Anwar Ibrahim Bebas Hari Ini, Kisah Menarik Pejuang Reformasi dan Diktator

Comments 79 Views Views


Anwar Ibrahim Bebas Hari Ini, Kisah Menarik Pejuang Reformasi dan Diktator

SIPerubahan - Politisi Malaysia Anwar Ibrahim dikabarkan akan dibebaskan hari ini Selasa (15/05/2018) WIB. Putri Anwar, Nurul Izzah memastikan kebenaran tersebut. Perdana Menteri Malaysia yang baru saja terpilih, Mahathir Mohamad, menyatakan seluruh langkah untuk membebaskan Anwar, bekas musuh bebuyutan yang menjadi rekan politiknya dalam pemilihan umum (Pemilu) Malaysia pekan lalu ini, sudah dilakukan termasuk pengampunan dari Yang Dipertuan Agung Raja Malaysia.

Untuk diketahui, Anwar dijebloskan ke dalam penjara dengan tuduhan sodomi pada 2015 lalu. Tuduhan itu dibantah Anwar bersama pendukungnya sebagai motif politik.

Nurul Izzah menyatakan pengampunan dari Raja Malaysia diupayakan dengan dasar gugurnya keadilan. Izzah memastikan ayahnya, Anwar Ibrahim, pendiri Partai Keadilan Rakyat (PKR), akan bebas.

Dalam perjanjian dengan koalisi pendukungnya di Pemilu Malaysia, Pakatan Harapan, Mahathir akan menjadi perdana menteri interim dan akan memberikan takhtanya kepada Anwar setelah bebas dari penjara.

Pendiri koalisi Pakatan Harapan itu semula dijadwalkan bebas pada Juni mendatang. Namun, berdasarkan konstitusi Malaysia, seorang narapidana tidak bisa berpartisipasi dalam politik hingga jangka waktu lima tahun setelah bebas kecuali mendapatkan pengampunan dari raja.

Jika sudah mendapat pengampunan dari raja, pejuang reformasi Malaysia itu kemudian harus mengikuti pemilihan umum sela guna mendapatkan satu kursi di parlemen, syarat untuk menjadi seorang perdana menteri.

Hubungan Anwar Ibrahim dengan Mahathir Mohamad

Mantan pemimpin oposisi Malaysia Anwar Ibrahim sebentar lagi akan dibebaskan dari penjara. Pendiri Partai Keadilan Rakyat (PKR) tersebut bakal menghirup udara bebas berkat bantuan Mahathir Mohamad, yang baru saja terpilih sebagai Perdana Menteri Malaysia. Mahathir pun telah mengakui bahwa dialah yang berperan menjebloskan mantan Deputi Perdana Menteri-nya itu ke dalam hotel prodeo pada 1998.

Mahathir dilantik sebagai pemimpin Malaysia, Kamis (10/05/2018), sebagai ketua koalisi oposisi Pakatan Harapan yang menumbangkan koalisi berkuasa sebelumnya Barisan Nasional, pimpinan Najib Razak. Dia berusaha meminta pengampunan raja, Yang Dipertuan Agung Malaysia untuk membebaskan Anwar Ibrahim. Upaya itu pun berhasil.

Boleh dikatakan, hubungan kedua tokoh politik Malaysia tersebut merupakan sebuah cerita yang menarik, sepanjang tiga dekade. Sebuah keniscayaan politik, yang diyakini bahwa tak ada musuh yang abadi. Mahathir dan Anwar menjadi bukti nyata, kala lawan menjadi kawan di saat kepentingan mereka sama.

Di usianya yang ke-92 tahun, Mahathir menjadi pemimpin tertua di dunia. Dia kembali menjadi sorotan dunia setelah kembali memenangkan Pemilu Negeri Jiran. Dia kembali ke kursi yang pernah dia perintah dengan tangan besi selama 22 tahun.

Mahathir tidak menyembunyikannya. Ketika menggelar konferensi pers pertama usai kemenangannya, dia pun mengingatkan rekan jurnalis. “Ingat, dulu saya adalah diktator,” tegas Mahathir dalam pidato pertamanya setelah dilantik sebagai perdana Menteri.

Dalam manifesto politik saat menerima pinangan menjadi calon perdana menteri dari kubu oposisi, Pakatan Harapan, Mahathir meneken kesepakatan untuk menyerahkan jabatan itu kepada Anwar Ibrahim.

Adapun Anwar yang kini berusia 70 tahun adalah putra seorang portir rumah sakit, yang mengenyam pendidikan di sebuah sekolah top Malaysia. Namanya menjulang sebagai pemimpin pemuda Islam dan menjadi anggota parlemen di usianya yang masih relatif muda yaitu pertengahan 30-an tahun.

Mahathir mengajak Anwar untuk bergabung dengan United Malays National Organisation (UMNO), partai utama pemerintah pada 1982. Anwar dianggap orang yang tepat untuk menjembatani kesenjangan antara citra nasionalis Melayu dengan aspirasi Islam.

Sejak saat itu Anwar melejit bak meteor. Mahathir pun mendapuknya menjadi Deputi Perdana Menteri 1993. Dia juga berperan sebagai Menteri Keuangan. Sejak itu, dia terlihat sebagai calon pengganti mentornya.

Namun pada 1998, keduanya berselisih soal cara mengatasi krisis keuangan di Asia, dan gagal. Anwar dipecat lalu meluncurkan gerakan “Reformasi”. Dia bertekad mengakhiri pemerintahan berbasis ras dan patronase UMNO, dan mengajak puluhan ribu pendukungnya turun ke jalanan.

Mendapat perlawanan dalam kepemimpinannya, Mahathir menggunakan Undang-Undang Keamanan Internal dan menahan lebih dari 100 politisi, akademisi dan aktivis sosial dari kalangan oposisi. Anwar pun dibui. Tuduhannya sodomi, yang dianggap kejahatan di Malaysia, serta korupsi.

Persidangan Anwar menjadi tontonan. Jaksa mengeluarkan bukti kasus bernoda air mani yang diduga digunakan Anwar saat berhubungan seks dengan dua ajudan laki-lakinya.

Anwar baru dibebaskan pada 2004 lalu. Dia kembali berpolitik sebagai pemimpin oposisi, kali ini multietnis di sekitar Islamis, dan reformis sosial. Mahathir telah pensiun dan pada 2009 yang menjadi perdana menteri adalah Najib Razak.

Pada 2015, tuduhan sodomi kembali dilontarkan kepada Anwar. Dia kembali dibui selama lima tahun, dengan tuduhan menyodomi bekas ajudan. Anwar dan para pendukungnya membantah tuduhan yang disebut bermotif politik sebagai upaya Najib mengakhiri kariernya.

Politik pun berbalik pada tahun lalu. Anwar tampak bersalaman dengan Mahathir. Keduanya sepakat untuk mengesampingkan segala perbedaan untuk bersatu mengalahkan Najib yang didera skandal 1MDB serta koalisi Barisan Nasional. Mereka pun menggelar kampanye “Save Malaysia”.

Beberapa pendukung Anwar terkejut. Mereka mengira Anwar berpura-pura. Tapi ada pula yang menyebut itu sebagai sebuah langkah cerdik. “Perlu waktu bertahun-tahun bagi kami untuk mencapai titik ini. Jika Anda tidak pandai atau cukup bijaksana untuk menggabungkan semua kekuatan, kami mungkin kehilangan kesempatan merebut kekuasan dari BN,” kata putri Anwar, Nurul Izzah.

Mahathir pun berjanji untuk membebaskan Anwar bila dia menang. Dia pun bertekad mundur dan membiarkan Anwar menjadi perdana mentri. “Tak mudah baginya untuk menyetujui saya di partai oposisi. Itu akan menjadi perannya, kecuali dia di penjara,” kata Mahathir.

Tampak seperti sebuah jalinan kemitraan yang mustahil. Bagaimana pun menimbulkan pertanyaan tentang apa yang akan terjadi pada Gerakan Reformasi yang dimulai Anwar. Gerakan yang menyatukan para politisi, pemimpin masyarakat sipil dan aktivis yang disalahkan Mahathir, orang yang pernah mereka sebut sebagai “Maha Firaun” tersebut.

Istri Anwar Ibrahim, kini Deputi Perdana Menteri Malaysia Wan Azizah Wan Ismail, mengaku paham akan kritik dari pendukung Gerakan Reformasi. “Saya paham. Mereka pernah menjadi korban,” kata Wan Azizah sebelum pemilu Malaysia.

“Saya paham bagaimana perasaan mereka karena anak-anak kami, keluarga kami telah menetapkan syaratnya sejak awal.”

Jumat (11/05/2018) lalu, Mahathir menyatakan pengampunan yang diberikan kepada Anwar adalah pengampunan penuh. “Yang berarti tidak hanya diampuni, tetapi juga segera dibebaskan dan boleh berpartisipasi penuh dalam politik,” kata Mahathir.

Saat ditanya peran apa yang bakal diberikan kepada Anwar di kabinet? Mahathir menjawab, “Apakah Anwar akan menjadi bagian dari kabinet atau tidak akan diputuskan bila saatnya tiba,” tandasnya.

 

Post a Comments
blog comments powered by Disqus