Mahathir Mohamad Menang, Malaysia Siap Negoisasi Ulang dengan Tiongkok

Comments 69 Views Views


Mahathir Mohamad Menang, Malaysia Siap Negoisasi Ulang dengan Tiongkok

SIPerubahan - Para investor asal Tiongkok yang menanamkan modal di Malaysia kemungkinan akan menghadapi masalah bila Mahathir Mohamad memenangkan pemilu.

Pemerintah Negeri Jiran nampaknya akan menegosiasikan kembali beberapa kesepakatan dengan Tiongkok, mantan perdana menteri Mahathir Mohamad mengatakan pada Kamis (10/05/2018), hanya beberapa jam setelah koalisinya mengambil alih kemenangan pemilihan yang mengejutkan terhadap pemerintah Najib Razak.

Mahathir mengatakan, pemerintahnya kemungkinan akan mengubah beberapa kebijakan yang diterapkan oleh koalisi Barisan Nasional (BN) yang berkepanjangan, termasuk pajak barang dan jasa yang sangat tidak begitu populer.

Pria berusia 92 tahun itu mengatakan dalam konferensi pers bahwa dirinya mendukung inisiatif Belt and Road China (BRI). Namun, Mahathir menegaskan, negaranya memiliki hak untuk merundingkan kembali beberapa perjanjian dengan pemerintah Beijing, jika diperlukan.

"Kami tidak memiliki masalah dengan itu (BRI), kecuali tentu saja kami tidak ingin melihat terlalu banyak kapal perang di daerah ini karena kapal perang (Tiongkok) menarik kapal perang lainnya (milik Malaysia)," katanya.

Boleh dikatakan, banyak negara berusaha mendapatkan keuntungan dari rencana Tiongkok membangun infrastruktur bernilai ratusan miliar dolar AS. Tetapi, di sisi lain banyak negara juga khawatir akan menjadi terlalu tergantung terhadap Tiongkok.

Di Malaysia sendiri, investasi Tiongkok memicu kekhawatiran terkait kesetaraan dan kedaulatan perekonomian negeri itu. Mahathir mengambil contoh  Country Garden Holdings Co. Ltd yang berencana menanamkan investasi sebesar 100 miliar dolar AS (atau sekitar Rp 1.377 triliun) di Kota Johor. Perusahaan ini akan membangun hunian berupa apartemen yang dihargai hingga 1 juta ringgit (atau sekitar Rp 3,5 miliar per unitnya).

"Di Malaysia tak ada cukup orang kaya untuk membeli apartemen mewah seperti itu, sehingga yang akan masuk adalah orang asing," ujar Mahathir.

"Tak ada negara yang senang jika orang asing membanjiri negara mereka," lanjutnya.

Selanjutnya, Mahathir juga mengambil contoh Sri Lanka yang disebutnya "kehilangan banyak tanah" karena tidak bisa mengembalikan hutang dari Tiongkok. Tahun lalu pemerintah Sri Lanka memberi sebuah perusahaan kongsi yang dimotori sebuah BUMN Tiongkok hak pengelolaan pelabuhan Hambata di wilayah selatan negeri itu.

Hak pengelolaan hampir satu abad itu terpaksa diberikan sebagai ganti pemutihan hutang Sri Lanka terhadap Tiongkok.

"Banyak orang tidak suka dengan investasi Tiongkok. Kami ingin membela hak rakyat Malaysia. Kami tak ingin menjual negeri ini kepada perusahaan asing yang akan mengembangkan seluruh kota," tegas Mahathir.

Sekadar informasi, Tiongkok memang menjadi negara dengan investasi terbesar di Malaysia dengan kontribusi tujuh persen dari total investasi asing tahun lalu bernilai 54,7 miliar ringgit. (Sumber: New York Times).

Post a Comments
blog comments powered by Disqus