keluar, dan rencananya Bank Indonesia akan mengumumkan pada 11 Mei yang akan datang. Melihat tekanan rupiah yang cukup dahsyat pada tiga bulan terakhir ini, hampir dapat dipastikan neraca pembayaran triwulan 1/2018 akan defisit lagi. Dari uraian di atas terlihat jelas, mengingat transaksi berjalan selalu defisit, kurs rupiah dan neraca pembayaran sangat tergantung dari transaksi modal dan transaksi finansial.

Ketergantungan ini mencerminkan struktur atau fundamental ekonomi Indonesia saat ini sangat lemah, tidak seperti yang digembar-gemborkan oleh para pejabat terkait yang mengatakan fundamental ekonomi kita bagus. Kalau fundamental ekonomi ini tidak berubah secara drastis, maka intervensi rupiah akan sia-sia.

Bahkan lambat laun kondisi ini bisa memicu krisis neraca pembayaran (balance of payment crisis) alias krisis niliai tukar (currency crisis). Krisis nilai tukar biasanya didahului dengan capital inflow yang besar sekali, seperti yang terjadi di 2016 dan 2017, kemudian disusul dengan capital outflow yang juga besar seperti yang terjadi sekarang.

Alasannya, capital inflow yang masuk ke sektor keuangan memicu kenaikan harga (inflasi)pada aset keuangan, yang tercermin dari kenaikan indeks saham (dan yield obligasi) yang berlebihan. Ketika harga aset keuangan dinilai terlalu tinggi, maka terjadi profit taking dan capital outflow: kurs rupiah melemah.

Kalau kondisi ini bersifat kronis, intervensi tidak akan ada gunanya, lambat laun rupiah bisa terdepresiasi tajam dan memicu krisis nilai tukar. Jadi, permasalahan utama ekonomi dan nilai tukar kita saat ini terletak di sektor riil, yaitu defisit transaksi berjailan berkepanjangan.

Tetapi BI yang terkena getahnya, disalahkan atas anjloknya rupiah. Kemungkinan BI akan merespons dengan menaikkan suku bunga acuan untuk menjaga kurs rupiah yang mana bahkan bisa mempercepat krisis ekonomi.

(Sumber: Prof Dr Anthony Budiawan, Managing Director Political Economy and Policies Studies).

Post a Comments
blog comments powered by Disqus