Surabaya Wani Cuk!

Comments 105 Views Views


Surabaya Wani Cuk!

SIPerubahan - Orang Surabaya dan Jawa Timur tersentak ketika rentetan ledakan bom yang menghancurkan minggu pagi waktu ibadah saudara-saudara kristiani. Bagaimana tidak kaget, Surabaya selama ini dikenal sebagai “melting pot” bertemunya aneka budaya, suku, ras, bahkan agama, terkoyak oleh aksi teror yang cukup singkat namun mengagetkan.

Kekagetan semakin memuncak takkala di malam harinya bom kembali meledak di Sidoarjo, tak jauh dari perbatasan Surabaya. Detak jantung warga Surabaya belum normal, bom kembali mengagetkan meledak di pintu masuk Poltabes Kota Surabaya. Rentetan peristiwa ini pun melahirkan kegeraman, kemarahan, dan tentu kebencian yang memuncak pada aksi teror dan pelaku teror.

Karakter orang Surabaya pada khususnya dan Jawa Timur pada umumnya memang terbuka, inklusif, dan apa adanya. Tak heran jika kemudian gerakan melawna aksi teror viral di sosial media dengan sejumlah diksi yang meramaikannya, seperti “Surabaya Wani”, Teroris Jancuk, dan Suroboyo Gak Wedi Cuk. Diksi-diksi perlawanan dari arek-arek Suroboyo atas ulah teroris yang menaikkan detak jantung warga kota yang selama ini berjalan normal-normal saja.

Saya yakin sampai kasus ledakan di Poltabes Surabaya, detak jantung warga Surabaya dan Jawa Timur pada umumnya masih berjalan cepat, nak turun, dan menghela nafas, menunggu apa yang kira-kira terjadi lagi. Takut? Jangan dibayangkan itu bentuk ketakutan dan jangan dibayangkan itu bentuk keresahan, detak jantung arek-arek suroboyo hanya bentuk keheranan mengapa bisa kotanya yang selama ini aman dan damai tiba-tiba “rusak” oleh rentetan bom.

Sebagai melting pot, Surabaya itu termasuk kota terbuka dan hampir menjadi etalase bagi siapa saja yang ingin berkarya di kota ini. Lalu Mengapa Surabaya? Boleh jadi karena terorisme itu buta dan tak punya hati, ujungnya ya tidak pandang bulu. Terorisme mengincar tempat yang luput dari perhatian aparat negara. Mereka meneror lokasi yang selama ini memang tidak pernah diperkirakan sebelumnya. Apalagi si pelaku ya orang Surabaya. Jadi trenyuh.

Bagaimanapun Surabaya dan Jawa Timur adalah wilayah yang selama ini aman-aman saja.

Masyarakatnya plural, tidak  homogen pada satu paham atau agama tertentu. Meksipun Islam menjadi agama mayoritas, namun kultur Islam di Surabaya dan Jawa Timur kental dengan kultur NU yang lebih moderat dan humanis. Hal ini tak lepas Ini karena Surabaya mempunyai ikatan sejarah yang kuat dengan NU. Kita harus ingat di Surabaya NU lahir.

Tidak heran jika sejauh ini Surabaya dikenal bersih dari radikalisme. Kultur NU mengakar kuat di masyarakat muslim Surabaya dan Jawa Timur menjadi benteng dari paham radikal. Apalagi diperkuat dengan sifat kepribadian masyarakatnya. Arek Suroboyo iku pemberani, nekat, dan pantang menyerah. Lihat saja dari bahasa dan dialek mereka sehar-hari, praktis jauh berbeda dengan bahasa Jawa di daerah lainnya.

Dibandingkan bahasa Jawa mataraman yang halus dan priyayi, bahasa Surabaya memang cenderung kasar, namun di situ bobot egaliternya lebih kuat. Selain itu boso Suroboyoan juga menujukkan sikap tegas, lugas, dan terus terang tanpa basa basi.

Boleh jadi langkah aksi teror masuk wilayah Surabaya untuk menunjukkan eksistensi bahwa terorisme juga “berani” memporakporandakan masyarakat yang keras seperti halnya Surabaya. Sebaran teror para teroris ini ingin menjatuhkan mental dan psikologis masyarakat Indonesia dengan memilih Surabaya yang notabene selama ini steril dan aman berhasil mereka ramaikan dengan tror bom. Tapi, banyak pihak yakin Surabaya tak mudah ditalukkan. Surabaya iku wani! Bahkan respons publik menguat dengan dukungan warganet dengan memainkan diksi atau slogan "Kami Tidak Takut".

Diksi ini setidaknya menaikkan lagi kepercayaan dan keberanian masyarakat bahwa aksi teror ini pengecut, bahkan penakut. Jika berani mestinya mereka berangkat ke medan perang sesuai ajaran Islam bahwa dakwa bisa dilakukan dengan perang jika situasi dan medannya memang tengah terjadi perang. Namun, di negara damai seperti Indonesia, dakwahnya pun harus dengan cara damai. Apalagi kalaupun situasi peran, Rosullulah tidak mengajarkan perang melibatkan anak-anak. Teror bom di Surabaya yang melibatkan anak-anak jelas bukan ajaran Islam.

Harus diakui slogan Kami Tidka Takut, Suroboyo Wani, memicu dan menjadi motivasi bagi warga untuk bangkit dan yakin aksi teror ini gagal menakut nakuti mereka. Tentu, tidak cukup hanya termotivasi dan bangkit. Publik harus waspadan dan hati-hati terhadap menguatnya faham radikal yang sedikit banyak telah mencederai Islams ebagai agama santun dan damai. Kuncinya saat ini adalah bagaimana pemerintah mengungkap kasus ini. Lebih dari itu bangsa ini harus siaga untuk bersama-sama memerangi radikalismen agama, terutama terhadap Islam yang selama ini dijadikan tameng untuk mensahkan aksi-aksi teror tersebut. Surabaya Wani mestinya menjadi gerakan awal untuk memerangi radikalisme tersebut. Wani?

Penulis: Yohan Wahyu

Post a Comments
blog comments powered by Disqus